Hampir Runtuh, Piramid Tertua Mesir akan Direnovasi

Sebuah perusahaan Inggris telah memperoleh kontrak untuk menyelamatkan Piramida Djoser, piramida tertua di Mesir. Piramida tersebut hampir runtuh setelah digoncang gempa bumi pada 1992.

Cintec, yang bermarkas di Newport, dipercaya oleh the High Council of Egyptian Antiques untuk menyelamatkan landmark tersebut - yang juga dikenal sebagai Piramid Tangga (Step Pyramid).

Cintec sebelumnya pernah mengerjakan Windsor Castle setelah kastil Inggris tersebut terbakar pada 1992. Selain itu, Cintec juga pernah diminta oleh pemerintah India untuk menguatkan sebuah jembatan besar di Delhi sebelum diselenggarakannya Commonwealth Games tahun lalu.

Nilai kontrak renovasi Piramid Djoser diperkirakan sebesar 1,8 juta poundsterling. Menurut rencana, para insinyur perusahaan tersebut akan menggunakan kantong-kantong udara berisi air untuk menahan langit-langit di bagian dalam piramid. Struktur stainless steel juga akan digunakan sebagai jangkar untuk menahan beban ruang utama piramid.

Peter James, managing director Cintec, menyatakan, "Kami sangat gembira karena telah ditunjuk untuk melaksanakan proyek baru ini dan kami selalu berusaha mencari metode-metode baru untuk mendukung dan mempertahankan landmark historis di seluruh dunia."

Mr. James menambahkan, "Kami menyadari nilai penting bangunan-bangunan historis dan religius bagi budaya setempat dan kami berharap untuk terus dapat mengembangkan sistem renovasi yang mampu melestarikan bangunan-bangunan arkeologis bagi generasi mendatang."

Piramida Tangga terancam kerusakan serius karena seluruh struktur bangunan bisa runtuh kapan saja karena adanya kerusakan pada langit-langit dan atap yang disebabkan oleh gempa bumi. Cintec menyatakan akan berusaha memperbaiki bangunan tersebut tanpa merusak keasliannya.

Piramida Tangga dibangun sekitar 2650 SM sebagai kuburan Firaun Djoser. Piramida ini terletak di Saqqara, sekitar 19 mil dari Kairo. (AI/BER11/01-2011)

Sumber: dailymail.co.uk
Sumber ilustrasi: dailymail.co.uk

8:34 AM | Posted in , | Read More »

Museum Taman Prasasti, Jakarta

Oleh Veronica Setiawati
 Museum Prasasti tidak nampak seperti permakaman jika dilihat dari luar. Bangunan tua dengan pilar-pilar di pintu gerbangnya membuat kita seperti memasuki gedung museum pada umumnya. Namun, di halaman luar, terdapat tiga monumen yang memberitahukan tempat tersebut adalah sebuah museum yang menampilkan koleksi dari batu nisan lengkap dengan arsitektur yang menarik.

Pintu masuk terbuat dari kayu. Ketika kita berada di sekitarnya, dapat kita lihat nama-nama mereka yang sudah meninggal tercantum dalam prasasti yang berada di sisi kanan dan kiri dinding. Bahkan, tugu-tugu monumen berbaris tampak rapi ketika kaki kita memasuki kompleks permakaman. Tugu-tugu tersebut berbentuk empat persegi panjang seperti benteng-benteng yang berdiri tegak. Di setiap sisi, terdapat nama-nama dari mereka yang dimakamkan di tempat ini. Uniknya, setiap tugu monumen ini ditandai dengan sebuah angka.

Selain makam yang berbentuk tugu monumen, terdapat juga makam yang menggunakan batu nisan, bahkan ada juga yang dibuatkan sebuah bangunan atau dipagari dengan besi, lalu ditambahi dengan patung-patung malaikat, cawan, sebuah alat musik harpa, bahkan juga replika orang yang meninggal. Ada pula sebuah bangunan yang menyerupai atap dari gereja Kathedral. Sangat menarik buat saya, walaupun beberapa makam tata letaknya tak beraturan. Hanya sayang, permakaman ini kurang terawat dan banyak dari patung malaikat ataupun prasasti yang rusak ataupun dicorat-coret.

