Sejarah Valentine's Day

Oleh Sejarahku

Setiap 14 Februari, hampir semua orang di dunia merayakan Hari Valentin - atau Hari Kasih Sayang atau valentine's Day. Pada hari ini, biasanya sepasang kekasih akan saling bertukar permen, bunga atau hadiah apa saja. Hadiah-hadiah tersebut di Indonesia seringkali hanya dipahami sebagai tanda rasa cinta atau sayang. Padahal, di balik perayaan itu, terdapat sejarah panjang yang merentang hingga sebelum tarikh Masehi.

Walaupun kita tahu bahwa Februari telah lama menjadi bulan yang romantis, namun nama perayaan itu sendiri masih terselubung misteri. Kita hanya tahu bahwa sejarah Hari Valentin tidak dapat dipisahkan dari sejarah Santo Valentine, santo pelindung yang tercatat dalam daftar santo atau orang-orang suci Gereja Katolik Roma. Walaupun terkait erat dengan Vatikan, namun Hari Valentin sebenarnya mengandung sisa-sisa tradisi Romawi Kuno. Lantas, siapakah sebenarnya Santo valentine itu dan bagaimana ia bisa bersangkut-paut dengan tradisi purba tersebut?

Gereja Katolik Roma hingga kini mencatat ada tiga orang santo yang memiliki nama Valentine atau Valentinus. Ketiga-tiganya adalah martir, yaitu orang yang mengorbankan diri demi menegakkan agama Nasrani.

Sebuah legenda menyebutkan bahwa Valentine adalah seorang pendeta yang berkarya selama abad ke-3 Masehi di Roma. Ketika Kaisar Claudius II memutuskan bahwa para bujang - laki-laki yang tak menikah - ternyata dapat menjadi prajurit yang lebih baik daripada laki-laki yang beristri dan berkeluarga, ia melarang para pemuda menikah. Valentine, yang menyadari bahwa dekrit tersebut tidak adil, menentang Claudius dan terus menyelenggarakan pernikahan secara rahasia. Ketika tindakan itu terungkap, Claudius menitahkan agar Valentine dihukum mati.

Cerita lain menyebutkan, Valentine boleh jadi gugur ketika mencoba membantu umat Kristiani untuk lolos dari berbagai penjara di Roma di mana mereka sering dipukuli dan disiksa. Menurut sebuah legenda yang lain, Valentine sebenarnya adalah orang yang pertama kali mengirimkan salam "valentine". Ketika berada di dalam penjara, ia jatuh cinta kepada seorang gadis - mungkin putri salah satu sipir - yang mengunjunginya selama masa penahanan. Sebelum meninggal, diyakini bahwa ia menulis sepucuk surat, di mana ia membubuhkan tulisan "Dari Vanelntine-mu" - sebuah ungkapan yang masih digunakan hingga sekarang.

Walaupun kebenaran di balik berbagai legenda Valentine masih belum terungkap dengan jelas, cerita-cerita tersebut jelas menekankan citranya sebagai orang yang simpatik, heroik, dan, yang paling penting, romantis. Tidak mengejutkan bahwa pada Abad Pertengahan di Eropa Valentine menjadi salah satu santo paling populer di Inggris dan Perancis.

Walaupun sebagian orang percaya bahwa Hari Valentine dirayakan pada pertengahan Februari untuk memperingati kematian atau pemakaman Valentine - yang mungkin terjadi pada sekitar 270 Masehi - ada juga yang mengklaim bahwa Gereja Katolik Roma boleh jadi telah memutuskan merayakan Hari Valentine pada pertengahan Februari dalam rangka "mengkristenkan" perayaan pada Festival Lupercalia. Pada masa Romawi Kuno, Februari adalah permulaan resmi musim semi dan dianggap sebagai saat untuk melakukan penyucian. Diselenggarakan ritual di mana rumah-rumah dibersihkan dengan cara disapu dan seluruh ruangan kemudian ditaburi garam dan sejenis gandum.

Lupercalia, yang dimulai pada pertengahan Februari, tepatnya pada tanggal 15, adalah sebuah festival kesuburan yang dipersembahkan untuk Faunus, dewa Romawi untuk pertanian. Festival ini juga dipersembahkan bagi Romulus dan Remus, pendiri Roma. Untuk memulai festival, anggota-anggota ordo Luperci akan berkumpul di gua keramat di mana bayi Romulus dan Remus dipercaya dirawat oleh seekor serigala betina bernama Lupa. Para pendeta tersebut kemudian akan menyisikan seekor kambing untuk kesuburan dan seekor anjing untuk penyucian.

Para pemuda mengiris kulit jangat (belulang) kambing tersebut menjadi beberapairisan, mencelupkannya ke dalam darah persembahan lalu berjalan di jalanan umum seraya mengibaskan irisan daging kambing tersebut kepada para wanita dan juga lahan perkebunan. Para wanita Roma tidak merasa jijik atau takut. Mereka percaya, irisan dagingkambing itu akan membuat mereka bertambah subur di tahun yang akan datang.

Pada sore harinya, para gadis di kota itu akan memasukkan nama mereka pada sebuah guci besar. Para pemuda kota yang belum menikah akan memilih salah satu nama di dalam guci tersebut. Dengan cara begitulah seorang pemuda mendapatkan kekasihnya. Perjodohan dengan cara ini sering diakhiri dengan pernikahan. Namun, pada 498 Masehi, Paus Gelasius menyatakan bahwa Hari Valentine di mana terjadi "pengundian lotre" semacam itu sangat tidak Kristen dan menganggapnya sebagai kejahatan. Kemudian, selama Abad Pertengahan, orang Inggris dan Perancis percaya bahwa 14 Februari adalah permulaan masa perkawinan burung-burung. Hal ini menguatkan gagasan bahwa pertengahan Februari - Hari Valentine - seharusnya menjadi hari yang romantis.

Artefak Valentine tertua yang masih lestari hingga saat ini adalah sebuah puisi yang ditulis oleh Charles, Duke of Orleans, untuk istrinya selama sang Duke ditahan di Menara London setelah tertangkap dalam Battle of Agincourt. Ucapan tersebut, yang ditulis pada 1415, kini menjadi bagian dari koleksi manuskrip British Library di London, Inggris. Beberapa tahun kemudian, dipercaya bahwa Raja Henry V menyewa seorang penulis bernama John Lydgate untuk mengarang sebuah kartu ucapan Valentine bagi Catherine of Valois.

