|

Inflasi di Eropa pada 1920-an

Fakta bahwa sebuah negara tertentu pernah mengalami sebuah krisis moneter yang parah kadang-kadang cukup menjadi alasan untuk mengoleksi mata uang yang terinflasi. Ketika para kolektor berpikir tentang peristiwa semacam itu, salah satu negara yang biasanya segera muncul dalam pikiran adalah Jerman dengan bencananya pada 1920-an. Dan memang ada satu alasan yang cukup bagus: uang kertas yang tak terhitung jumlahnya yang disebabkan oleh malapateka ekonomi tersebut merupakan salah satu jenis mata uang yang paling banyak tersedia. Terlebih lagi, uang kertas semacam itu memberikan pengaruh besar pada , pelbagai penerbitan mata uang yang lain -- sebagian di antaranya terkait dengan waktu penggunaan dan sebagian lain karena permintaan kolektor.

Inflasi-inflasi lain yang terjadi pada masa atau sekitar masa yang sama kurang mendapatkan perhatian karena tidak sebesar eskalasi inflasi di Jerman. Paling tidak, inflasi-inflasi di negara-negara tersebut tidak terlalu banyak ditelliti terutama dalam pengertian inflasi macam apa yang dialami di negara-negara tersebut. Saya mengakui bahwa Austria paling jelas gambaran inflasinya, namun pengakuan semacam itu hanya parsial karena begitu meluasnya penggunaan uang kertas cadangan (emergency notes) atau notgeld sebagian besar berasal dari periode 1920-an. Namun, yang ingin saya diskusikan adalah inflasi di beberapa negeri lain, yang sering kali dilupakan atau diabaikan – tepatnya Armenia, Danzig, Estonia, Hongaria, Latvia, Polandia dan Rusia.

Armenia
Pada 1918, Armenia memproklamasikan diri sebagai negara merdeka. Mata uang sementara diterbitkan untuk membantu memenuhi pelbagai tanggung jawab dan pengeluaran fiksal sebesar 6 hingga 8 juta rubel setiap bulannya. Sejak Agustus 1919 hingga 1920, cek sebesar 1,1 milyar rubel telah dikeluarkan. Masalahnya, jumlah itu sebenarnya hanya setara dengan 2 juta rubel dalam emas. Armenia menjadi bagian dari Soviet pada 1922 dan inflasi menjadi semakin parah. Denominasi uang kertas pada masa awal Soviet sama dengan 5 juta rubel pada 1922. Inflasi Armenia berakhir ketika pemerintah Soviet berhasil membawa stabilitas pada sistem rubelnya pada 1924.

Danzig
Secara historis, wilayah Danzig telah ditendang ke sana ke mari bagaikan sepakbola sejak tahun 997, ketika wilayah ini diklaim untuk pertama kalinya sebagai wilayah Polandia. Danzig memperoleh otonomi pada 1260, namun pada 1308 wilayah ini direbut oleh para Ksatria Teutonik yang tetap berkuasa di sana hingga Polandia merebutnya kembali pada 1466. Pada 1722, wilayah ini direbut oleh Prusia, lalu menjadi milik Jerman, dan dijadikan kota merdeka oleh Napoleon Bonaparte pada 1807. Kemudian wilayah ini menjadi bagian dari Prusia Barat. Seusai Perang Dunia I, wilayah ini sekali lagi dinyatakan sebagai sebuah kota merdeka dan akhirnya diberikan kepada Polandia dan sejak itu dikenal sebagai Gdansk.

Danzig mengeluarkan koin dan uang kertas atas namanya selama periode 1918 hingga 1937. Hiperinflasi di Jerman benar-benar mempengaruhi penerbitan mata uang Danzig pada 1923. Pada tahun sebelumnya, denominasi mata uang kertas tertinggi mencapai 1000 mark, diterbitkan pada bulan Oktober. Namun setahun kemudian nilai mata uang tertinggi telah mencapai 10 milliarden (=10 milyar) mark. Sebuah revaluasi total dan konversi sistemik pada tahun tersebut berhasil memulihkan stabilitas dengan diperkenalkannya mata uang Gulden.

Estonia
Sejak masa purba, negara Baltik ini telah dikuasai oleh pelbagai kekuatan penakluk. Sebagian besar dari para penguasa besar Eropa terlibat dalam pendudukan atas negeri ini, terutama dari bangsa Jerman, Ksatria Teutonik, Swedia, Polandia dan tentu saja Rusia. Pada 5 November 1917, tak lama setelah dimulainya Revolusi Oktober (Bolsyewik), Estonia akhirnya memproklamasikan diri sebagai sebuah negara merdeka. Tindakan ini tidak serta merta menghapuskan sama sekali pengaruh moneter dari penguasa sebelumnya. Sebelum sempat dilakukan tindakan moneter apapun, Jerman menduduki Estonia selama Perang Dunia I.

Semua peristiwa tersebut, ditambah dengan perjuangan kemerdekaan, menyebabkan mark Estonia menderita inflasi selama 1919-1920. Denominasi mata uang tertinggi di Estonia selama periode ini adalah 100.000 marka. Walaupun stabilisasi berjalan cukup lancar pada 1921, baru pada tahun 1928 sistem Kroon menggantikan sistem mark dengan rata-rata 100 berbanding 1.

Hongaria
Menyusul berakhirnya Perang Dunia I, Sekutu dan Hongaria menandatangani Perjanjian Trianon, sebuah kesepakatan damai yang berkaitan erat dengan pelbagai tahapan dalam kehidupan nasional Hongaria. Banyak sekali yang diambil dari sisa-sisa negara Hongaria setelah keruntuhan Kekaisaran Austro-Hongaria, terutama dalam hal perbatasan. Hilangnya kawasan-kawasan pertanian dan industrial yang berharga sebagai hasil dari perjanjian ini menyebabkan rangkaian inflasi pada korona Hongaria dengan nilai setinggi 1.000.000 korona yang diterbitkan pada 1923. Dua tahun kemudian, sistem Pengo diperkenalkan dan permasalahan moneter Hongaria pun terpecahkan walaupun hanya untuk sementara.