Usia dari mereka yang meninggal dapat dilihat dengan jelas di makam-makam tersebut. Dari nama-nama yang tercantum di batu nisannya bisa ditebak, dari mana mereka berasal. Di lokasi permakaman ini juga terdapat sebuah kereta jenasah yang sudah tidak dipakai lagi. Dahulu, kereta ini digunakan membawa jenasah yang akan dimakamkan di sini. Kereta ini ditarik beberapa ekor kuda. Kereta jenasahnya masih sangat bagus dan utuh, lengkap dengan empat rodanya. Kereta tersebut terbuat dari kayu yang tidak dimakan usia, dicat warna hitam dan dilengkapi dengan kaca yang tembus pandang.

Patung-patung malaikatnya pun dibuat seakan turut berduka. Wajah-wajah perempuan yang tertunduk dan berduka dapat dirasakan dari patung-patung yang dibuat dan diletakkan tidak jauh dari makam atau batu nisan, seakan mereka sangat bersedih atas kepergian orang-orang yang dikasihinya.

Di Museum Makam Prasasti ini terdapat makam Soe Hok Gie, Kapitan Jas, Marius Hulswit – seorang arsitek asal Belanda, seorang monsinyur (uskup ), dan pasukan Jepang yang gugur ketika melawan sekutu di Sungai Ciantung Bogor.

Jika diperhatikan, ada sebuah tiang yang sangat tinggi menjulang. Pada tiang tersebut terdapat sebuah bel. Bel tersebut digunakan untuk memberitahukan kedatangan kereta jenasah ketika memasuki Makam Prasasti ini.***


Jakarta, 26 Desember 2010

Sumber narasi dan foto: g1g1kel1nc1.blogspot.com

6:10 PM | Posted in , | Read More »

Israel Curi Artefak Bangsa Palestina, Ingin Tulis Ulang Sejarah


REPUBLIKA.CO.ID, GAZA CITY - Secara sistematis dan bertahap, benda-benda purbakala dari wilayah Palestina kini berpindah tempat ke museum-museum milik Israel. Aktivitas ini sudah berlangsung sejak Israel memenangkan perang Arab tahun 1967. Tujuan utamanya? Israel ingin menulis ulang sejarah di wilayah sengketa Palestina-Israel.

Demikian salah satu hasil investigasi Al Jazeera yang dipublikasikan, Selasa (11/1). "Banyak artefak Palestina kini dipajang di museum Israel dan jatuh ke tangan koleksi pribadi. Bahkan ada yang dijual ke turis-turis asing," demikian Al Jazeera.

Bagi Israel, arkeologi adalah salah satu kunci utama untuk menegaskan klaim wilayah mereka atas wilayah yang tadinya milik Palestina. Sementara bagi Palestina, artefak dan situs-situs purbakala di Tepi Barat, Jerusalem, dan Gaza adalah sejarah penting bagi mereka. Selain sebagai sumber pemasukkan ekonomi dari pariwisata.

Salah satu wilayah yang paling kaya akan tinggalan artefak di Palestina adalah Jericho. Di wilayah ini, banyak ditemukan arca-arca unik dari abad ke-7, di masa kepemimpinan Dinasti Umayyah. Awalnya, arca-arca ini disimpan di salah satu museum milik Palestina. Namun setelah perang 1967, Israel merebut museum itu dan mengganti namanya dengan Rockefeller Museum.

Palestina mendesak agar museum dan segala isinya dikembalikan ke mereka. Palestina pun sudah menunjuk kuasa hukum untuk mengajukan gugatan atas Israel.

"Palestina termasuk salah satu wilayah di dunia yang menderita akibat pencurian artefak-artefak," kata Hamdan Taha, salah satu peneliti dari Departemen Arkeologi Palestina.