Di Inggris Raya, Hari Valentine mulai dirayakan secara populer sekitar abad ke-17. Pada pertengahan abad ke-18, sudah lazim bagi para sahabat dan kekasih di semua kelas sosial untuk saling bertukar barang-barang sebagai tanda rasa sayang atau catatan-catatan tertulis. Pada akhir abad ke-18, kartu cetakan menggantikan surat tulisan tangan berkat kemajuan teknologi percetakan. Kartu-kartu ucapan yangsiap digunakan menjadi cara yang mudah bagi orang-orang untuk mengungkapkan emosi mereka pada masa ketika ungkapan langsung akan perasaan pribadi dianggap tabu. rata-rata ongkos kirim melalui pos yang murah juga berperan serta untuk meningkatkan popularitas pengiriman kartu ucapan Hari Valentine.

Pada 1840-an, Esther A. Howland mulai menjual kartu ucapan Valentine yang diproduksi secara massal di Amerika Serikat. Menurut Greeting Card Association AS, diperkirakan satu juta kartu ucapan valentina telah dikirimkan setiap tahunnya. Hal ini menjadikan kartu ucapan Valentine sebagai kartu ucapan terbanyak ke-2 yang dikirimkan pada suatu hari libur atau perayaan (yang terbanyak adalah kartu Natal, sekitar 2,6 juta). Sekitar 85 persen dari semua kartu Valentine tersebut dibeli oleh kaum perempuan.

Walaupun telah jelas bahwa Hari Valentine berasal dari budaya Barat, namun tidak berarti bahwa kita di Indonesia dapat memandang dengan curiga kepada perayaan tersebut. Walaupun kitabelum tahu sejak kapan perayaan tersebut menjadipopuler di Indonesia, satu segi positif dari perayaan ini adalah aspek kasih sayang. Dengan Hari Valentine, kita semestinya semakin sadar untuk berbagi kasih sayang lebih banyak lagi, bukan hanya dengan kekasih atau istri dan keluarga, melainkan juga dengan siapa saja, bahkan dengan setiap makhluk yang ada di kolong langit ini.

Selamat Hari Valentine.***

Sumber: History.com
Sumber ilustrasi: Fotounik.net

7:52 PM | Posted in | Read More »

Sejarah Singkat Ponorogo

Ponorogo adalah sebuah kabupaten di wilayah provinsi Jawa Timur yang lekat dengan kesenian reog. Kesenian ini beberapa waktu lalu sempat menjadi buah bibir masyarakat karena dianggap telah dicuri oleh Malaysia. Jika ditilik dari usianya, Ponorogo memang telah lama menjadi pusat permukiman dan perkembangan kebudayaan sehingga jelas reog patut menjadi ikon bagi daerah tersebut. Tulisan berikut ini diunduh dari dmazter94.wordpress.com. Kami telah melakukan penyuntingan tanpa merubah isi.

Versi Babad Ponorogo
Menurut Babad Ponorogo (Purwowidjoyo;1997), setelah Raden Katong sampai di wilayah Wengker, beliau  memilih tempat yang memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai tempat permukiman (yaitu di dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan sekarang).

Melalui situasi dan kondisi yang penuh dengan hambatan dan tantangan yang datang silih berganti, Raden Katong, Selo Aji, dan Ki Ageng Mirah dan para pengikut mereka terus berupaya mengembangkan permukiman tersebut. Sekitar 1482 M, konsolidasi wilayah mulai dilakukan. Tahun 1482-1486 M, sedikit demi sedikit kesulitan tersebut dapat teratasi. Pendekatan kekeluargaan dengan Ki Ageng Kutu dan seluruh pendukungnya ketika itu mulai membuahkan hasil. Dengan dukungan banyak pihak, akhirnya Bathoro Katong (Raden Katong) dapat mendirikan Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV, di mana Raden Katong sendiri yang menjadi adipatinya yang pertama.

Versi Modern
Kadipaten Ponorogo berdiri pada tanggal 11 Agustus 1496 Masehi. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Ponorogo. Penetapan tanggal ini merupakan hasil dari kajian mendalam atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala di daerah Ponorogo dan sekitarnya, juga mengacu pada buku Hand Book of Oriental History, sehingga dapat ditentukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo.Bathoro, yang diyakini sebagai Kadipaten Ponorogo yang selanjutnya berkembang menjadi Kabupaten Ponorogo.

Asal-usul Nama Ponorogo
Babad Ponorogo karya Poerwowidjojo (1997) menceritakan bahwa asal-usul nama Ponorogo bermula dari kesepakatan dalam musyawarah bersama Raden Bathoro Katong, Kyai Mirah, Selo Aji dan Joyodipo pada hari Jum’at saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah Katongan sekarang). Di dalam musyawarah tersebut, disepakati bahwa kota yang akan didirikan tersebut akan dinamakan “Pramana Raga” yang akhirnya lama-kelamaan berubah menjadi Ponorogo.

Pramana Raga terdiri dari dua kata: Pramana yang berarti daya kekuatan, rahasia hidup, permono, dan wadi sedangkan Raga berarti badan, jasmani. Kedua kata tersebut dapat ditafsirkan bahwa di balik badan wadak manusia tersimpan suatu rahasia hidup (wadi) berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-sifat amarah, aluwamah, shufiah dan muthmainah. Manusia yang memiliki kemampuan olah batin yang mantap dan mapan akan mnempatkan diri di manapun dan kapan pun berada.***


Sumber ilustrasi: ravaelz.cahbag.us

11:57 AM | Posted in | Read More »

E-Book Gratis tentang Kepulauan Melayu di Sejarah Melayu Library

Sejarah-harian -- Layanan terbaru dari Sejarah Melayu Library kemungkinan besar akan memperoleh apresiasi positif dari para pecinta sejarah.

Sofiya Melnykova yang menulis di Blog Kindle memberitahukan, Sejarah Melayu Library kini memberikan layanan e-book, artikel dan makalah ilmiah gratis yang dapat diakses melalui Kindle.

Sejarah Melayu Library berfokus pada Kepulauan Melayu (Malay Archipelago, tetapi Sofiya menyamaratakannya dengan Indonesian Archipelago) dan daerah-daerah di sekitarnya. Seluruh e-book, artikel dan makalah ilmiah tersebut tersedia dalam format .PDF.

Secara umum, Sejarah Melayu Library memiliki tujuh seksi, yaitu General Section, Histories and Other References, Travelogue, Language, Fiction, Papers and Articles, dan News and Dispatches.

