Sjarifuddin Prawiranegara: Presiden yang Tak Diakui

Sejarah-harian.comSjarifuddin Prawiranegara hingga kini belum diakui sebagai pahwalan nasional oleh Pemerintah RI. Padahal, perannya sangat vital dalam masa Revolusi Fisik 1945-1949.Tatkala Belanda berhasil menguasai ibukota Yogyakarta dalam Agresi Militer II dan menawan Soekarno-Hatta, dia menjadi tokoh penting yang memberikan kepastian kepada dunia internasional bahwa RI masih tegak berdiri.

Sebelum ditawan Belanda, Soekarno-Hatta sempat mengirim sebuah telegram kepadanya yang saat itu sedang berada di Bukit Tinggi untuk melakukan konsolidasi di Sumatra. Dalam telegram tersebut, Seokarno-Hatta dengan tegas memerintahkan kepadanya agar membentuk Pemerintahan Darurat RI di Sumatra.

Alhasil, dialah yang selama 207 hari menjadi Ketua PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang mengemban fungsi dan tugas presiden RI. Hal tersebut diungkapkan sejarawan Asvi Warman Adam dalam acara bedah buku “Presiden Prawiranegara: Kisah 207 Hari Sjarifuddin Prawiranegara Memimpin Bangsa” karya Akmal Nasery Basral yang digelar Pusat Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Pussis-Unimed) di Fakultas Ilmu Sosial Unimed, sebagaimana dilaporkan Waspada.

PDRI menjaga kelangsungan Negara Indonesia setelah penawanan Soekarno-Hatta oleh Belanda menyebabkan terhadinya kekosongan pemerintahan. Dengan adanya PDRI, Negara Indonesia dapat memenuhi syarat sah sebagai negara, yaitu adanya kepemimpinan. Keberadaan PDRI sekaligus membatalkan pernyataan Belanda tentang telah hilangnya RI akibat Agresi Militer II.

Secara resmi, PDRI dibentuk pada tanggal 19 Desember 1948 atas prakarsa Sjarifuddin Prawiranegara dan disetujui oleh TM Hasan yang saat itu menjabat Gubernur Sumatera. Dasar pembentukan tersebut adalah demi keselamatan Negara Republik Indonesia yang sedang berada dalam bahaya. Sang pemrakarsa ditunjuk menjadi Ketua PDRI dan TM Hasan menjadi wakil. Pemerintahan Darurat tersebut juga dilengkapi dengan kabinet yang terdiri dari beberapa menteri.

Ketua PDRI menyerahkan mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 setelah Soekarno-Hatta dibebaskan Belanda. Penyerahan mandat tersebut secara otomatis mengakhiri keberadaan PDRI. Dengan demikian, Ketua PDRI menjalankan tugasnya selama 207 hari. (SJ)***

12:00 AM | Posted in , | Read More »

Tempat Kelahiran Soekarno: Surabaya, Bukan Blitar

Sejarah-harian.comTempat kelahiran Soekarno adalah sebuah rumah yang pada tanggal 6 Juni 1901 – tanggal lahir sang bapak bangsa tersebut – terletak di sebuah ruas jalan bernama Jalan Lawang Seketeng, Surabaya. Hal ini bertentangan dengan anggapan populer yang sering menyebutkan bahwa proklamator dan presiden pertama RI tersebut lahir di kota Blitar.

Sebagai upaya untuk meluruskan anggapan yang keliru itu, Peter A Rohi, ketua Soekarno Institute, menyatakan bahwa pihaknya akan memasang sebuah prasasti di depan rumah yang dimaksud pada tanggal 6 Juni 2011. Tanggal pemasangan ini disesuaikan dengan tanggal lahir Putra Sang Fajar tersebut sekaligus untuk mengenang 110 tahun hari lahir Bung Karno, demikian diberitakan Suarapembaruan.com.

Peter A Rohi tidak main-main dengan klaimnya bahwa tempat kelahiran Soekarno memang di Surabaya. Ada setumpuk buku yang diajukannya untuk mendukung klaim tersebut, di antaranya “Soekarno Bapak Indonesia Merdeka” karya Bob Hering, “Ayah Bunda Bung Karno” (2002) karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dan “Kamus Politik” (1950) karya Adinda dan Usman Burhan.

Buku lain termasuk “Ensiklopedia Indonesia” (1955), “Ensiklopedia Indonesia” (1985), dan “Im Yang Tjoe” (1933) yang ditulis ulang oleh Peter sendiri dengan judul “Soekarno Sebagi Manoesia” (2008). Selain itu, Peter juga mengungkapkan bahwa arsip nasional telah mencatat hal yang sama. Bahkan, mantan Kepala Perpustakaan Blitar telah mengakui bahwa negarawan besar tersebut memang dilahirkan di Surabaya, bukan di Blitar.

Menurut hasil penelusuran Vivanews.com, sebagian sejarawan belum bisa memastikan apakah tempat kelahiran Soekarno memang di Surabaya atau di Blitar. Suhartono, sejarawan dari UGM, menyatakan bahwa Bung Karno memang lahir di Blitar. Asvi Warman Adam hanya ingat bahwa Bung Karno lahir di Blitar namun mengakui bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan fakta sejarah tentang hal tersebut.

Asvi menyatakan bahwa hal yang paling jelas untuk saat ini adalah bahwa makam Bung Karno ada di Blitar. Namun hal tersebut juga menjadi bahan kontroversi karena ada sebagian pihak yang mempertanyakan apakah benar-benar jasad Bung Karno yang ada di makam tersebut. Asvi lebih lanjut menjelaskan, anggota keluarga tidak diajak dan turut menyaksikan proses pemugaran makam yang dilakukan beberapa tahun setelah sang proklamator wafat.

Kompas.com melaporkan bahwa Andreas Edison, budayawan asal Blitar, membenarkan bahwa tempat kelahiran Soekarno memang di Surabaya. Kusno, nama kecil sang proklamator, pindah ke Blitar karena mengikuti orangtua sekaligus untuk menempuh pendidikan. Lebih lanjut, Andreas menyetujui rencana pemasangan prasasti di depan rumah di Jalan Pandean IV Surabaya.

Andreas juga menyatakan tidak khawatir pemasangan prasasti tersebut akan menurunkan jumlah pengunjung di makam Bung Karno di Blitar. Bagaimana pun, menurut Andreas, Blitar tetap menjadi bagian dari singa podium tersebut karena makamnya terletak di kota tersebut. (SJ)***

10:52 PM | Posted in , | Read More »

Nani Wartabone, Pahlawan Nasional dari Gorontalo

Nani Wartabone, (lahir 30 Januari 1907, meninggal 3 Januari 1986), yang dianugerahi gelar "Pahlawan Nasional Indonesia" pada tahun 2003, adalah putra Gorontalo dan tokoh perjuangan dari provinsi yang terletak di Sulawesi Utara itu. Catatan perjuangannya dalam sejarah Indonesia dimulai ketika ia mendirikan dan menjadi sekretaris Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923. Lima tahun kemudian, ia menjadi Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Cabang Gorontalo.