Namun, arkeolog Israel, Rafi Greenberg, berkata sebaliknya. Greenberg mengatakan penggalian situs dan pengangkatan artefak di wilayah Palestina maupun Israel sangat penting untuk konservasi situs maupun sejarah. "Tepi barat pada awalnya adalah satu kebudayaan. Penggalian kami tidak mengenal batas-batas politik masa kini," kata Greenberg.

Salah satu artefak milik Palestina yang kini sudah berpindah tangan adalah naskah Laut Mati. Naskah ini awalnya ditemukan di wilayah Palestina, namun setelah perang 1967 Israel merebutnya dan memajangnya di salah satu museum paling bergengsi di Israel.

Contoh lainnya adalah keberadaan Masjid Al Aqsa. Masjid ini adalah salah satu situs paling berharga bagi bangsa Palestina maupun Israel. Di bawah tanah masjid terdapat tinggalan arkeologi yang umurnya sampai 2.000 tahun lalu.

"Namun tidak ada pemandu tur asal Palestina di  sana. Yang ada hanyalah pemandu tur asal Israel. Tentu yang mereka jelaskan ke para turis adalah sejarah Al Aqsa dari sudut pandang Israel. Dan para turis tidak mengetahui hal ini," kata Al Jazeera.

Mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair, yang menjadi utusan khusus di Palestina-Israel mengatakan pihaknya ingin membantu Palestina mendapatkan kembali artefak-artefaknya.

Sejumlah arkeolog Israel ada yang melihat bahwa Pemerintah Israel sengaja mempolitisasi artefak maupun situs milik Palestina. "Mereka ingin mengarahkan sentimen masyarakat Israel demi tujuan utamanya: mencaplok wilayah Palestina," demikian salah satu arkeolog.***


Sumber: Al Jazeera via Republika.co.id

5:45 PM | Posted in , | Read More »

90 Persen Benteng di Indonesia Rusak


MAKASSAR, KOMPAS.com - Sebanyak 90 persen dari 442 benteng di Indonesia yang diinventarisasi Kementerian Budaya dan Pariwisata selama tiga tahun terakhir, musnah, rusak, dan beralih fungsi. Tim dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala kini tengah mengkaji pemanfaatan benteng-benteng tersebut.

Direktur Peninggalan Purbakala pada Kementerian Budaya dan Pariwisata, Junus Satrio Atmodjo, di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (12/1/2011), mengatakan benteng-benteng berupa pilbox atau bunker peninggalan Perang Dunia II yang ada di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, umumnya musnah karena telah menjadi perkebunan.

Adapun sekitar 50 persen dari 37 benteng peninggalan Perang Diponegoro (1825-1830) di Pulau Jawa rusak dan terbengkalai. Sementara sisanya yang masih berkondisi baik justru dimanfaatkan warga untuk sarang walet, seperti Benteng Pendem dan Willem I di Kecamatan Ambarawa, Jawa Tengah. Ada pula sejumlah benteng yang kini difungsikan untuk rumah tahanan dan markas militer.

Menurut Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala, Aurora Frida Tambunan, pihaknya tengah merumuskan langkah yang paling tepat untuk pemanfaatan benteng-benteng tersebut.

"Hasil rekomendasi akan kami berikan pada setiap kepala daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota paling lambat pertengahan tahun ini," tutur Aurora, seusai membuka pameran bertajuk "Benteng-Benteng: Dulu, Kini, dan Esok" di Benteng Fort Rotterdam, Makassar.

Rekomendasi itu diharapkan menjadi pedoman para pemangku kebijakan di setiap wilayah dalam membenahi kondisi benteng. Ia berharap pelestarian itu nantinya dilakukan dengan mengedepankan pemanfaatan potensi benteng. Metode tersebut akan membuat benteng memiliki nilai ekonomis yang dapat digunakan untuk membiayai pelestarian.