Tata letak dan navigasi Sejarah Melayu Library tidak berbelit-belit. Pengunjung tidak diwajibkan mendaftar untuk bisa memanfaatkan layanan-layanan gratis ini.*** (AI/14/2/2011)


Sumber ilustrasi: Blogkindle

6:29 PM | Posted in , , | Read More »

Sejarah Hari Pers Harus Dikaji Ulang

Republika.co.id, Palu -- Wartawan senior Sulawesi Tengah, Tasrief Siara, mengatakan bahw sejarah perjuangan pers nasional sebaiknya dikaji kembali. Sebab, masih ada perbedaan persepsi terhadap Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada 9 Februari.

"Dari sana baru bisa kita menentukan titik lahir HPN. Ini agar kita punya paradigma bersama tentang HPN," kata Tasrief di Palu itu, Rabu (9/2).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Hari Pers Nasional 2011 di Kupang, NTT, Rabu (9/2)
Ia mengatakan bahwa selama ini HPN lebih pada memperingati hari jadi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), bukan hari pers Indonesia. Karena, terbukti yang terlibat dan dilibatkan setiap HPN hanya orang-orang PWI saja.

"Saya tidak pernah melihat teman-teman dari AJI ataupun Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) yang dilibatkan di sini. Padahal, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) lebih dominan melakukan proteksi dan advokasi terhadap setiap tindak kekerasan wartawan maupun pelatihan-pelatihan jurnalistik untuk meningkatkan kapasitas jurnalistik," kata Tasrief. "HPN itu masih paradigma lama. Siapakah pelaksananya hari pers itu, coba lihat, semua ketua PWI diundang ke acara itu, kenapa AJI atau IJTI tidak diundang."

Mantan Ketua AJI Palu periode 2003-2005, Jafar G Bua, mengatakan bahwa HPN yang ditetapkan setiap tanggal 9 Februari itu tidak bisa dijadikan rujukan menjadi hari pers nasional. Karena, tanggal tersebut merupakan hari jadi PWI. "HPN perlu dikaji kembali karena tidak sesuai dengan semangat sejarah pertama kali munculnya pers di Indonesia," kata Jafar.

Jafar mengutip penelusuran budayawan Taufik Rahzen yang kemudian membukukan hasil penelusuran tersebut dalam buku '100 Tahun Pers Nasional'. "Di sana Taufik menyimpulkan mestinya hari kelahiran pers nasional itu ditandai tonggaknya dari terbitnya surat kabar Medan Prijaji pada 1 Januari 1907," katanya. Menurut Jafar, alasan Taufik Rahzen lebih condong peringatan HPN setiap 1 Januari sesuai dengan terbitnya surat kabar berbahasa melayu, Medan Prijaji, di Bandung pada 1 Januari 1907. Koran tersebut dibidani Raden Mas Tirto Adhi Soerjo.***


Sumber: Republika.co.id
Sumber ilustrasi: Republika.co.id

6:11 PM | Posted in , | Read More »

Sejarah Lambang Garuda Terlupakan

Galamedia - Banyak masyarakat Indonesia, termasuk pelajar, yang belum mengetahui makna dari lambang negara Indonesia, burung Garuda. Hal itu diungkapkan Kepala Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA), Isman Pasha kepada wartawan di auditorium MKAA, Jln. Asia Afrika Bandung, Rabu (9/2).

Padahal, kata Isman, usia lambang burung Garuda pada tahun ini sudah 61 tahun. "Tepatnya, 11 Februari nanti, lambang negara berusia 61 tahun," ungkap Isman.

Menurut Isman, sejarah lambang negara ini sejak tahun 1980-an tidak pernah diajarkan lagi kepada kalangan siswa. Pemerintah pada saat itu, lanjutnya, lebih menitikberatkan pada 36 butir pasal yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

"Tidak diajarkannya sejarah lambang negara (burung Garuda), ketika kurikulumnya diubah, dan pemerintah lebih mengedepankan nilai-nilai dan makna dari 36 pasal UUD 45," paparnya.

Karena tidak mengetahui sejarah lambang negara burung Garuda, ungkapnya, banyak masyarakat Indonesia tidak bisa menerangkan sejarah lambang burung Garuda. "Mereka tidak percaya diri ketika ditanya orang asing," tambahnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, MKKA bekerja sama dengan Museum Kapuas akan menggelar seminar nasional 61 tahun Garuda Pancasila di aula utama Gedung Merdeka Bandung, Jumat (11/2). Dikatakan Isman, seminar ini mendapat sambutan dari masyarakat. (B.81)**


Sumber: Galamedia
Sumber ilustrasi: partnershipsixteen.bridge.wikispaces.net

6:07 PM | Posted in , , | Read More »

Antara Maluka dan Maluku (Ambon)

Maluku adalah salah satu daerah yang pernah memainkan peran penting dalam sejarah kolonialisme Indonesia. Daerah inilah yang menjadi tujuan bagi pelbagai petualangan bangsa-bangsa Eropa yang hendak mencari "emas hitam" pada masa itu: rempah-rempah. Walaupun demikian, daerah mana saja yang dicakup dalam pengertian "maluku" tersebut seringkali simpang siur. Esai panjang berikut ini memberikan bukti bahwa "Maluku" pada masa kolonialisme Belanda dan Inggris bukan hanya mencakup daerah yang kita kenal sekarang, melainkan juga mencakup sebuah daerah di Kalimantan. Kami telah mengubah beberapa redaksi tanpa mengubah isi. Sumber: Lintas Sejarah Boerneo.

Oleh Mansyur Mappaarung, Staf Pengajar di Prog. Studi Sejarah FKIP Univ. lambung Mangkurat, Mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah Univ. Diponegoro Semarang (Angk.2010)

A. Latar Belakang 
Nama Maluka sering disebut dalam dalam sumber-sumber Kolonial[1], biasanya ditulis dengan sebutan Maloeka atau Molukko, dan dapat ditemukan misalnya di dalam Tractaat 13 Agustus 1787 dan Alteratie en Ampliatie Op Het Contract Met Den Sulthan Van Bandjarmasin Van 1 Januarij 1817 yang menyebut daerah Maluka dengan Molucco. Begitu pun dengan istilah yang terdapat di dalam Contract Met Den Sultan Van Bandjermasin 4 Mei 1826, Maluka disebut dengan Molukko.