Tiga tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ia bersama masyarakat setempat terlebih dulu memproklamasikan kemerdekaan Gorontalo, yaitu pada tanggal 23 Januari 1942.

Setelah tentara Sekutu dikalahkan Jepang pada Perang Asia-Pasifik, Belanda merencanakan pembumihangusan Gorontalo yang dimulai pada 28 Desember 1941 dengan mulai membakar gudang-gudang kopra dan minyak di Pabean dan Talumolo.

Nani Wartabone dan rakyat Gorontalo mencoba menghalanginya dengan menangkapi para pejabat Belanda yang masih ada di Gorontalo. Pada 23 Januari, dimulai dari kampung-kampung di pinggiran kota Gorontalo seperti Suwawa, Kabila dan Tamalate, Nani Wartabone dan rakyat Gorontalo bergerak mengepung kota. Pukul lima subuh Komandan Detasemen Veld Politie WC Romer dan beberapa kepala jawatan yang ada di Gorontalo menyerah.

Selesai penangkapan, Nani Wartabone memimpin langsung upacara pengibaran bendera Merah Putih yang diiringi lagu "Indonesia Raya" di halaman Kantor Pos Gorontalo. Peristiwa bersejarah itu berlangsung pada pukul 10, dan Nani Wartabone sebagai inspektur upacaranya.

Di hadapan massa rakyat, ia berpidato: "Pada hari ini, tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dan penjajahan bangsa mana pun juga. Bendera kita yaitu Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintahan Belanda sudah diambil oleh Pemerintah Nasional. Agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban."

Sore harinya, Nani Wartabone memimpin rapat pembentukan Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG) yang berfungsi sebagai Badan Perwakilan Rakyat (BPR) dan Nani dipilih sebagai ketuanya.

Empat hari kemudian, Nani Wartabone memobilisasi rakyat dalam sebuah rapat raksasa di Tanah Lapang Besar Gorontalo. Tujuannya adalah mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan itu dengan risiko apapun.

Sebulan sesudah "Proklamasi Kemerdekaan Nasional" di Gorontalo, tentara Jepang mulai mendarat. Pada 26 Februari sebuah kapal perang Jepang yang bertolak dari Manado berlabuh di pelabuhan Gorontalo. Nani Wartabone menyambut baik bala tentara Jepang ini dengan harapan kehadiran mereka akan menolong PPPG. Ternyata sebaliknya, Jepang justru melarang pengibaran bendera Merah Putih dan menuntut warga Gorontalo bersedia tunduk pada Jepang.

Nani Wartabone menolak permintaan ini. Namun karena tidak kuasa melawan Jepang, ia kemudian memutuskan meninggalkan kota Gorontalo dan kembali ke kampung kelahirannya Suwawa, tanpa ada penyerahan kedaulatan.

Di Suwawa Nani Wartabone mulai hidup sederhana dengan bertani. Rakyat yang berpihak kepada Nani Wartabone akhirnya melakukan mogok massal sehingga Gorontalo bagaikan kota mati. Melihat situasi ini, Jepang melalui kaki tangannya melancarkan fitnah, bahwa Nani Wartabone sedang menghasut rakyat untuk berontak kepada Jepang.

Akibat fitnah itu, Nani Wartabone akhirnya ditangkap pada 30 Desember 1943 dan dibawa ke Manado. Di sini, Nani Wartabone mengalami berbagai siksaan. Salah satu siksaan Jepang yang masih melekat dalam ingatan masyarakat Gorontalo hingga saat ini adalah ketika Nani Wartabone selama sehari semalam ditanam seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala di pantai di belakang Kantor Gubernur Sulawesi Utara sekarang. Hampir sehari kepala Nani Wartabone dimainkan ombak dan butir-butir pasir. Nani Wartabone baru dilepaskan Jepang pada 6 Juni 1945, saat tanda-tanda kekalahan Jepang dari Sekutu mulai tampak.

Setelah menyerah kepada Sekutu, Jepang masih tetap menghormati Nani Wartabone sebagai pemimpin rakyat Gorontalo. Ini terbukti dengan penyerahan pemerintahan Gorontalo dari Jepang kepada Nani Wartabone pada tanggal 16 Agustus 1945. Sejak hari itu Sang Saka Merah Putih kembali berkibar di bumi Gorontalo setelah diturunkan Jepang sejak 6 Juni 1942. Anehnya, setelah penyerahan kekuasaan itu, Nani Wartabone dan rakyat Gorontalo tidak mengetahui telah terjadi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta keesokan harinya. Mereka baru mengetahuinya pada 28 Agustus 1945.

Untuk memperkuat pemerintahan nasional di Gorontalo yang baru saja diambil alih dari tangan Jepang itu, Nani Wartabone merekrut 500 pemuda untuk dijadikan pasukan keamanan dan pertahanan. Mereka dibekali dengan senjata hasil rampasan dari Jepang dan Belanda. Pasukan ini dilatih sendiri oleh Nani Wartabone, sedangkan lokasi latihannya dipusatkan di Tabuliti, Suwawa. Wilayah ini sangat strategis, berada di atas sebuah bukit yang dilingkari oleh beberapa bukit kecil, dan bisa memantau seluruh kota Gorontalo. Di tempat ini pula, raja-raja Gorontalo zaman dahulu membangun benteng-benteng pertahanan mereka.

Setelah menerima berita proklamasi di Jakarta, pada tanggal 1 September 1945 Nani Wartabone membentuk Dewan Nasional di Gorontalo sebagai badan legislatif untuk mendampingi kepala pemerintahan. Dewan yang beranggotakan 17 orang ini terdiri dari para ulama, tokoh masyarakat dan ketua parpol. G. Maengkom yang pernah menjadi Menteri Kehakiman Rl dan Muhammad Ali yang pernah menjadi Kepala Bea Cukai di Tanjung Priok adalah dua dari 17 orang anggota dewan tersebut.

Sayangnya, keadaan ini tidak berlangsung lama karena Sekutu masuk. Bagi Belanda yang memboncengi Sekutu ketika itu, Nani Wartabone adalah ancaman serius bagi niat mereka untuk kembali menjajah Indonesia, khususnya Gorontalo. Mereka berpura-pura mengundang Nani Wartabone berunding pada 30 November 1945 di sebuah kapal perang Sekutu yang berlabuh di pelabuhan Gorontalo, lalu Belanda menawannya. Nani Wartabone langsung dibawa ke Manado.

Di hadapan Pengadilan Militer Belanda di Manado, Nani Wartabone dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun dengan tuduhan makar pada tanggal 23 Januari 1942. Dari penjara di Manado, Nani Wartabone dibawa ke Morotai yang kemudian dipindahkah ke penjara Cipinang di Jakarta pada bulan Desember 1946. Hanya sebelas hari di Cipinang, Nani kembali dibawa ke penjara di Morotai. Di sini ia kembali mengalami siksaan fisik yang sangat kejam dari tentara pendudukan Belanda. Dari Morotai, ia dikembalikan lagi ke Cipinang, sampai dibebaskan pada tanggal 23 Januari 1949, setelah pengakuan kedaulatan Indonesia.