Beberapa benteng yang kondisinya baik dan bernilai ekonomis, antara lain Benteng Vredeburg (Yogyakarta), Vastenburg (Solo), Fort Van Der Capellen (Batusangkar), Marlborough (Bengkulu), dan Fort Rotterdam (Makassar).

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, misalnya, baru saja menyelesaikan revitalisasi tahap I Benteng Fort Rotterdam tahun lalu. Biaya sebesar Rp 10 miliar itu digunakan untuk menata tampilan fisik benteng dan merobohkan gedung Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang berlokasi di sebelah selatan benteng.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Syuaib Mallombasi, revitalisasi tahap II akan dilanjutkan tahun ini dengan merobohkan gedung Radio Republik Indonesia yang berlokasi di sebelah utara benteng. Pemprov Sulsel juga akan membangun kanal selebar 3 meter untuk wisata keliling benteng menggunakan kano.

"Bangunan di belakang pun sebagian akan kami pugar agar tampilan benteng dapat dinikmati dari segala penjuru," ujar Syuaib.

Selain Fort Rotterdam, revitalisasi juga akan dilakukan terhadap Benteng Somba Opu. Namun, proses pelestarian yang melibatkan investor baru akan dilakukan setelah penetapan zonasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Sulsel rampung pada 15 Januari nanti.

Inventarisasi terhadap keberadaan benteng akan terus dilanjutkan tim Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. Berdasarkan catatan Pemerintah Kolonial Belanda terdapat sekitar 600 benteng di Tanah Air.***

Penulis: Aswin Rizal Harahap, Editor: I Made Asdhiana

Sumber: Kompas
Sumber ilustrasi: Kompas

5:40 PM | Posted in , , | Read More »

Sejarah kebudayaan Australia Dipentaskan

William Yang dan penyiar AnnetteShun Wah
Fairfield-advance.whereilive.com.au - Sejarah kebudayaan Australia menjadi pusat perhatian dalam sebuah pertunjukan teaterikal di Parramatta Riverside Theatres pada bulan Januari 2011.

Dalam pertunjukan Stories East and West, fotografer William Yang dan penyiar AnnetteShun Wah menyelidiki beragam sejarah kebudayaan di Australia melalui serangkaian media termasuk fotografi, pertunjukan, dongeng dan dokumen dari arsip sejarah.

Karya mereka termasuk enam pendongeng yang memiliki akar leluhur China, Vietnam dan Malaysia, yang sama-sama memiliki sejarah yang sama dan mengeksplorasi hubungan antara mereka dengan para leluhur dengan warisan kebudayaannya padamasa kini.

"Australia memiliki warisan yang sangat beragam dan eksplorasi ini mengungkapkan perpaduan berbagai cerita dari masa lampau milik orang-orang bumiputera dan Asia," papar William Yang. "Pertunjukan tersebut berguna karena menyajikan cerita-cerita yang dapat teridentifikasi dengan cara yang paling menarik."

Stories East and West dipentaskan di Riverside Theatres, Parramatta, Australia, pada 28 dan 29 Januari pada jam 19.30. Tiket masuk $32 dan $28. Tiket dapat dipesan melalui telepon 8839 3399.***


Sumber: fairfield-advance.whereilive.com.au
Sumber ilustrasi: fairfield-advance.whereilive.com.au

8:03 PM | Posted in , | Read More »

Penjualan Toyota 2010 Cetak Sejarah di Indonesia

Media Indonesia - PT Toyota Astra Motor (TAM) mengumumkan bahwa tahun 2010, merupakan tahun yang menggembirakan bagi dunia otomotif terutama bagi Toyota. Pasalnya, di tahun 2010 Toyota berhasil meraih prestasi tertinggi selama 40 tahun berkiprah di Indonesia.

TAM  berhasil menutup penjualan wholesales sebanyak 280.680 unit, sementara dari sisi retail meraih angka 280.711 unit. Angka ini sekaligus mencetak sejarah penjualan tertinggi yang pernah dicapai sebuah ATPM di Indonesia.