Latvia
Sebagaimana Estonia, negeri Baltik ini selalu berpindah dari satu penguasa ke penguasa lain, sebelum akhirnya dikuasai Rusia pada 1795. Kekuasaan Rusia baru berakhir dengan pecahnya Perang Dunia I. Kemerdekaan diproklamasikan dan diperjuangan, yang menyebabkan pengeluaran besar untuk biaya perang dan pelbagai inflasi skala menegah. Pada 1921, Latvia mampu memperkenalkan sistem lats dengan nilai tukar 10 latu sama dengan 500 rubli uang kertas pada 1920, dengan rasio 50 berbanding 1.

Polandia
Tidak banyak negeri lain yang memiliki sejarah penuh gelora seperti bangsa di Eropa tengah ini. Negeri ini pernah berjaya, lalu luluh lantak hingga benar-benar hilang dari peta, dan kemudian muncul lagi. Polandia muncul sebagai sebuah negara merdeka pada 11 November 1918 – Hari Kemerdekaan Polandia. Perjanjian Versailles memberikan kawasan industri penting di Upper Silesia, yang dulunya milik Jerman, kepada negara Polandia yang baru.

Walaupun demikian, kondisi ekonomi di negeri tersebut setelah Perang Dunia I sangat sulit terutama karena pengaruh jatuhnya mark Jerman dan revolusi Rusia. Denominasi uang Polandia melonjak dari 500 marek pada 1922 menjadi100 juta marek pada akhir 1923. Tahun berikutnya, diperkenalkan sistem zloty yang baru, mula-mula dengan mata uang yang senilai dengan setengah dari nilai mata uang yang terkena inflasi. Penerbitan mata uang dengan nilai rendah dan tinggi menyusul tak lama setelahnya.

Rusia
Revolusi Rusia sebenarnya beroperasi dengan dua lapis. Pertama, muncul pemerintahan sementara Kerensky pada Februari 1917, yang menumbangkan Czar Nicholas II dan kekaisarannya yang lemah. Kemudian, pada bulan Oktober, kaum Bolsyewik melancarkan pemberontakan dan apa yang kemudian dikenal sebagai “Revolusi Rusia” pun pecah dan berlangsung hingga 1924. Intinya adalah, ketika kita membayangkan Rusia pada periode ini, gagasan tentang pelbagai bentuk inflasi menjadi terlalu berlebihan karena begitu banyak uang kertas yang dikeluarkan pada tahun-tahun pergolakan itu.

Dalam kenyataannya, yang disebut sebagai “pemerintah” jatuh dan bangun seirama dengan jalannya peperangan, yang sebagian besar meninggalkan jejak pada fiskal berupa situasi ekonomi yang tidak stabil. Contohnya adalah pemerintah Kawasan Utara, yang dikontrol oleh pemimpin Sosialis-Borjuis, menerbitkan uang kertas hingga 10.000 rublei pada 1918. Di Rusia Utara, penerbitan mata uang yang direvalidasi pada 1919 mencapai 100.000 rublei. Pemerintah Teritorial Krimea menerbitkan uang kertas hingga 5.000 rublei pada 1918. Pemerintah Militer Cossack Don di Astrakhan membuat mata uang yang mencakup nilai 50.000 rublei. Salah satu penerbit mata uang di Rusia Selatan menerbitkan uang hingga 100.000 rublei. Mata uang kertas Vladivostok Railroad mencapai 10.000 rublei. Soviet Transcaucasia menerbitkan mata uang hingga mencapai 10 juta rubel pada 1923, dan berlanjut hingga mencapai 10 milliarde rublei pada 1924. Azrbaijan dan Georgia menerbitkan mata uang kertas 5 juta rublei. Bahkan setelah pemerintahan Rusia yang lebih padu muncul pada periode 1921-1923, masih ada masalah dengan inflasi.

Epilog
Inflasi, baik yang lunak maupun yang parah, adalah bagian dari sejarah moneter dunia. Terlihat bahwa segera setelah mata uang kertas diterbitkan, maka muncullah inflasi dalam kadar tertentu. Ada masalah seperti ini pada penerbitan uang kertas yang pertama di China, Swedia, dan Norwegia, juga Perancis pada 1719-1720 (Hukum John) dan Revolusi Perancis (1789-1793). Tidak mengherankan bahwa hingga beberapa tahun terakhir ini, mata uang kertas tidak banyak dikoleksi karena dianggap sebagai uang tanpa nilai kecuali jika dapat dikonversi menjadi uang yang sebenarnya, yang berarti emas dan perak.

Saat ini, kita sedang menyaksikan maraknya minat pada semua jenis uang kertas yang menurut saya sebagian disebabkan uang keras dalam bentuk koin telah menjadi sama berharganya dengan lembaran-lembaran kertas yang merepresentasikan suatu nilai. Koin perak atau emas yang kini dibuat hanya dijual karena persentase nilai metalnya, dan tidak digunakan sebagai uang lagi.***


Artikel ini diadaptasi dari Europe Had Many Inflations in 1920 yang ditulis oleh Neil Shafer, Bank Note Reporter.

Sumber: numismaster.com
Sumber ilustrasi: numismaster.com

Diposting oleh Sejarahku on 8:09 PM. dalam kategori , . Anda dapat mengikuti semua tanggapan terhadap artikel ini melalui RSS 2.0. Silakan meninggalkan komentar.