Tanggal 2 Februari 1950, Nani Wartabone kembali menginjakkan kakinya di Gorontalo, negeri yang diperjuangkan kemerdekaannya. Rakyat dan Dewan Nasional yang berjuang bersamanya menyambut kehadirannya dengan perasaan gembira bercampur haru dan tangis. Kapal Bateku yang membawa Nani Wartabone disambut di tengah laut oleh rakyat Gorontalo. Nani Wartabone kemudian ditandu dari pelabuhan dibawa keliling kota dengan semangat patriotisme.

Rakyat kemudian membaiatnya untuk menjadi kepala pemerintahan kembali. Namun Nani Wartabone menentang bentuk pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) yang ada pada saat itu. Gorontalo sendiri berada dalam Negara Indonesia Timur. Menurutnya, RIS hanyalah pemerintahan boneka yang diinginkan Belanda agar Indonesia tetap terpecah dan mudah dikuasai lagi.

Nani Wartabone kembali menggerakkan rakyat Gorontalo dalam sebuah rapat raksasa pada tanggal 6 April 1950. Tujuan rapat raksasa ini adalah menolak RIS dan menuntut bergabung dengan NKRI. Peristiwa ini menandakan, bahwa Gorontalo adalah wilayah Indonesia pertama yang menyatakan menolak RIS.

Pada periode ini hingga tahun 1953, Nani Wartabone dipercaya mengemban beberapa jabatan penting, di antaranya kepala pemerintahan di Gorontalo, Penjabat Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan anggota DPRD Sulawesi Utara. Selepas itu, Nani Wartabone memilih tinggal di desanya, Suwawa. Di sini ia kembali turun ke sawah dan ladang dan memelihara ternak layaknya petani biasa di daerah terpencil.

Ketenangan hidup Nani Wartabone sebagai petani kembali terusik, ketika PRRI/PERMESTA mengambil alih kekuasaan di Gorontalo setelah Letkol Ventje Sumual dan kawan-kawannya memproklamasikan pemerintahan PRRI/PERMESTA di Manado pada bulan Maret 1957. Jiwa patriotisme Nani Wartabone kembali bergejolak. la kembali memimpin massa rakyat dan pemuda untuk merebut kembali kekuasaan dari PRRI/PERMESTA di Gorontalo dan mengembalikannya ke pemerintahan pusat di Jakarta.

Sayangnya, pasukan Nani Wartabone masih kalah kuat persenjataanya dengan pasukan pemberontak. Oleh karena itu, ia bersama keluarga dan pasukannya terpaksa masuk keluar hutan sekadar menghindar dari sergapan tentara pemberontak. Saat bergerilya inilah, pasukan Nani Wartabone digelari "Pasukan Rimba".

Berbagai cara dilakukan Nani Wartabone agar bisa mendapat bantuan senjata dan pasukan dari Pusat. Baru pada bulan Ramadhan 1958 datang bantuan pasukan tentara dari Batalyon 512 Brawijaya yang dipimpin oleh Kapten Acub Zaenal dan pasukan dari Detasemen 1 Batalyon 715 Hasanuddin yang dipimpin oleh Kapten Piola Isa. Berkat bantuan kedua pasukan dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan inilah, Nani Wartabone berhasil merebut kembali pemerintahan di Gorontalo dari tangan PRRI/PERMESTA pada pertengahan Juni 1958.

Setelah PRRI/PERMESTA dikalahkan di Gorontalo itu, Nani Wartabone kembali dipercaya memangku jabatan-jabatan penting. Misalnya, sebagai Residen Sulawesi Utara di Gorontalo, lalu anggota DPRGR sebagai utusan golongan tani. Setelah peristiwa G30S tahun 1965, Nani Wartabone kembali berdiri di barisan depan rakyat Gorontalo guna mengikis habis akar-akar komunisme di wilayah itu. Nani Wartabone yang pernah menjadi anggota MPRS Rl, anggota Dewan Perancang Nasional dan anggota DPA itu, akhirnya menutup mata bersamaan dengan berkumandangnya azan shalat Jumat pada tanggal 3 Januari 1986, sebagai seorang petani di desa terpencil, Suwawa, Gorontalo.

Pada peringatan Hari Pahlawan 2003, Presiden Megawati Soekarnoputri menyerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Nani Wartabone melalui ahli warisnya yang diwakili oleh salah seorang anak laki-lakinya, Hi Fauzi Wartabone, di Istana Negara, pada tanggal 7 November 2003. Wartabone ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2003 tertanggal 6 November 2003.

Untuk mengenang perjuangannya di kota Gorontalo dibangun Tugu Nani Wartabone untuk mengingatkan masyarakat Gorontalo akan peristiwa bersejarah 23 Januari 1942 itu.***


Sumber artikel dan foto: kejayaangorontalo.blogspot.com

10:09 PM | Posted in , | Read More »

Apa yang Didapatkan dari Polemik Yogyakarta?


Salah satu motivasi yang menggerakan laju perkembangan sejarah suatu bangsa adalah motivasi politik. Namun, sejak berdiri sendiri sebagai sebuah disiplin akademis pada abad ke-19, ilmu politik tetap tidak bisa melepaskan diri dari disiplin "induk"-nya, yaitu ilmu ekonomi. Oleh karena itu untuk memahami gejolak politik yang kini terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta, kerangka ekonomi pun sebaiknya tetap digunakan.

Ada rumusan sederhana dalam ilmu politik yang menyatakan bahwa hakikat politik adalah who gets what, how and when. Politik adalah soal siapa yang mendapatkan apa, bagaimana caranya dan kapan. Dalam masalah keistimewaan Yogyakarta, setidaknya pihak-pihak yang bertentangan dapat dipetakan menurut ketiga kerangka tersebut. Hasilnya, kita bisa memilah tiga pihak: rakyat biasa yang menuruti apapun hasil dari kontroversi keistimewaan, pemerintah pusat RI yang berkedudukan di Jakarta, dan pemerintah daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kontroversi dimulai dengan soal kepemimpinan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang sekaligus merupakan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Siapakah yang berhak memimpin wilayah administratif, kultural dan geografis tersebut? Sebagian besar penduduk Yogyakarta menyatakan dengan tegas: Sultan Hamengkubuwono X. Namun, pemerintah pusat RI, yang ingin konsisten dengan proses demokratisasi sebagai amanat Reformasi 1998, menginginkan bahwa kepala daerah DIY harus dipilih melalui pemilihan kepala daerah sebagaimana yang dipraktekkan di daerah-daerah lain. Rakyat, tentu saja, tidak bisa menolak keputusan yang dihasilkan oleh pemerintah daerah di DIY maupun pemerintah pusat di Jakarta.