Pertumbuhan volume penjualan TAM yang mencapai lebih dari 2 kali lipat ini sekaligus membuat Toyota Ondonesia sebagai salah satu pencetak penjualan tertinggi di atas negara-negara yang terkenal kuat dalam industri otomotif seperti Thailand dan Korea.

Secara umum memang ada kekhawatiran melemahnya pasar otomotif tahun ini terkait rencana pemerintah mengurangi penggunaan bahan bakar (BBM) bersubsidi untuk kendaraan pribadi pada April mendatang. Namun menurut Presdir TAM Johnny Darmawan, dampak kebijakan pemerintah merupakan tantangan yang harus dihadapi tanpa harus perlu pesimis.

"Selama iklim investasi dan makro ekonomi mampu dipertahankan dan bahkan diperbaiki, pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini bisa lebih baik sehingga daya beli masyarakat juga ikut meningkat," ujar Johnny.

Johnny memprediksikan pasar mobil tahun 2011 ini akan lebih bergairah meski dibayang-bayangi oleh pajak BBN-KB dan pajak progresif. Jika semuanya berjalan sesuai harapan, ia memperkirakan penjualan mobil tahun ini mampu menyentuh 830 ribu unit bahkan bisa saja melewati 850 ribu unit.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, menurut Johnny, industri otomotif telah menempati posisi yang semakin strategis, baik dalam memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi maupun pendapatan pemerintah dari pajak, mulai pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.

"Jika pemerintah sendiri tidak hati-hati dalam memperhitungkan formulasi kebijakan, bisa-bisa kinerja industri otomotif sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi dan kontributor penerimaan pajak bagi pemerintah akan anjlok. Dampaknya juga akan terasa secara luas, termasuk bagi lapangan kerja," papar Johnny di acara Gathering Toyota di Rumah Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (10/1). (OL-07)


Sumber: mediaindonesia.com
Sumber ilustrasi: indonesia-cars.com

7:40 PM | Posted in , | Read More »

Awal Karir Joseph Conrad sebagai Sastrawan

Pada 9 Januari 1894, Joseph Conrad tiba di London untuk bermukim di kota itu setelah bertahun-tahun berkelana sebagai pelaut. Di London, ia mulai menulis ulang sebuah cerita yang telah lama dikerjakannya selama dalam petualangan. Cerita ini kemudian menjadi novel pertamanya, Almayer's Foley.

Conrad lahir di Polandia dengan nama Jozef Teodor Konrad Korzeniowski. Ia adalah putra seorang penyair dan patriot Polandia. Ayah Conrad ditangkap pada 1861 karena aktivitas dalam bidang politik, lalu dibuang ke Rusia utara. Istri dan anaknya yang masih bayi turut serta.

Kedua orangtua Conrad meninggal pada saat ia berusia 12 tahun karena tuberkolosis (TBC). Setelah itu Conrad dirawat oleh salah seorang pamannya. Pada usia 17 tahun, Conrad pergi ke Marseilles, Perancis, di mana selanjutnya ia bergabung dengan kapal pedagang dan berlayar ke West Indies (Hindia Barat). Inilah awal petualangan di laut banyak menginspirasi karya-karya Conrad.

Pada 1878, ketika Conrad berusia 21, ia melakukan perjalanan ke Inggris sebagai awak kapal biasa di sebuah kapal dagang Inggris. Ia belajar bahasa Inggris selama enam pelayaran berikutnya dengan sebuah kapal dagang kecil milik Inggris, lalu menghabiskan 16 tahun dengan kapal dagang Angkatan Laut Inggris. Ia banyak melakukan perjalanan keliling dunia.

Pada 1888, ia menjadi kapten sebuah kapal. Setahun kemudian, ia memimpin sebuah kapal uap di Sungai Kongo selama empat bulan, yang kemudian memberikan latar tempat bagi salah satu karyanya yang paling masyhur: The Heart of Darkness (1902).