Sementara itu, di dalam Ampliate En Verklaring Op Het Contract Met Den Sultan Van Bandjarmasin 18 Maret 1845 Maluku disebut atau ditulis dengan Maloekoe, sama dengan yang digunakan J.P. Moquette dalam artikelnya, Iets Over De Munten Van Bandjarmasin En Maloeka, yang terdapat dalam Tijdschrif Voor Indische Taal, Land En Volkenkunde (1906). J.P. Moquette (1906) dalam artikelnya itu menuliskan:

“Uit dit besluit zien we eerstens dat Alexander Hare de landstreek, door hem geoccupeerd onder den naam Maloeka (elder moloeka of Molukko genoemd), werkeljk in vollen eigendom verkreeg, en wel in October 1812, doch ten tweede, dat de aanbieding hem reeds 4 jaren te voren dus ±1808 gedaan werd………”
(Yang pertama tampak oleh kami dalam keputusan itu adalah daerah Alexander Hare melalui kesibukannya di bawah nama Maloeka [sebelumnya disebut Moloeka dari nama Malukko] sungguh lalu lintas hak pengelolahan hak milik kami yang telah berjalan baik pada Oktober 1812, tetapi di tahun kedua ia sudah memberikan kemajuan selama 4 tahun, jadi mulai dilakukan kurang lebih tahun 1808……..)

Hal ini perlu dikemukakan karena seringkali generasi baru yang meneliti sumber-sumber kolonial sering dikacaukan dengan kata Maluku atau bahkan Malaka yang ditulis persis atau bahkan sama. Sebagai perbandingan dapat dilihat dari penyebutan daerah Maluku yang dapat diikuti dari beberapa penjelasan berikut ini. 

Ditinjau dari kerangka kronologis tentang asal kata nama Maluku [3], maka pertama, penamaan Maloko yang terdapat dalam Sejarah Ternate, Kronik Kerajaan Bacan, dan Hikayat Tanah Hitu. Kedua, dari sumber asing seperti karya Valentijn, Oud en Nieuw Oost Indian jilid II, yang menyebutkan bahwa kata Maluku berasal dari kata Kolano Moloko[4]. 

Selain itu, sumber Cina mengatakan adanya daerah Mi-li-ku, dan berita Portugis (Gabriel Robel) mengatakan imformacao das cousas sobre as Molucas [5]. Di lain pihak, maluku pada masa VOC disebut dengan daerah Molukken, misalnya dalam kata Gouvernement de Molukken[6] yang pada abad ke-19 tertulis dalam surat-surat Belanda.

Ada tiga sebab utama bagi pemberian nama Molukken ini. Menurut Luhulima (1971), ketiga sebab tersebut adalah pertama, kecenderungan orang-orang Eropa sejak awal hubungan mereka dengan daerah rempah-rempah untuk menyamakan daerah itu dengan kerajaan Ternate; kedua, adanya gelar kolano moloko yang dipakai oleh raja Ternate yang menandakan betapa luasnya kerajaan Ternate (wilayahnya), misalnya daerah Banda yang dimasukkan dalam pengertian Maluku karena daerah Banda adalah penghasil rempah-rempah; sebab yang ketiga adalah adanya perspektif monopoli VOC bahwa semua daerah yang menghasilkan pala, lada atau cengkeh merupakan satu kesatuan dengan daerah lainnya yang menghasilkan rempah-rempah pula, yang masuk dalam Gouverneur der Molukken[7]. Jadi, nama Maluku sesuai dengan sumber sejarahnya disebut dengan Molucas atau Miliku dan Moloko, pada abad Ke-10.[8]

Sampai sekarang belum pernah ada tulisan khusus yang membahas tentang adanya kemiripan toponim atau kemiripan nama tersebut. Oleh karena itu penulis berusaha menginterpretasikan masalah tersebut berdasarkan bahan atau data sejarah yang disandarkan pada fakta sejarah yang ada. 

Penulis mengajukan dua hipotesis. Pertama, daerah yang dimasukkan dalam pengertian Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah (semua daerah yang menghasilkan rempah-rempah, di antaranya lada). Kedua, adanya perspektif monopoli VOC bahwa semua daerah yang menghasilkan pala, lada atau cengkeh merupakan satu kesatuan dengan daerah lainnya yang menghasilkan rempah-rempah pula.

Nama Maluka yang timbul belakangan, yaitu pada tahun 1787 pada masa kekuasaan VOC, adalah merupakan penyebutan dari bangsa Eropa, yang diperkirakan berasal dari kata Maluku. Daerah Maluka sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Raffles bahwa pada awalnya daerah tersebut memang adalah daerah penghasil lada atau rempah-rempah.[9]

B. Letak, Luas dan Kondisi Wilayah
Sifat-sifat sungai di Kalimantan mempunyai perbedaan yang tinggi pada sifat permukaan air di sepanjang alirannya, yakni membangun gosong-gosong pasir dan banjir serta membentuk rawa-rawa sepanjang tebing menuju ke muara (Idwar Saleh, 1960). Pantainya penuh rimba kayu bakau dan pohon nipah yang kemudian disambung dengan hutan-hutan yang lebat hingga ke pedalaman yang amat sukar dimasuki. Oleh karena letaknya pada daerah tropis dan pada garis equator, iklimnya lembab dan hujan yang turun banyak sekali[10]. Adanya keadaan alam ini pula yang menjadikan daerah Kalimantan Tenggara dan khususnya daerah Maluka, sebelum dibuka oleh Inggris dan dijadikan daerah konsesi, seakan-akan tidak pernah tersentuh.

Saleh (1960)[11] menegaskan bahwa akibat keadaan alam dan lebatnya hutan rimba, perhubungan sungailah yang menjadi faktor terpenting dalam lalu lintas perdagangan[12], penanaman kekuasaan, pemasukan kebudayaan dari luar oleh golongan imigran yang merupakan penduduk dari daerah di sekitarnya atau dari pedagang asing.

Luas wilayah Konsesi Maluka dari dahulu apabila dibandingkan dengan sekarang dalam tinjauan temporal memperlihatkan adanya perbedaan dan perubahan dilihat dari beberapa dasawarsa maupun kurun waktu (spasial). Daerah Konsesi Maluka dulunya sangat luas apabila dibandingkan dengan daerah Maluka yang ada sekarang.

Keberadaan daerah Maluka yang luas dan strategis tersebut adalah merupakan ciri khas tersendiri dari daerah Maluka. Sehingga tidak salah apabila J.P.Moquette (1906) mengemukakan adanya kesan optimisme dari Alexander Hare tentang daerah tersebut[13].

Alexander Hare diangkat menjadi residen di Banjarmasin pada tahun 1812. Pada awalnya, yaitu tahun 1808, Hare yang berkedudukan sebagai pengusaha partikulir sudah mencari daerah subur dan strategis dan kemudian menemukan daerah Maluka. Hare lalu meminta daerah tersebut kepada sultan Banjar dan diberikan serta merta dan statusnya diubah menjadi daerah konsesi. Hare kemudian menetap di Banjarmasin sampai tahun 1812, pada saat dia diangkat menjadi Residen, dan mulai menjalankan pemerintahannya pada tahun tersebut. Perlu dipahami bahwa pada saat itu Hare mulai memikirkan keinginannya sendiri.