Pemerintah Pusat
Apa yang akan didapat oleh kedua belah pihak yang berseteru? Jika pemerintah pusat berhasil menetapkan RUU Keistimewaan DIY, yang salah satu pasalnya menetapkan bahwa Kepala Daerah DIY harus dipilih melalui mekanisme pemilihan umum, maka pemerintah pusat RI akan berhasil meningkatkan wibawanya baik bagi kelompok penganjur demokrasi di dalam maupun di luar negeri. Namun, pemerintah pusat RI juga akan memiliki kontrol yang lebih besar atas satu-satunya daerah istimewa yang kini tersisa di NKRI tersebut.

Kontrol tersebut dapat berupa kontrol terhadap alokasi anggaran dari APBN bagi DIY dan penarikan berbagai jenis pajak terutama dari pajak yang terkait dengan "industri" pendidikan yang kian marak di DIY. Belum ada pengumuman yang pasti tentang angka ekonomis yang muncul dari interaksi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Yogyakarta. Namun, selain motif ekonomis tersebut, agaknya ada juga motif prevensi politis.

Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan sehingga di DIY, terutama di Kota Yogyakarta, terdapat banyak golongan pemuda yang aktif dalam kegiatan politik, baik politik praktis maupun politik non-partisan. Sejarah mencatat, hampir semua gerakan penting dalam sejarah Republik Indonesia memiliki kaitan dengan Yogyakarta. Peristiwa politik yang berimbas besar, yaitu Reformasi 1998, diawali oleh demonstrasi-demonstrasi mahasiswa di Yogyakarta. Jauh sebelumnya, ketika Ibukota Jakarta tidak aman bagi pemerintah RI yang baru terbentuk, Yogyakarta menjadi ibukota RI selama 1946-1949.

Terlihat jelas bahwa potensi politis Yogyakarta berubah menjadi pelopor ketika situasi politik nasional telah mencapai titik paling kalut. Oleh karena itu, dengan memiliki kontrol politis atas DIY, pemerintah pusat dapat mengendalikan kekuatan-kekuatan politis eksplosif golongan pemuda (mahasiswa) yang, sekali bangkit, bisa menjadi awal dari perubahan besar-besaran di Jakarta dan seluruh Indonesia. Kontrol berupa alokasi anggaran pembangunan dan produk-produk hukum untuk mengembangkan investasi terutama dalam "industri" pendidikan akan memastikan bahwa bara-bara golongan pemuda tidak menyala menjadi api yang akan merepotkan, jika bukan meruntuhkan, pemerintah pusat di Jakarta.

Pemerintah Daerah
Jika RUU Keistimewaan disahkan menjadi UU, pemerintah daerah tidak akan memiliki wibawa dan legitimasi yang kuat di hadapan penduduk DIY. Pemerintahan baru yang terbentuk dengan mekanisme menurut UU tersebut tidak akan popular di mata masyarakat kecuali bila mampu membuktikan bahwa tunduk kepada pemerintah pusat di Jakarta bisa meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat DIY secara drastis -- hal yang sangat sulit dilakukan mengingat sumber daya ekonomis asli DIY yang terbatas dan besarnya ketergantungan kepada suplai dari luar.

Namun, bila RUU tersebut diubah sehingga Kepala Daerah DIY mengikuti sistem yang telah berlaku sejak bergabungnya kesultanan tersebut ke dalam NKRI pada 1945, yaitu Sultan ditetapkan sebagai Kepala Daerah DIY, maka pemerintah daerah DIY dapat memperoleh kewibawaan walaupun kinerjanya mungkin tidak mengalami peningkatan. Bila Sultan ditetapkan, artinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat tetap diakui secara legal konstitusional sebagai sebuah wilayah tersendiri yang istimewa dalam lingkup administratif dan politis NKRI.

Walaupun pemetaan tersebut cukup masuk akal, namun pemetaan tersebut belum menyingkap secara tepat tentang pihak-pihak yang memegang kendali atas kedua pihak yang berseteru. Misalnya, secara sederhana pemerintah pusat RI saat ini berada dalam kendali Kabinet Indonesia Bersatu II yang didominasi oleh partai yang didukung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pertanyaan yang bisa diajukan: apa yang didapatkan oleh Partai Demokrat dan Presiden? Secara sederhana pula, pemerintah daerah DIY jauh lebih plural daripada pemerintah pusat di Jakarta karena tidak ada dominasi mutlak dari partai-partai pemenang pemilu atas keputusan-keputusan politik formal di lembaga-lembaga pemerintahan daerah.

Namun, tentu saja ada pihak-pihak di Yogyakarta yang diuntungkan dan dirugikan oleh penetapan maupun pemilihan kepala daerah. Siapakah mereka, yang memiliki kekuatan untuk menentukan hitam putihnya sejarah Yogyakarta dan Indonesia ke depan, itu?***


Serat Jagat, pembaca sejarah, warga Yogyakarta

6:46 AM | Posted in | Read More »

Sejarah Hari Lahir Pancasila



Setidaknya ada tiga tanggal yang berkaitan dengan hari lahir Pancasila, yaitu tanggal 1 Juni 1945, tanggal 22 Juni 1945 dan tanggal 18 Agustus 1945. Walaupun demikian, selama masa pemerintahan Presiden Soeharto, hari lahir Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Juni. Setelah Reformasi 1998, muncul banyak gugatan tentang hari lahir Pancasila yang sebenarnya.

Hingga tahun 2011, masih muncul perdebatan di kalangan anggota MPR RI tentang hari lahir Pancasila yang sebenarnya (Pelita, 24/5/2011). Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto Tohari mengungkapkan dasar bagi ketiga tanggal tersebut. Tanggal 1 Juni 1945 adalah tanggal ketika kata "Pancasila" pertama kali diucapkan oleh Ir. Soekarno (saat itu belum diangkat menjadi Presiden RI) pada saat sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Kata "Pancasila" muncul kembali dalam Piagam Jakarta yang bertanggal 22 Juni 1945.

Rumusan yang kemudian dijumpai dalam rumusan final Pancasila yang dikenal oleh warga negara Indonesia juga muncul dalam Mukadimah atau Pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 sebagai konsititusi negara RI. Namun di dalam Mukadimah ini tidak terdapat kata "Pancasila". Rumusan di dalam Mukadimah ini juga memiliki perbedaan dengan rumusan yang diajukan oleh Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945 dan rumusan yang terdapat dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945.

Ketika Jepang semakin terdesak dalam Perang Dunia II, Pemerintah Pendudukan Bala Tentara Jepang di Jawa melalui Saiko Syikikan Kumakici Harada mengumumkan secara resmi berdirinya BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 1 Maret 1945. Dr. KRT Rajiman Widyodiningrat ditunjuk sebagai Ketua. Ir. Soekarno yang saat itu sudah menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan terkemuka menyetujui pengangkatan tersebut karena menganggap bahwa dengan menjadi anggota, Ir. Soekarno sendiri akan lebih leluasa bergerak. BPUPKI terdiri dari dua bagian, yaitu Bagian Perundingan yang diketuai oleh Rajiman dan Bagian Tata Usaha yang diketua oleh RP Suroso dengan wakil MR AG Pringgodigdo.