Almayer's Folly diterbitkan pada 1895. Karya Conrad selanjutnya berkembang dari kisah-kisah petualangan di laut yang bergelora menjadi eksplorasi moral, pilihan-pilihan personal, dan karakter yang pesimistis. Karya-karyanya yang paling banyak dikenal umum diterbitkan antara 1900 dan 1911, seperti Lord Jim, Nostromo dan The Secret Agent.

Namun, ia baru bisa merasakan keamanan finansial lama setelah ia menekuni bidang penulisan sastra. Conrad meninggal pda 1924.*** (AI/PER4/01-2011)


Sumber: History.com
Sumber ilustrasi: eastereuropewatch.blogspot.com

6:31 PM | Posted in , | Read More »

Inflasi di Eropa pada 1920-an

Fakta bahwa sebuah negara tertentu pernah mengalami sebuah krisis moneter yang parah kadang-kadang cukup menjadi alasan untuk mengoleksi mata uang yang terinflasi. Ketika para kolektor berpikir tentang peristiwa semacam itu, salah satu negara yang biasanya segera muncul dalam pikiran adalah Jerman dengan bencananya pada 1920-an. Dan memang ada satu alasan yang cukup bagus: uang kertas yang tak terhitung jumlahnya yang disebabkan oleh malapateka ekonomi tersebut merupakan salah satu jenis mata uang yang paling banyak tersedia. Terlebih lagi, uang kertas semacam itu memberikan pengaruh besar pada , pelbagai penerbitan mata uang yang lain -- sebagian di antaranya terkait dengan waktu penggunaan dan sebagian lain karena permintaan kolektor.

Inflasi-inflasi lain yang terjadi pada masa atau sekitar masa yang sama kurang mendapatkan perhatian karena tidak sebesar eskalasi inflasi di Jerman. Paling tidak, inflasi-inflasi di negara-negara tersebut tidak terlalu banyak ditelliti terutama dalam pengertian inflasi macam apa yang dialami di negara-negara tersebut. Saya mengakui bahwa Austria paling jelas gambaran inflasinya, namun pengakuan semacam itu hanya parsial karena begitu meluasnya penggunaan uang kertas cadangan (emergency notes) atau notgeld sebagian besar berasal dari periode 1920-an. Namun, yang ingin saya diskusikan adalah inflasi di beberapa negeri lain, yang sering kali dilupakan atau diabaikan – tepatnya Armenia, Danzig, Estonia, Hongaria, Latvia, Polandia dan Rusia.

Armenia
Pada 1918, Armenia memproklamasikan diri sebagai negara merdeka. Mata uang sementara diterbitkan untuk membantu memenuhi pelbagai tanggung jawab dan pengeluaran fiksal sebesar 6 hingga 8 juta rubel setiap bulannya. Sejak Agustus 1919 hingga 1920, cek sebesar 1,1 milyar rubel telah dikeluarkan. Masalahnya, jumlah itu sebenarnya hanya setara dengan 2 juta rubel dalam emas. Armenia menjadi bagian dari Soviet pada 1922 dan inflasi menjadi semakin parah. Denominasi uang kertas pada masa awal Soviet sama dengan 5 juta rubel pada 1922. Inflasi Armenia berakhir ketika pemerintah Soviet berhasil membawa stabilitas pada sistem rubelnya pada 1924.

Danzig
Secara historis, wilayah Danzig telah ditendang ke sana ke mari bagaikan sepakbola sejak tahun 997, ketika wilayah ini diklaim untuk pertama kalinya sebagai wilayah Polandia. Danzig memperoleh otonomi pada 1260, namun pada 1308 wilayah ini direbut oleh para Ksatria Teutonik yang tetap berkuasa di sana hingga Polandia merebutnya kembali pada 1466. Pada 1722, wilayah ini direbut oleh Prusia, lalu menjadi milik Jerman, dan dijadikan kota merdeka oleh Napoleon Bonaparte pada 1807. Kemudian wilayah ini menjadi bagian dari Prusia Barat. Seusai Perang Dunia I, wilayah ini sekali lagi dinyatakan sebagai sebuah kota merdeka dan akhirnya diberikan kepada Polandia dan sejak itu dikenal sebagai Gdansk.