Pada dasarnya Hare merasa senang mengerjakan kontrak dengan pemerintah Inggris (EIC) maupun Sultan Banjar. Kepuasan yang besar dirasakan Hare atas adanya pengakuan dari Raffles maupun adanya kepercayaan terhadapnya. Pada tahun 1812, setelah adanya perjanjian dengan Sultan Sulaiman, maka Sultan memberikan tanah konsesi itu secara formal kepada Hare serta melakukan pemerintahan atas daerah yang diberikan kepada Inggris yang terdapat dalam perjanjian atau Treaty 1812.

Dalam artikel Moquette (1906), daerah Konsesi Maluka digambarkan sebagai daerah yang membujur atau membentang di utara tepatnya pertengahan Sungai Martapura sampai sumber atau asal sungai tersebut[14] lurus ke Selatan sampai ke laut. Selanjutnya dari perbatasan laut sampai ke seberang benteng Tatas dan Sungai Martapura, lurus ke utara sampai ½ sungai bagian sungai Bantal, termasuk daerah Bati-Bati dan pantainya serta tanah Oedjong Bati dan wilayah taman Margarita[15]. Dari paparan tersebut dapat diketahui bahwa daerah konsesi Maluka sebenarnya memang sangat luas.

Daerah Alexander Hare tersebut yang semua wilayahnya dinamakan Maloeka[16] adalah merupakan tanah dalam hak pengelolahan atau hak milik sendiri (eigendom atau konsesi), akan tetapi mengatasnamakan EIC. Semua usaha perekonomian Hare yang dikembangkan di daerah tersebut telah berjalan dengan baik sampai bulan Oktober 1812. Daerah yang dibuka atau dikelola mulai tahun 1808 tersebut sudah memberikan kemajuan dan hasil yang bagus setelah berlangsung selama 4 tahun.

Bambang Subiyakto (2003) selanjutnya menambahkan bahwa wilayah Konsesi Maluka merupakan bagian dari daerah perairan di Kalimantan Selatan yang cukup ramai bagi pelayaran aktivitas sungai, sekaligus juga pelayaran laut. Perairan pantai terdapat pada daerah Tanah Laut sampai Pulau Laut. Panjang perairan garis pantai itu dimulai dari daerah Maluka sampai ke daerah Pasir. Beberapa sungai penting yang bermuara di sepanjang pantai itu adalah Maluka, Kurau, Tambangan, Tobanio[17], berada di daerah (distrik) Tanah Laut, serta Batulicin, Pagatan, dan Pasir berada di daerah (distrik) Kotabaru[18].

Dalam hal ini dapat diterapkan teori dari Bernett Bronson yang berpendapat bahwa pola permukiman dan aktivitas perdagangan dapat terbentuk oleh aliran sungai. Teori Bronson tersebut dikenal sebagai Teori Dendritik yang dibuat dengan model jangkauan wilayah Asia Tenggara. Daerah konsesi Maluka sebagai daerah di pinggir sungai dan bagian dari daerah aliran sungai Maluka sangat tepat untuk menjadi daerah perdagangan, pertanian dan perkebunan dan ini diperhitungkan dengan matang oleh Inggris untuk menempatkan Maluka sebagai daerah pengembangan usahanya.[19]

Model serupa juga telah diajukan oleh Miksic yang berasumsi bahwa faktor kondisi setempat seperti jalur komunikasi darat maupun sungai, kegiatan lalu lintas yang terbentuk dapat diperhitungkan sebagai sumber daya yang menentukan pola pemukiman dan pola pertanian dan perdagangan. Dari sini dapat kita lihat bahwa dukungan faktor geografis di daerah Maluka yang strategis dapat berpengaruh pada terbentuknya kegiatan perdagangan.[20]

Sebagai contoh tentang pentingnya keberadaan sungai Maluka yang dipakai untuk kegiatan pelayaran, misalnya mengenai perjalanan A.L. Weddik pada bulan Juli-Agustus 1846 dari Banjarmasin ke Tanjung Sambar. Weddik melakukan perjalanan berikutnya pada bulan november 1846 ke daerah Maluka, menggunakan kapal uap Playdes dengan nakhoda Clijver, perjalanan itu menempuh sungai Martapura, sungai Barito, perairan pantai Tanjung Selatan dan Sungai Maluka.[21]

Dalam tinjauan secara umum, sebenarnya pada awalnya ketertarikan Raffles pada Borneo diawali dengan hasil penelitiannya tentang Borneo yang menghasilkan kesimpulan bahwa Borneo memiliki kondisi yang subur. Selanjutnya Raffles memberikan laporan tentang adanya cabe rawit dan rotan yang sangat bagus yang terdapat di Banjarmasin dan juga memaparkan tentang besarnya jumlah wax (bahan baku lilin), sarang burung, tanduk rusa dan dagingnya, kulit dan kayu. Raffles sangat antusias menyampaikannya kepada Gubernur Jenderal Bengal, yaitu Lord Minto. Hal ini dapat dipahami karena keberadaan Banjarmasin (di antaranya daerah Maluka) adalah merupakan salah satu daerah yang paling subur di dunia dan juga keberadaannya sebagai penghasil emas dan intan yang produktif[22].

Kondisi penduduk di wilayah Konsesi Maluka pada masa Inggris dalam kurun waktu 1811-1816 tentu saja sangat berbeda dengan kondisi penduduk di daerah Maluka yang ada sekarang. Di daerah pantai seperti tanah laut, penduduknya melakukan hubungan dengan kota Banjarmasin melalui sungai Batutungku, Tabanio, dan Maluka. Mereka yang berasal dari daerah yang agak ke dalam menggunakan sungai-sungai itu sebagai muara kemudian menyusuri pantai untuk mencapai Banjarmasin[23]. Kondisi wilayah Maluka yang berada di dataran rendah dengan sungai Maluka sebagai sarana transportasi lewat sungai menjadikan daerah Konsesi Maluka sebagai daerah yang ramai.

Mengenai keadaan topografis atau kependudukan, menurut Bambang subiyakto (1999), penduduk Tanah Laut pada awal abad ke-19 hanya sedikit jumlahnya. Kemudian mereka sebagian besar terserang epidemi yang disebut dengan penyakit kuning. Sebagian besar penduduknya tewas dan hanya tersisa sedikit yang masih hidup. Beberapa waktu kemudian penduduk daerah ini bertambah dengan adanya migrasi penduduk Martapura, disusul kemudian dengan penduduk yang berasal dari Hulu sungai. Penduduk Tanah Laut, di antaranya daerah Maluka, semakin bertambah dengan adanya pendatang baru yang menetap, terutama dari Martapura dan Amuntai (Hulu Sungai)[24].

