Sjarifuddin Prawiranegara: Presiden yang Tak Diakui

Sejarah-harian.comSjarifuddin Prawiranegara hingga kini belum diakui sebagai pahwalan nasional oleh Pemerintah RI. Padahal, perannya sangat vital dalam masa Revolusi Fisik 1945-1949.Tatkala Belanda berhasil menguasai ibukota Yogyakarta dalam Agresi Militer II dan menawan Soekarno-Hatta, dia menjadi tokoh penting yang memberikan kepastian kepada dunia internasional bahwa RI masih tegak berdiri.

Sebelum ditawan Belanda, Soekarno-Hatta sempat mengirim sebuah telegram kepadanya yang saat itu sedang berada di Bukit Tinggi untuk melakukan konsolidasi di Sumatra. Dalam telegram tersebut, Seokarno-Hatta dengan tegas memerintahkan kepadanya agar membentuk Pemerintahan Darurat RI di Sumatra.

Alhasil, dialah yang selama 207 hari menjadi Ketua PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang mengemban fungsi dan tugas presiden RI. Hal tersebut diungkapkan sejarawan Asvi Warman Adam dalam acara bedah buku “Presiden Prawiranegara: Kisah 207 Hari Sjarifuddin Prawiranegara Memimpin Bangsa” karya Akmal Nasery Basral yang digelar Pusat Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Pussis-Unimed) di Fakultas Ilmu Sosial Unimed, sebagaimana dilaporkan Waspada.

PDRI menjaga kelangsungan Negara Indonesia setelah penawanan Soekarno-Hatta oleh Belanda menyebabkan terhadinya kekosongan pemerintahan. Dengan adanya PDRI, Negara Indonesia dapat memenuhi syarat sah sebagai negara, yaitu adanya kepemimpinan. Keberadaan PDRI sekaligus membatalkan pernyataan Belanda tentang telah hilangnya RI akibat Agresi Militer II.

Secara resmi, PDRI dibentuk pada tanggal 19 Desember 1948 atas prakarsa Sjarifuddin Prawiranegara dan disetujui oleh TM Hasan yang saat itu menjabat Gubernur Sumatera. Dasar pembentukan tersebut adalah demi keselamatan Negara Republik Indonesia yang sedang berada dalam bahaya. Sang pemrakarsa ditunjuk menjadi Ketua PDRI dan TM Hasan menjadi wakil. Pemerintahan Darurat tersebut juga dilengkapi dengan kabinet yang terdiri dari beberapa menteri.

Ketua PDRI menyerahkan mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 setelah Soekarno-Hatta dibebaskan Belanda. Penyerahan mandat tersebut secara otomatis mengakhiri keberadaan PDRI. Dengan demikian, Ketua PDRI menjalankan tugasnya selama 207 hari. (SJ)***

12:00 AM | Posted in , | Read More »

Tempat Kelahiran Soekarno: Surabaya, Bukan Blitar

Sejarah-harian.comTempat kelahiran Soekarno adalah sebuah rumah yang pada tanggal 6 Juni 1901 – tanggal lahir sang bapak bangsa tersebut – terletak di sebuah ruas jalan bernama Jalan Lawang Seketeng, Surabaya. Hal ini bertentangan dengan anggapan populer yang sering menyebutkan bahwa proklamator dan presiden pertama RI tersebut lahir di kota Blitar.

Sebagai upaya untuk meluruskan anggapan yang keliru itu, Peter A Rohi, ketua Soekarno Institute, menyatakan bahwa pihaknya akan memasang sebuah prasasti di depan rumah yang dimaksud pada tanggal 6 Juni 2011. Tanggal pemasangan ini disesuaikan dengan tanggal lahir Putra Sang Fajar tersebut sekaligus untuk mengenang 110 tahun hari lahir Bung Karno, demikian diberitakan Suarapembaruan.com.

Peter A Rohi tidak main-main dengan klaimnya bahwa tempat kelahiran Soekarno memang di Surabaya. Ada setumpuk buku yang diajukannya untuk mendukung klaim tersebut, di antaranya “Soekarno Bapak Indonesia Merdeka” karya Bob Hering, “Ayah Bunda Bung Karno” (2002) karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dan “Kamus Politik” (1950) karya Adinda dan Usman Burhan.

Buku lain termasuk “Ensiklopedia Indonesia” (1955), “Ensiklopedia Indonesia” (1985), dan “Im Yang Tjoe” (1933) yang ditulis ulang oleh Peter sendiri dengan judul “Soekarno Sebagi Manoesia” (2008). Selain itu, Peter juga mengungkapkan bahwa arsip nasional telah mencatat hal yang sama. Bahkan, mantan Kepala Perpustakaan Blitar telah mengakui bahwa negarawan besar tersebut memang dilahirkan di Surabaya, bukan di Blitar.

Menurut hasil penelusuran Vivanews.com, sebagian sejarawan belum bisa memastikan apakah tempat kelahiran Soekarno memang di Surabaya atau di Blitar. Suhartono, sejarawan dari UGM, menyatakan bahwa Bung Karno memang lahir di Blitar. Asvi Warman Adam hanya ingat bahwa Bung Karno lahir di Blitar namun mengakui bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan fakta sejarah tentang hal tersebut.

Asvi menyatakan bahwa hal yang paling jelas untuk saat ini adalah bahwa makam Bung Karno ada di Blitar. Namun hal tersebut juga menjadi bahan kontroversi karena ada sebagian pihak yang mempertanyakan apakah benar-benar jasad Bung Karno yang ada di makam tersebut. Asvi lebih lanjut menjelaskan, anggota keluarga tidak diajak dan turut menyaksikan proses pemugaran makam yang dilakukan beberapa tahun setelah sang proklamator wafat.

Kompas.com melaporkan bahwa Andreas Edison, budayawan asal Blitar, membenarkan bahwa tempat kelahiran Soekarno memang di Surabaya. Kusno, nama kecil sang proklamator, pindah ke Blitar karena mengikuti orangtua sekaligus untuk menempuh pendidikan. Lebih lanjut, Andreas menyetujui rencana pemasangan prasasti di depan rumah di Jalan Pandean IV Surabaya.

Andreas juga menyatakan tidak khawatir pemasangan prasasti tersebut akan menurunkan jumlah pengunjung di makam Bung Karno di Blitar. Bagaimana pun, menurut Andreas, Blitar tetap menjadi bagian dari singa podium tersebut karena makamnya terletak di kota tersebut. (SJ)***

10:52 PM | Posted in , | Read More »