Danzig mengeluarkan koin dan uang kertas atas namanya selama periode 1918 hingga 1937. Hiperinflasi di Jerman benar-benar mempengaruhi penerbitan mata uang Danzig pada 1923. Pada tahun sebelumnya, denominasi mata uang kertas tertinggi mencapai 1000 mark, diterbitkan pada bulan Oktober. Namun setahun kemudian nilai mata uang tertinggi telah mencapai 10 milliarden (=10 milyar) mark. Sebuah revaluasi total dan konversi sistemik pada tahun tersebut berhasil memulihkan stabilitas dengan diperkenalkannya mata uang Gulden.

Estonia
Sejak masa purba, negara Baltik ini telah dikuasai oleh pelbagai kekuatan penakluk. Sebagian besar dari para penguasa besar Eropa terlibat dalam pendudukan atas negeri ini, terutama dari bangsa Jerman, Ksatria Teutonik, Swedia, Polandia dan tentu saja Rusia. Pada 5 November 1917, tak lama setelah dimulainya Revolusi Oktober (Bolsyewik), Estonia akhirnya memproklamasikan diri sebagai sebuah negara merdeka. Tindakan ini tidak serta merta menghapuskan sama sekali pengaruh moneter dari penguasa sebelumnya. Sebelum sempat dilakukan tindakan moneter apapun, Jerman menduduki Estonia selama Perang Dunia I.

Semua peristiwa tersebut, ditambah dengan perjuangan kemerdekaan, menyebabkan mark Estonia menderita inflasi selama 1919-1920. Denominasi mata uang tertinggi di Estonia selama periode ini adalah 100.000 marka. Walaupun stabilisasi berjalan cukup lancar pada 1921, baru pada tahun 1928 sistem Kroon menggantikan sistem mark dengan rata-rata 100 berbanding 1.

Hongaria
Menyusul berakhirnya Perang Dunia I, Sekutu dan Hongaria menandatangani Perjanjian Trianon, sebuah kesepakatan damai yang berkaitan erat dengan pelbagai tahapan dalam kehidupan nasional Hongaria. Banyak sekali yang diambil dari sisa-sisa negara Hongaria setelah keruntuhan Kekaisaran Austro-Hongaria, terutama dalam hal perbatasan. Hilangnya kawasan-kawasan pertanian dan industrial yang berharga sebagai hasil dari perjanjian ini menyebabkan rangkaian inflasi pada korona Hongaria dengan nilai setinggi 1.000.000 korona yang diterbitkan pada 1923. Dua tahun kemudian, sistem Pengo diperkenalkan dan permasalahan moneter Hongaria pun terpecahkan walaupun hanya untuk sementara.

Latvia
Sebagaimana Estonia, negeri Baltik ini selalu berpindah dari satu penguasa ke penguasa lain, sebelum akhirnya dikuasai Rusia pada 1795. Kekuasaan Rusia baru berakhir dengan pecahnya Perang Dunia I. Kemerdekaan diproklamasikan dan diperjuangan, yang menyebabkan pengeluaran besar untuk biaya perang dan pelbagai inflasi skala menegah. Pada 1921, Latvia mampu memperkenalkan sistem lats dengan nilai tukar 10 latu sama dengan 500 rubli uang kertas pada 1920, dengan rasio 50 berbanding 1.

Polandia
Tidak banyak negeri lain yang memiliki sejarah penuh gelora seperti bangsa di Eropa tengah ini. Negeri ini pernah berjaya, lalu luluh lantak hingga benar-benar hilang dari peta, dan kemudian muncul lagi. Polandia muncul sebagai sebuah negara merdeka pada 11 November 1918 – Hari Kemerdekaan Polandia. Perjanjian Versailles memberikan kawasan industri penting di Upper Silesia, yang dulunya milik Jerman, kepada negara Polandia yang baru.