Pengkajian atas keadaan sosial budaya di daerah Maluka dalam kurun waktu 1811-1816 tersebut harus ditinjau secara analitis. Hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan keadaan yang benar-benar terjadi pada masa tersebut, utamanya pada masa pemerintahan Residen Alexander Hare.

Daerah Konsesi Maluka pada awalnya merupakan daerah yang tak berpenghuni. Menurut M. Fajar A.L. (2004), sebelum etnis lain berdatangan, telah terlebih dahulu terdapat komunitas orang Cina yang berada di kampung parit[25], atau tepatnya bermukim di kelurahan Angsau wilayah kecamatan Pelaihari, Tanah Laut. Orang orang Cina tersebut banyak berasal dari suku Hakka, Theo Chiu, dan Hokkian. Upaya untuk mendatangkan orang Cina tersebut adalah sehubungan dengan alasan mereka sendiri untuk mencari kehidupan yang lebih baik sehingga mereka memilih tinggal di tempat itu.

Secara makro dapat dilihat dari tinjauan politis, yaitu hubungan persahabatan antara Kerajaan Banjar dan Kerajaan Tiongkok. Kerajaan Banjar mengirimkan surat kepada Raja Tiongkok agar dikirimkan orang-orang yang ahli untuk pembangunan di Kerajaan Banjar. Raja Tiongkok menyetujui dan mengirimkan 11 orang laki-laki yang mempunyai kepandaian khusus, yaitu ahli perkebunan, perdagangan, peternakan, pertanian, pertukangan, tumbuh-tumbuhan, perdagangan, perikanan, kerajinan dan obat-obatan. Atas perintah Raja Banjar pada saat itu yang berada di Martapura, kesebelas orang Cina tersebut dibawa ke desa Parit dengan dikawal oleh sebelas orang punggawa Keraton.[26]

Di desa Parit, mereka bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sebagian dari mereka menggali parit dan menemukan emas, sehingga tempat penemuan tersebut dikenal dengan Parit Mas. Lama kelamaan akhirnya etnis Cina tersebut menetap dan kawin dengan penduduk setempat. Perkawinan etnis Cina Parit yang terbesar yaitu dengan orang-orang Bukit Meratus dan Kapuas Hulu.[27]

Penduduk Cina Parit hidup dengan cara bertani, beternak, berkebun dan mengerjakan kerajinan industri seperti tempayan, inangan, belanga, piring melawen, serta peludahan yang terbuat dari emas dan perak. Barang-barang tersebut dijual ke Jawa dan Singapura. Barang-barang kerajinan lainnya terbuat dari keramik dan batu-batuan seperti batu Giok dan Zamrud. Agama yang dianut oleh penduduk Cina Parit adalah campuran antara Konghucu dan Taoisme yang merupakan agama nenek moyang orang Tionghoa.[28]

Sementara itu, di daerah Konsesi Maluka dan Tabanio, telah terbentuk permukiman Cina yang pertama di daerah Tanah Laut, yaitu mulai terjadi tahun 1790-an. Alasan yang sama juga melatarbelakangi pembentukan pemukiman Cina di daerah konsesi Maluka ini, yaitu atas permintaan Sultan Panembahan Batu, orang-orang Cina itu pada mulanya didatangkan sebanyak 13 orang kemudian ditambah lagi dengan 70 orang langsung dari Cina. Kemudian atas bantuan Hare didatangkan pula sekitar 70 orang ke daerah itu pada dasawarsa kedua abad ke-19. Pada saat itu, jumlah mereka lebih dari 150 orang sehingga kemudian diangkatlah seorang kapten Cina di sana berdasarkan keputusan Residen.[29]

Pada perkembangan selanjutnya, di samping mendatangkan orang Cina, didatangkan pula oleh Hare sekitar 4000 orang pekerja dari Jawa. Mereka terutama ditempatkan di daerah Konsesi Maluka dan Pulau Sari[30], Tanah Laut, untuk mengerjakan usahanya di bidang perkebunan dan yang bersedia bekerja sebagai kuli.

Adanya permintaan Hare pada Sultan Sulaiman untuk menyediakan pekerja di perkebunannya memang dipenuhi, akan tetapi Sultan hanya mampu menyediakan sangat sedikit pekerja dari Jawa. Selain sedikitnya jumlah penduduk, pada umumnya penduduk dari Banjarmasin dan Martapura enggan menerima pekerjaan sebagai kuli dan pada umumnya pula penduduk telah mempunyai  pekerjaan masing-masing.[31]

Dari data sejarah di atas dapat kita rekonstruksi kembali keadaan sosial budaya masyarakat di daerah Konsesi Maluka yang dicirikan oleh budaya Cina walaupun tidak dapat dikesampingkan adanya peranan budaya lokal. Demikian pula datangnya orang Jawa mengindikasikan adanya pluralisme di daerah Konsesi Maluka, atau dapat dikatakan adanya beberapa etnis yang beragam mencirikan keadaan yang dinamis di daerah Konsesi Maluka. Sudah barang tentu budaya yang berkembang semakin beragam dan ada perpaduan dengan budaya lokal.

Hal ini dapat ditinjau dari aspek budaya. Dengan adanya ragam etnis yang ada di daerah Konsesi Maluka yang didatangkan oleh Alexander Hare, maka diperlukan  adanya komunikasi antar budaya[32] agar kehidupan sosial masyarakat yang ada dapat terlaksana dan berlangsung secara berkelanjutan. Keberadaan atau analisis sosial tentang daerah Konsesi Maluka belum ada atau tidak terdapat dalam beberapa arsip yang penulis gunakan sehingga dalam pembahasan mengenai sosial budaya  di daerah Konsesi Maluka pada masa tersebut sangat terbatas untuk dipaparkan dalam tulisan ini.

Pada Perjanjian 1812 antara pemerintah Inggris dengan Sultan Banjar, pasal 5 isinya adalah bahwa Sultan Sulaiman Alamah Tahmidullah menyerahkan sepenuhnya kedaulatan yurisdiksi atas beberapa daerah di antaranya adalah daerah ibukota, benteng pertahanan, wilayah Kuin, pulau Tatas yang merupakan bagian dari Provinsi Dayak, Mandawai, Sampit, Kuala Pembuang termasuk Sintang dan sekitarnya, Lawie dan Jalai, Bakumpai dan Doosan, Baran Katia, Kabupaten Pasir, Pagatan dan Pulau Laut. Hal tersebut mengindikasikan betapa luas daerah yang diberikan oleh Sultan Sulaiman yang berkuasa pada saat itu kepada Inggris.