Rumusan Awal: Pancasila 1 Juni 1945
BPUPKI menggelar dua kali sidang. Sidang pertama dibuka pada tanggal 29 Mei - 1 Juni 1945 di gedung Cuo Sangi In dan pada tanggal 10 - 16 Juli 1945. Sidang pertama menetapkan Dasar Negara Pancasila dan sidang kedua menetapkan rancangan UUD 1945. Dalam sidang pertama, tepatnya pada tanggal 29 Mei 1945, Mr. Mohamad Yamin mengucapkan pidato yang berisi tentang asas-asas yang diperlukan sebagai dasar negara. Pada sidang tanggal 31 Mei, Prof. Dr. Soepomo juga mengungkapkan uraian tentang dasar-dasar negara.

Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengajukan pemikiran sebagai berikut:

Dasar negara, yakni dasar untuk di atasnya didirikan Indonesia Merdeka, haruslah kokoh kuat sehingga tak mudah digoyahkan. Bahwa dasar negara itu hendaknya jiwa, pikiran-pikiran yang sedalam-dalamnya, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Dasar negara Indonesia hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia dengan sifat-sifat yang mutlak keindonesiaannya dan sekalian itu dapat pula mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, aliran, dan golongan penduduk. (Rahayu Minto, ?:37)

Dalam pidato tersebut, Ir. Soekarno juga mengemukakan dan mengusulkan lima prinsip atau asas yang sebaik-baiknya dijadikan dasar negara Indonesia Merdeka, yaitu:

  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisasi atau peri kemanusiaan
  3. Mufakat atau demokrasi
  4. Kesejahteraan
  5. Ketuhanan

Kata "Pancasila" muncul dalam pidato tersebut:

Dasar negara yang saya usulkan. Lima bilangannya. Inilah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya menamakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa (Muhammad Yamin) namanya Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia kekal dan abadi. (Minto, ibid.)

Rumusan Awal Pancasila: 22 Juni 1945
BPUPKI membentuk dua panitia kerja, yaitu Panitia Perancang UUD, yang berhasil menyusun RUUD RI, dan panitia lain yang kemudian dikenal sebagai Panitia 9. Panitia 9 terdiri dari 9 orang anggota dan menyusun Piagam Jakarta yang kemudian dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam naskah rancangan Mukadimah atau Pembukaan UUD 1945. Lima asas yang diajukan oleh Panitia 9 memiliki perbedaan dari sila-sila yang diajukan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945:

  1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam Piagam Jakarta, sama sekali tidak terdapat kata "Pancasila".

Rumusan Awal Pancasila: 18 Agustus 1945
Setelah dua kali bersidang, BPUPKI dibubarkan. Pemerintah Pendudukan Bala Tentara Jepang kemudian membentuk PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pada tanggal17 Agustus 1945, Proklamasi dibacakan oleh Ir. Soekarno, ditemani oleh Mohamad Hatta, di rumah Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Esok harinya, PPKI bersidang dan menetapkan beberapa keputusan, yaitu:

  1. Mensahkan dan menetapkan Pembukaan UUD 1945.
  2. Mensahkan dan menetapkan UUD 1945.
  3. Memilih dan mengangkat Ketua dan Wakil Ketua PPKI masing-masing menjadi Presiden dan Wakil Presiden.
  4. Pekerjaan Presiden untuk sementara waktu dibantu oleh sebuah Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Pada tanggal 19 Agustus 1945, PPKI memutuskan pembagian wilayah RI menjadi 8 provinsi di mana tiap provinsi dibagi lagi menjadi karesidenan-karesidenan. PPKI juga menetapkan pembentukan departemen-departemen pemerintah.

Di dalam naskah Pembukaan UUD 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustsu 1945, kelima asas yang kemudian dikenal sebagai "Pancasila" dimasukkan seluruhnya ke dalam alinea IV dengan urutan yang sama dengan yang dikenal selanjutnya.

Rumusan Awal Pancasila: Konsitutusi RIS 1949
Setelah KMB ditandatangani oleh pihak RI dan Belanda di Den Haag, RI menjadi bagian dari sebuah negara lebih besar yang bernama RIS atau Republik Indonesia Serikat. RIS memiliki konstitusi sendiri yang disusun di kota Scheveningen. Konstitusi ini terdiri dari 96 pasal dan mulai berlaku sejak 27 Desember 1949. Kelima asas yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 milik RI juga tercantum dalam Mukadimah Konstitusi RIS 1949, juga di Alinea IV, namun dengan rumusan yang lebih singkat dan tetap tanpa kata "Pancasila":

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Peri Kemanusiaan
  3. Kebangsaan
  4. Kerakyatan
  5. Keadilan Sosial

Rumusan Awal Pancasila: UUD 1950
Pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS secara resmi dibubarkan setelah Presiden Soekarno mengumumkan berdirinya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sebuah panitia yang diketuai oleh Prof. Mr. Dr. Soepomo menyusun UUDS RI 1950 yang terdiri dari 147 pasal. Kelima asas Pancasila tetap tercantum dalam UUDS 1950 dengan urutan dan redaksional sama dengan yang tercantum dalam konstitusi RIS 1949.

Rumusan Awal Pancasila: Dekrit Presiden 1959
Setelah kembali menjadi negara kesatuan, Republik Indonesia melaksanakan pemilihan umum pada tahun 1955. Dari hasil pemilihan umum tersebut, terbentuk sebuah badan tinggi negara yang bernama Konstituante. Salah satu tugas Konstituante adalah membentuk UUD baru untuk menggantikan UUDS 1950. Tugas ini tidak berhasil dilaksanakan sehingga Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 1959. Salah satu ketetapan Dekrit Presiden tersebut adalah pemberlakukan kembali UUD 1945. Kelima asas Pancasila tetap tercantum dalam alinea IV.

Pancasila Selama Orde Baru
Selama masa pemerintahan Orde Baru, sikap pemerintah terhadap Pancasila ambigu. Pada tahun 1970, pemerintah Orde Baru melalui Kopkamtib melarang peringatan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila (Asvi Warman Adam, 2009:26). Walaupun demikian, dalam perkembangan selanjutnya pemerintah Orde Baru justru mengembangkan Pancasila dengan memperkenalkan Eka Prasetya Panca Karsa, yang menjadi materi dalam penataran P4 yang sifatnya wajib bagi semua instansi, baik pemerintah maupun swasta.

Sejak masa pemerintahan Orde Baru, sejarah tentang rumusan-rumusan awal Pancasila didasarkan pada penelusuran sejarah oleh Nugroho Notosusanto melalui buku Naskah Proklamasi jang Otentik dan Rumusan Pancasila jang Otentik (Pusat Sejarah ABRI, Departemen Pertahanan-Keamanan, 1971). Adam (2009:27) mengungkapkan, Nugroho menyatakan ada empat rumusan Pancasila, yaitu rumusan yang disampaikan oleh Mohammad Yamin pada tanggal 29 Mei 1945, rumusan yang disampaikan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, rumusan yang diajukan oleh Panitia 9 yang diajukan pada tanggal 22 Juni 1945, dan rumusan yang termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Nugroho meyakini bahwa rumusan Pancasila adalah rumusan yang termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945.