Walaupun demikian, kondisi ekonomi di negeri tersebut setelah Perang Dunia I sangat sulit terutama karena pengaruh jatuhnya mark Jerman dan revolusi Rusia. Denominasi uang Polandia melonjak dari 500 marek pada 1922 menjadi100 juta marek pada akhir 1923. Tahun berikutnya, diperkenalkan sistem zloty yang baru, mula-mula dengan mata uang yang senilai dengan setengah dari nilai mata uang yang terkena inflasi. Penerbitan mata uang dengan nilai rendah dan tinggi menyusul tak lama setelahnya.

Rusia
Revolusi Rusia sebenarnya beroperasi dengan dua lapis. Pertama, muncul pemerintahan sementara Kerensky pada Februari 1917, yang menumbangkan Czar Nicholas II dan kekaisarannya yang lemah. Kemudian, pada bulan Oktober, kaum Bolsyewik melancarkan pemberontakan dan apa yang kemudian dikenal sebagai “Revolusi Rusia” pun pecah dan berlangsung hingga 1924. Intinya adalah, ketika kita membayangkan Rusia pada periode ini, gagasan tentang pelbagai bentuk inflasi menjadi terlalu berlebihan karena begitu banyak uang kertas yang dikeluarkan pada tahun-tahun pergolakan itu.

Dalam kenyataannya, yang disebut sebagai “pemerintah” jatuh dan bangun seirama dengan jalannya peperangan, yang sebagian besar meninggalkan jejak pada fiskal berupa situasi ekonomi yang tidak stabil. Contohnya adalah pemerintah Kawasan Utara, yang dikontrol oleh pemimpin Sosialis-Borjuis, menerbitkan uang kertas hingga 10.000 rublei pada 1918. Di Rusia Utara, penerbitan mata uang yang direvalidasi pada 1919 mencapai 100.000 rublei. Pemerintah Teritorial Krimea menerbitkan uang kertas hingga 5.000 rublei pada 1918. Pemerintah Militer Cossack Don di Astrakhan membuat mata uang yang mencakup nilai 50.000 rublei. Salah satu penerbit mata uang di Rusia Selatan menerbitkan uang hingga 100.000 rublei. Mata uang kertas Vladivostok Railroad mencapai 10.000 rublei. Soviet Transcaucasia menerbitkan mata uang hingga mencapai 10 juta rubel pada 1923, dan berlanjut hingga mencapai 10 milliarde rublei pada 1924. Azrbaijan dan Georgia menerbitkan mata uang kertas 5 juta rublei. Bahkan setelah pemerintahan Rusia yang lebih padu muncul pada periode 1921-1923, masih ada masalah dengan inflasi.

Epilog
Inflasi, baik yang lunak maupun yang parah, adalah bagian dari sejarah moneter dunia. Terlihat bahwa segera setelah mata uang kertas diterbitkan, maka muncullah inflasi dalam kadar tertentu. Ada masalah seperti ini pada penerbitan uang kertas yang pertama di China, Swedia, dan Norwegia, juga Perancis pada 1719-1720 (Hukum John) dan Revolusi Perancis (1789-1793). Tidak mengherankan bahwa hingga beberapa tahun terakhir ini, mata uang kertas tidak banyak dikoleksi karena dianggap sebagai uang tanpa nilai kecuali jika dapat dikonversi menjadi uang yang sebenarnya, yang berarti emas dan perak.

Saat ini, kita sedang menyaksikan maraknya minat pada semua jenis uang kertas yang menurut saya sebagian disebabkan uang keras dalam bentuk koin telah menjadi sama berharganya dengan lembaran-lembaran kertas yang merepresentasikan suatu nilai. Koin perak atau emas yang kini dibuat hanya dijual karena persentase nilai metalnya, dan tidak digunakan sebagai uang lagi.***


Artikel ini diadaptasi dari Europe Had Many Inflations in 1920 yang ditulis oleh Neil Shafer, Bank Note Reporter.

Sumber: numismaster.com
Sumber ilustrasi: numismaster.com

8:09 PM | Posted in , | Read More »