Dari beberapa daerah yang disebutkan tersebut tidak terdapat daerah Maluka. Menurut Amir Hasan Kiai Bondan (1953), daerah Maluka memang tidak dimasukkan karena daerah Maluka merupakan tanah eigendom atau konsesi dan merupakan bagian dari daerah atau distrik Pulau Laut.[33] Hare secara sepihak mengklaim daerah tersebut sebagai milik pribadinya walaupun dalam hal ini pengelolannya masih di bawah kendali pemerintah Inggris atau EIC, misalnya saja dalam pengelolaan pertanian dan perdagangan cabai rawit maupun hak untuk penebangan kayu dan serta penambangan emas dan intan. Usaha lain yang dikembangkan adalah adanya usaha perkebunan dan pertanian lokal,  industri perahu dan pembuatan atau penempaan mata uang.***

Referensi :
- Arsip tentang perjanjian tersebut terdapat dalam Surat-Surat Perjanjian antara Kesultanan Banjarmasin dengan Pemerintahan VOC, Bataafse Republik, Inggris dan Hindia Belanda 1635-1860, diterbitkan oleh Arsip Nasional Republik indonesia (ANRI) Kompartimen Perhubungan dengan Rakyat, Djakarta, 1965.
 C.P.F. Luhulima (ed). Bunga Rampai Sejarah Maluku. Lembaga Research Kebudayaan Nasional, LIPI terbitan tak berkala, Serie no. 1/9, Jakarta, 1971, hal 1-8.Bandingkan dengan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia III, Depdikbud & Balai Pustaka, 1990, hal. 113, maupun Sejarah Daerah Maluku, Depdikbud, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Jakarta, 1976/1977, hal. 23.
 J. Keuning. Sejarah Ambon Sampai Akhir Abad ke-17, Kerjasama LIPI dengan Koninklijk Instituut voor Taal , Land en Volkenkunde (KITLV) dan Bhatara, Jakarta, 1973. hal. 77.
- Paramita.R. dan Abdoerachman. Peninggalan-Peninggalan yang Bertjiri Portugis di Amboina. Lembaga Research Kebudayaan Nasional, LIPI terbitan tak berkala, Serie no. 1/9,Jakarta, 1971, hal 1-8.
-  R.Z. Leirissa. Politik Perdagangan VOC di Maluku. Lembaga Research Kebudayaan Nasional, LIPI terbitan tak berkala, Serie no. 1/9, Jakarta, 1971, hal 145..
- keadaan alam di kalimantan tenggara tersebut dijelaskan dalam Encyclopedie van Nederlanch Indie jilid I, dalam M. Idwar Saleh. Bandjarmasin, Selayang Pandang Bangkitnya Keradjaan Bandjarmasin, Posisi, Funksi Dan Artinya Dalam Sedjarah Indonesia dalam Abad Ke 17. KPPK Balai Pendidikan Guru, Bandung. 1960, hal. 25-26, bandingkan dengan pembahasan mengenai keadaan geografis Kalimantan Selatan dalam M. Idwar Saleh. Banjarmasih, Museum Negeri Lambung Mangkurat, Banjarbaru, 1981/1982, hal. 7-8.
- Bambang Subiyakto. Pelayaran Sungai Di Kalimantan Tenggara, Tinjauan Historis Tentang Transportasi Air Abad Ke-19. Tesis pada program Pascasrjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 1999. hal. 10.
- J. P. Moquette. Iets Over De Munten Van Bandjarmasin En Maloeka. Albrecht & Co and M. Nijhoff, Batavia, 1906, Hal 491. Artikel ini di kumpulkan oleh Van Ronkel dalam buku Tijdschrif Voor Indische Taal, Land En Volkenkunde pada tahun 1906.
- Sampai sekarang yang dinamakan dengan Sungai Bantal belum dapat diidentifikasi tepatnya ada di daerah mana. Daerah Bati-Bati masih ada sampai sekarang yaitu daerah kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut., sedangkan Oedjong Bati dan taman Margarita sampai saat ini juga belum dapat diidentifikasi. Sedangkan Tabanio dalam arsip Belanda biasanya ditulis dengan Tobaniouw.
- Bambang Subiyakto. Perompakan : Sebuah Realitas Historis Abad Ke-19 di Kal-Sel, dalam buku Kenangan Purna Tugas Prof. M.P. Lambut, Kerjasama LPKPK, Forum 24, Pemko dan DPRD kota Banjarmasin, Banjarmasin, 2003, hal. 93
- Bernet Bronson. Lost Kingdom Mislaid, dalam Bulletin Field Museum Of Natural History. Volume 46/4, tahun 1975, hal. 9.
- Teori Miksic dalam Karel W Butzer. Environment and Archeology : An Introduction to plestocene Geography. Chicago : Aldine Publishing Company, 1954, hal. 12.
- Graham Irwin. Ninetenth–Century Borneo, A Study in Diplomatic Rivalry,.Malaya, S.Gravenhage-Martinus nijhoff, 1955, hal.16, bandingkan dengan pemaparan Syafii dalam tulisannya Indonesia Pada Masa Pemerintahan Raffles, Mutiara, Jakarta, 1982, hal. 16-20. Keberadaan kalimantan sebagai penghasil intan juga dijelaskan oleh Tjilik Riwut dalam Kalimantan Memanggil, Endang, djakarta, 1958, hal 302-303.
- Fungsi-fungsi dan hubungan-hubungan antara komponen-komponen komunikasi juga berkenaan dengan komunikasi antar budaya. Namun apa yang terutama yang menandai komunikasi antar budaya adalah bahwa sumber dan penerimanya berasal dari budaya yang berbeda. Ciri ini saja menandai untuk mengidentifikasi suatu bentuk interaksi komunikatif yang unik dan harus memperhitungkan peranan dan fungsi budaya dalam proses komunikasi. Komunikasi antar budaya dapat dilihat dalam persfektif model. Hal ini dikemukakan oleh Larry A. Samovar & Richard E. Porter. Interculturac Communication : A Reader, Dalam Deddy Mulyana & Jalaluddin Rahmat (ed). Komunikasi Antar Budaya, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1990, hal. 21.
- Amir Hasan Kiai Bondan. Suluh Sedjarah Kalimantan, M.A.T. Pertjetakan Fadjar, 1953, hal. 32.