AB Kusuma (via Adam, 2009:28) melalui sebuah makalah bertajuk Menelusuri Dokumen Historis Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan mengungkapkan bahwa berdasarkan nota yang ditemukan kembali padatahun 1989, tidak benar bahwa Mohamad Yamin yang pertama kali mengungkapkan tentang rumusan dasar negara. Kusuma mengakui bahwa Ir. Soekarno-lah yang menjadi penggali Pancasila. Panitia Lima yang diketuai Mohammad Hatta juga mengakui Ir. Soekarno sebagai orang yang pertama kali berpidato tentang Pancasila.

Hari lahir Pancasila yang sebenarnya hingga kini masih belum disepakati oleh para sejarawan walaupun secara resmi pemerintah RI memperingati tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Namun, peringatan-peringatan resmi kenegaraan yang diadakan sejak Reformasi 1998 belum memiliki dasar hukum yang kuat karena belum ada Keppres atau Ketetepan Presiden yang mengatur penetapan tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila.***

Serat Jagat, pembaca sejarah

Daftar bacaan:
Adam, Asvi Warman, 2009. Membongkar manipulasi sejarah: kontroversi pelaku dan peristiwa. Jakarta. Grasindo.
Harian Pelita. Hari lahir Pancasila 18 Agustus sebagai jalan tengah. Tersedia di http://www.pelita.or.id/baca.php?id=96594. Diunduh pada 24 Mei 2011.
Rahayu, Minto. Th ?. Pendidikan kewarganegaraan: perjuangan menghidupi jati diri bangasa. Grasindo, Jakarta. Grasindo.


Sumber-sumber internet yang terkait dengan Pancasila:
1. Pusat Studi Pancasila Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta
2. Pancasila Wikipedia

6:02 AM | Posted in , | Read More »

Bantu PDS HB Jassin, XL Gelar Program SMS Donasi

JAKARTA -- PT XL Axiata Tbk (EXCEL) menggelar SMS Donasi Sastra untuk mendukung pengelelolaan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Bukan hanya itu, XL juga bekerja sama dengan komunitas Koin Sastra untuk menyelenggarakan aksi klipping massal untuk mendukung pelestarian koleksi PDS HB Jassin.

GM Sales Jabodetabek XL Haryo Wibowo mengatakan, SMS Donasi Sastra ini untuk mempermudah masyarakat mendukung PDS HB Jassin. "Saat ini adalah momentum yang sangat tepat bagi semua masyarakat untuk kembali bersatu pedulu kepada kekayaan nusantara," katanya dalam rilis yang diterima KONTAN, Senin (23/5).

SMS Donasi Sastra ini dilakukan dengan cara mengirimkan pesan pendek ke nomor 2000 atau 5000. Untuk tujuan ke 2000, pulsa pelanggan akan terpotong sebesar Rp 2.200 sudah termasuk PPN 10%. Sementara untuk yang 5000, pulsa akan terpotong Rp 5.500 sudah termasuk PPN.

Haryo mengatakan, hasil penggalangan donasi ini akan diserakan ke PDS HB Jasin atas nama pelanggan XL. Program ini akan dibuka mulai 22 Mei hingga 30 Juni 2011 mendatang.

Asal tahu saja, PDS HB Jassin merupakan salah atau rujukan sejarah sastra Indonesia yang didirikan sastrawan HB Jassin. Lembaga ini memiliki koleksi puluhan ribu dokumen sejarah sastra. Namun, nasib lembaga ini terancam akibat kesulitan keuangan.***

Sumber artikel & foto: Kontanonline.com, Senin, 23 Mei 2011

8:52 PM | Posted in , | Read More »

Perayaan Dua Dekade Ruth Sahanaya

Dalam sejarah musik Indonesia, Ruth Sahanaya telah memiliki tempat tersendiri. Selain sukses di industri rekaman, wanita yang akrab disapa Uthe ini juga gemilang di berbagai perlombaan bertaraf internasional. Di dunia internasional, Uthe telah menorehkan tinta emas bagi Indonesia.

Di ajang Midnight Sun Song Festival, Finlandia 1992, Ruth Sahanaya meraih gelar “Grand Prix Winner”. Dia juga penyanyi Indonesia yang diundang oleh Mario Frangoulis (penyanyi tenor Yunani) sebagai penyanyi tamu dalam dua kali konser Mario -5 dan 6 Oktober 2002- di Herrod Atticus, Acropolis, Athena (Yunani). Dalam pertunjukan itu, Uthe berduet dengan Mario untuk lagu slow Naturaleza Muerta.

Setelah lebih dari dua dekade berkarya, Uthe akan menyelenggarakan konser musik bekerja sama dengan Original Production, di Esplanade Concert Hall, Singapura, tepatnya pada 10 Juni 2011 mendatang. Belum lama ini, Uthe mengadakan konferensi dengan rekan-rekan wartawan di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Berikut petikan wawancaranya dengan Raya Simarmata dari Koran Sindo.

Jelang konser yang diadakan 10 Juni mendatang, apa yang Mbak Uthe rasakan?

Uthe: Puji Tuhan, saya senang sekali. Saya sangat bangga bisa tampil di sana.Apalagi, tidak sembarangan orang bisa tampil di lokasi konser itu.

Ada tidak perbedaan yang dirasakan konser di Singapura nanti dengan konser di Indonesia kemarin, apakah lebih comfortable?

Uthe: Apakah merasa lebih comfort, saya memang selalu comfort dalam hal penampilan. Jadi kalau nggak comfortable, bagaimana saya bisa menghibur mereka yang ada di sana. Tapi lebih ke rasa excited-nya, apalagi ini konser pertama saya di Singapura.Tentu saja ini merupakan kebanggaan tersendiri. Saya juga bersyukur dengan Original Production selaku promotor konser. Kita tahu, biasanya Original Production membawa artis-artis luar dan sekarang luar biasa sekali bisa membawa penyanyi dari negeri sendiri. Ini sekaligus merupakan kesempatan promosi untuk Indonesia dan memperlihatkan kepada dunia luar bahwa Indonesia juga memiliki sesuatu yang membanggakan. Itu juga yang membuat saya senang karena bisa membawa nama Indonesia ke luar negeri.

Lantas, apa saja persiapan yang sudah dilakukan untuk konser ini?
Uthe: Yang pertama, menjaga kesehatan dan stamina. Tapi tentu saja, memulai lagi dengan melakukan gym. Untuk kesehatan, saya adalah orang yang tahu soal diri saya pribadi. Maka itu, saya harus menjaga badan dengan cara minum vitamin dan sering latihan. Secara efektif saya juga akan melakukan latihan secara continue. Dimulai pada Senin (23/5) akan terus latihan hingga jelang hari H-nya. Apalagi, di sana saya membawa nama Indonesia, jadi harus memberikan yang terbaik.

Bagaimana dengan perawatan kecantikan?

Uthe: Perawatan itu perlu ya, apalagi saya ini publik figur. Tapi walaupun tanpa konser, saya memang tipe wanita yang tetap menjaga kecantikan. Misalnya dengan minum jamu, luluran, ke salon kecantikan untuk facial, maupun minum minuman jus atau herbal.

Berapa jumlah lagu yang akan dinyanyikan dalam konser tersebut?
Uthe: Saat konser nanti, saya akan menyanyikan lagu-lagu yang diambil dari 15 album saya.Kurang lebih 30 lagu, namun dikemas semenarik mungkin, salah satunya seperti di-medley. Selain yang ada di album, untuk memuaskan penggemar yang ada di sana, saya juga akan menyanyikan lagu Barat. Sebab, orang di sana mayoritas kan berbahasa Inggris. Lagunya milik grup musik ABBA, lagu itu juga masuk dalam kemasan medley.

Di konser nanti, Mbak Uthe sendiri akan di-back up oleh band pengiring siapa dan bagaimana persiapannya sejauh ini?
Uthe: Saya akan di-back up band pengiring dari Jakarta, yakni di bawah pimpinan Music Director Edwin Saladin. Sejauh ini persiapannya sudah mencapai 90%. Jadi, format aransemennya tinggal finishing touch saja.Kebetulan,lagu-lagu yang dibawakan nanti adalah lagu yang pernah hit sebelumnya.

Untuk konser nanti, apakah Mbak Uthe akan mengajak artis Singapura atau artis Indonesia untuk berkolaborasi?

Uthe: Seperti yang saya katakan, konser ini kan berhubungan dengan 25 tahun saya berkarya. Jadi, tentu saja saya ingin lebih fokus mengajak para penggemar untuk bernostalgia dengan lagu-lagu saya. Jadi, tidak pakai bintang tamu (ucapnya seraya tertawa).

Seberapa besar keyakinan Mbak Uthe, acara konser di Singapura bisa sukses?
Uthe: Sebenarnya dengan saya yang sudah 25 tahun berkarya, saya yakin memiliki fans sendiri di sana.Itu sudah merupakan keyakinan tersendiri bagi saya bahwa konser di sana akan sukses.

Harapan untuk konser ini?

Uthe: Saya berharap, konser nanti akan menjadi kenangan manis untuk memajukan musik Indonesia dan membawa nama baik Indonesia khususnya.***


Sumber: Koran Sindo, Sabtu, 21 Mei 2011

8:45 PM | Posted in , | Read More »

Mengenal Sejarah Kedokteran Indonesia

Oleh Ni Luh Made Pertiwi F & Made Asdhiana

Kerangka tubuh manusia utuh dari kepala hingga kaki terpajang di lemari kaca. Ini bukan tulang-tulang koleksi pembunuh berdarah dingin yang sakit jiwa ataupun syuting film horor. Rangkaian tulang ini pun bukan dari plastik ataupun dari kayu, melainkan tulang asli. Anda bisa melihatnya langsung di salah satu ruang pamer di Museum Kebangkitan Nasional. Museum ini terletak di Jl Abdul Rachman Saleh 26, Senen, Jakarta Pusat.

Dulu, kerangka tubuh manusia tersebut digunakan sebagai alat peraga untuk proses belajar para pelajar STOVIA. Museum Kebangkitan Nasional memang awalnya adalah gedung STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Arsten) atau sekolah kedokteran untuk orang-orang bumiputera yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Karena itu, beberapa koleksi di museum tersebut adalah benda-benda peninggalan ilmu kedokteran pada masa kejayaan STOVIA.

Gedung ini dibangun tahun 1899 dan baru rampung pada tahun 1901. Namun, gedung ini baru resmi dipakai sebagai STOVIA di tahun 1902. Walaupun sejak mula didirikan, gedung ini memang dimaksudkan untuk sekolah kedokteran. Namun, sebelumnya adalah sekolah kedokteran khusus untuk orang Jawa. Sedangkan STOVIA sekolah kedokteran untuk bumi putera dari berbagai daerah, tidak hanya orang Jawa. Sejarah pembangunan STOVIA tidak bisa lepas dari wabah penyakit menular yang terjadi di Banyumas dan Purwokerto pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

"Saat wabah terjadi, pengobatan tradisional saat itu tidak mampu mengatasinya. Secara medis, dokter Belanda terbatas. Karena itu muncul gagasan untuk membuat sekolah kedokteran. Semula kursus kedokteran dan berkembang menjadi sekolah kedokteran Jawa. Lama-lama terbuka untuk seluruh bumiputera yaitu STOVIA," ungkap Kepala Museum Kebangkitan Nasional, Edy Suwardi. Edy menceritakan saat itu, pemerintah kolonial mempertimbangkan tiga lokasi untuk mendirikan sekolah kedokteran.

"Ada alternatif yaitu Semarang, Surabaya, dan Batavia. Tapi pilihan jatuh ke Batavia. Rumah sakit militer sekarang RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat), tadinya dekat situ letak sekolah dokter Jawa," katanya.

Gedung Ex-STOVIA tersebut adalah tempat lahirnya organisasi pergerakan nasional pertama yaitu Budi Utomo. Budi Utomo berdiri pada 20 Mei 1908 di bawah pimpinan R. Soetomo.

Berdirinya Budi Utomo berdiri menjadi awal kemunculan organisasi-organisasi lain seperti Serekat Dagang Islam, Indische Vereenignig, Indische Partij, dan Muhammadiyah. Budi Utomo dipandang sebagai tonggak timbulnya kebangkitan nasional yang pertama di Indonesia. Kebangkitan yang diawali oleh pemuda-pemuda yang dipertemukan oleh nasib yang sama, belajar ilmu kedokteran.

Masih dalam suasana perayaan hari Kebangkitan Nasional, Anda dapat berkunjung ke Museum Kebangkitan Nasional untuk melihat pameran temporer. Pameran temporer yang berlangsung pada 20-26 Mei 2011 tersebut mengangkat tema mengenai organisasi Syarikat Islam.

Jangan lupa mampir ke ruangan kelas tempat para pelajar berdiskusi dan belajar. Ruangan ini termasuk favorit para pengunjung karena adanya kerangka asli tubuh manusia. Ruangan menarik lainnya adalah ruangan Kartini. Kartini dipandang sebagai salah satu kebangkitan nasional karena perannya dalam memperjuangkan emasipasi wanita.

Beberapa koleksi menarik yang dimiliki museum tersebut adalah peralatan kedokteran yang dipakai pada masa kolonial Belanda. Salah satunya adalah alat bantu pernapasan. Ada pula beberapa foto menampilkan STOVIA pada masa kejayaannya. Foto lain memperlihatkan ritual berdoa sebelum memulai operasi kepala kambing untuk proses pembelajaran. Jika Anda mahasiswa kedokteran atau memang seorang dokter, museum ini cocok menjadi sarana penambah ilmu Anda. Ajak juga si kecil yang bercita-cita jadi dokter untuk semakin mengenal sejarah kedokteran di Indonesia.