12:14 AM | Posted in | Read More »

Wisata Sejarah Kelenteng Kuno Digarap

Kominfo-Newsroom -- Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) mulai menggarap wisata sejarah dan ziarah kelenteng-kelenteng kuno yang ada di Indonesia karena dinilai potensial sebagai objek wisata.

"Bukan hanya bagi masyarakat di tanah air, kelenteng-kelenteng kuno di Indonesia potensial menjadi obyek wisata sejarah dan ziarah masyarakat dari negeri China," tutur Dirjen Pemasaran Kemenbudpar, Sapta Nirwandar, di Jakarta, Kamis (27/1).

Oleh karena itu, pihak Kemenbudar akan bekerja sama dengan Perhimpunan Indonesia-Tionghoa dan perwakilan kelenteng seluruh Indonesia untuk menerbitkan buku tentang kelenteng-kelenteng Kuno yang ada di Indonesia.

"Penerbitan buku tersebut merupakan upaya untuk transfer ilmu pengetahuan khususnya tentang budaya-budaya Tionghoa di Indonesia yang tercermin dari keberadaan kelenteng-kelenteng di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak,” kata Sapta.

Selain itu, ia juga berharap masyarakat Indonesia sendiri mulai tergerak untuk mengenal sejarah salah satu suku bangsa yang telah turun-temurun tinggal di Indonesia yakni etnis Tionghoa melalui tempat peribadatan warga Tionghoa tersebut.(T.Ve/toeb)


Sumber: bipnewsroom.info

11:16 PM | Posted in , | Read More »

Arkeolog Israel Temukan Gereja Usia 1.500 Tahun

Jawaban.com -- Para arkeolog Israel dari Israel Antiquities Authority kembali membuat sejarah dengan menemukan sebuah Gereja dengan usia diperkirakan 1.500 tahun. Gereja ini ditemukan di bukit Yudea komplek Bizantium, barat daya Yerusalem, Rabu lalu (2/1) setelah penggalian selama dua bulan penuh.

Pemimpin penggalian tersebut, Amir Ganor, menyatakan bahwa gereja yang berbentuk basilika ini adalah salah satu penemuan terpenting dan paling indah yang pernah ditemui di tanah Israel. Gereja yang diperkirakan didirikan pada abad kelima dan tujuh masehi ini dihiasi lantai mosaik juga lukisan alami singa, rubah, dan burung merak yang terpatri di dalam dinding gereja. “Penemuan ini adalah yang terunik, karena gereja ditemukan dalam keadaan yang awet dan masih terjaga kelestariannya,” ungkap Ganor.


Sebelumnya para arkeolog yang telah menggali di situs Hirbet Madras ini memperkirakan bahwa yang ditemukannya adalah sinagoga. Namun pahatan salib ukir pada sebuah batu mengidentifikasikan bangunan tersebut adalah gereja. Uniknya gereja ini juga memiliki terowongan yang dipercaya digunakan oleh pemberontak Yahudi melawan tentara Romawi pada abad kedua Masehi. Juga jalan kecil dari lantai gereja ke sebuah gua pemakaman kecil, yang dipercaya sebagai tempat pemakaman Nabi Zakaria dari Perjanjian Lama.

Ganor menyatakan bahwa gereja ini masih akan tertutup untuk umum sampai pendanaan diperoleh untuk membukanya sebagai tempat wisata sejarah. Dalam dunia arkeologi Pemerintah Israel memang dikenal konsisten menggali situs arkeologi kuno seperti Perang Salib, dunia Muslim, Byzantium, Romawi, Yahudi dan situs prasejarah lainnya. Hal ini dilakukan sebagai keabsahan sejarah peradaban kebudayaan manusia.***

Sumber: Jawaban.com

11:08 PM | Posted in , | Read More »

Lihat Meriam Raksasa di Benteng Victoria

Di dalam benteng, Anda dapat menemukan sisa-sisa meriam berukuran raksasa. Di beberapa kamar yang ada di sana juga terdapat koleksi patung berukir, peta perkembangan kota Ambon dari abad XVII-IX, dan beberapa koleksi lukisan para administratur Belanda di Maluku. 

Sejarah mencatat bukan hanya Belanda dan Jepang yang sempat wara-wiri di bumi nusantara. Portugis pun pernah menancapkan kukunya, ini ditandai dengan peninggalan sejarah berupa Benteng Victoria yang merupakan benteng tertua di Ambon.

Benteng Victoria yang bisa dijumpai di pusat kota Ambon merupakan salah satu objek wisata sejarah di sana. Benteng ini dibangun oleh Portugis pada 1775. Selanjutnya diambil alih oleh Belanda yang menjadikannya sebagai pusat pemerintahan.

Di dalam benteng, Anda dapat menemukan sisa-sisa meriam berukuran raksasa. Di beberapa kamar yang ada di sana juga terdapat koleksi patung berukir, peta perkembangan kota Ambon dari abad XVII-IX, dan beberapa koleksi lukisan para administratur Belanda di Maluku.

Dengan melihat peninggalan sejarah di Benteng Victoria, Anda dapat merekam sejarah lahir dan berkembangnya kota Ambon. Ini juga bisa menjadi kunjungan yang bermanfaat bila Anda datang bersama anak-anak.

Setelah berkeliling benteng, saat hari beranjak senja, Anda bisa menyaksikan tampilan matahari terbenam di Teluk Ambon. Atau melihat lebih dekat dari Pantai Honipopu yang berada dekat dengan benteng.

Kembali ke masa lalu, pada masa pemerintahan Belanda Benteng Victoria mempunyai fungsi strategis, yakni sebagai pusat pemerintahan kolonial dan pertahanan dari berbagai perlawanan masyarakat pribumi. Dan, satu cuplikan sejarah yang akan selalu diingat, di depan benteng inilah pahlawan nasional Pattimura digantung, tepatnya pada 6 Desember 1817.

Beralih ke bagian depan benteng, terdapat pelabuhan yang dahulu digunakan sebagai jalur perhubungan laut antar pulau. Melalui pelabuhan itulah kapal-kapal Belanda mengangkut hasil rempah-rempah untuk didistribusikan ke benua Eropa. Bersebelahan dengan benteng, juga terdapat pasar yang menjadi tempat pertemuan pedagang pribumi.

Tertarik mengunjunginya, akses menuju benteng ini terbilang mudah karena terletak di tengah kota. Dari Terminal Mardika Anda dapat berjalan kaki ke arah timur sejauh 300 meter. Bisa juga naik becak dengan membayar Rp3.000 atau naik angkutan umum Rp1.500. Sesampainya di benteng, Anda tidak perlu mengeluarkan uang untuk memasukinya.***

Sumber: Travelista

11:01 PM | Posted in , | Read More »