Sumber artikel & foto: Kompas.com, Senin, 23 Mei 2011

8:20 PM | Posted in , | Read More »

Perayaan 100 Tahun Penemuan Macchu Piccu

Sejarah Harian mencatat bahwa pada tahun 1911, Hiram Bingham memutuskan untuk mencari "lost kota" suku Inca. Bingham menemukan Machu Picchu, yang kini merupakan situs yang paling dikunjungi di Peru. Dia melanjutkan petualangannya dan menemukan "lost city" suku Inca yang lain di Vilcabamba, di kedalaman sebuah hutan, lebih jauh lagi daripada letak Machu Picchu. Dalam pencarian tersebut, diharapkan bahwa peersediaan emas dan perak yang sangat besar akan ditemukan. Namun, sangat sedikit bijih berharga yang ditemukan. Justru, banyak artefak terutama tengkorak dan tulang, gerabah, dan peralatan yang ditemukan.

Peru akan merayakan ulang tahun ke-100 "penemuan" Bingham tersebut sepanjang tahun 2011 ini, tetapi acara besar akan dilaksanakan pada tanggal 7 Juli, tanggal ketika Machu Picchu ditabalkan sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Baru Dunia (pada tahun 2007). Perayaan besar lainnya akan dilaksanakan sekitar 24 Juli yang merupakan tanggal penemuan yang "sebenarnya".

Anniversary Trip
Tur peringatan khusus 100 ke Machu Picchu akan membawa kita ke Machu Picchu pada 24 Juli, 2011, tepat pada HUT ke-100 penemuan benteng terkenal tersebut oleh Hiram Bingham. Tur akan diantar oleh Christopher Henny, penulis beberapa buku tentang Hiram Bingham. Ini adalah kesempatan yang unik bagi siapa saja yang menginginkan pengetahuan yang mendalam tentang benteng yang terkenal.

Inca Trail untuk Machu Picchu
Pada tahun 1915, sementara para pekerja terus menggali tanah yang menimbun Machu Picchu, Hiram Bingham juga bepergian melewati sebuah jalur Inca tua, melintasi berbagai terusan, di sepanjang pegunungan, dan melalui hutan, sebelum tiba di Machu Picchu. Jalur ini sekarang dikenal sebagai Inca Trail, rute yang pada hari ini dapat dinikmati oleh para trekker.

Ada peraturan ketat untuk dapat melakukan perjalanan di Inca Trail tersebut, termasuk termasuk izin yang terbatas (500 izin setiap hari). Hal ini ditujukan untuk melestarikan lintasan tersebut dan daerah sekitarnya agar para pengunjung berikutnya juga dapat menikmatinya. Izin untuk 2011 sudah habis terjual sampai Juni dan setengah jatah untuk Juli juga sudah terjual.

Kereta Api ke Machu Picchu 
Cara termudah untuk mencapai ke Machu Picchu adalah dengan kereta api. Perjalanan Vistadome Kereta dimulai di Cusco atau Ollantaytambo dan menyusuri sepanjang Sungai Urubamba, tiba di Aguas Calientes, kota di kaki Machu Picchu. Sebuah shuttle bus akan membawa Anda ke pintu masuk Machu Picchu dan Anda akan menikmati tur ke benteng terkenal tersebut. Panduan Anda akan sangat membantu dalam memahami budaya Inca, sejarah situs dan pengalaman Hiram Bingham.

Kontroversi Peru-Yale
Macchu Piccu menimbulkan konflik antara universitas terbesar di AS, yaitu Yale University, dengan otoritas pemerintah Peru. Ketika Hiram Bingham membersihkan, menggali, dan menemukan gua dan bangunan, ia mengambil tulang-tulang, pecahan tembikar, dan artefak lainnya dan mengirim temuan-temuan tersebut ke Amerika Serikat lalu memberikannya kepada Yale. Kemudian, Peru meminta temuan-temuan itu kembali. Peru merasa bahwa artefak-artefak tersebut merupakan milik negara di mana artefak-artefak tersebut ditemukan. Yale tidak bersedia mengembalikan. Namun, setelah 100 tahun, melalui diskusi yang panjang dan proses pengadilan, kesepakatan telah dicapai di mana Yale akan memngembalikan sebagian besar artefak ke Peru. Sebagian besar dari artefak-artefak ini akan ditempatkan di sebuah museum baru di sekitar Cusco.

10:11 AM | Posted in , | Read More »

Candi Borobudur, Keajaiban Warisan Sejarah Indonesia

Ingin mendatangi salah satu monumen Budha terbesar di dunia? Candi Borobodur adalah tempatnya. Setelah berkunjung, Anda akan memahami mengapa Borobudur memiliki daya tarik bagi pengunjung dan merupakan warisan budaya Indonesia.

Dibangun pada abad ke-9 selama masa kekuasaan Raja Syailendra, bentuk Candi Borobudur memiliki aksitektur Gupta yang mencerminkan pengaruh India. Berdasarkan prasasti Karang Tengah dan Kahulunan, sejarawan J.G. de Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram kuno dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga dan membangun candi ini sekira 824 M. Bangunan raksasa ini baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.

Diperkirakan, Candi Borobudur awalnya adalah tempat pemujaan. J.G. de Casparis memperkirakan bahwa Bhumi Sambhara Bhudhara dalam bahasa Sansekerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur. Sebagian sejarawan juga ada yang menyatakan bahwa nama Borobudur ini berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "Vihara Buddha Uhr” yang artinya Biara Buddha di Bukit.

Candi Borobudur berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di puncak bukit yang menghadap ke sawah subur di antara bukit-bukit yang renggang. Cakupan wilayahnya sangat besar, berukuran 123 meter x 123 meter. Candi Borobudur ternyata dibangun di atas sebuah danau purba. Dulu, kawasan tersebut merupakan muara dari berbagai aliran sungai. Karena tertimbun endapan lahar, kemudian menjadi dataran. Pada akhir abad ke-VIII, Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra lantas membangun Candi Borobudur yang dipimpin arsitek bernama Gunadharma hingga selesai pada 746 Saka atau 824 Masehi.

Monumen ini merupakan sebuah arsitektur yang menakjubkan dan  terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Borobudur mirip bangunan piramida Cheops di Gizeh Mesir, bedanya terletak pada pola kepunden berundak.

Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m² tersusun dari 55.000 m³ batu, terdiri dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 cm x 10 cm x 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton.

Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang tersusun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jadi kalau rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya mencapai 3 km.

Memiliki 10 tingkat, di mana tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. Sedangkan, tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, tapi sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir. Bagian paling atas di tingkat ke-10 terdapat stupa besar berdiameter 9,90 m, tinggi 7 m.

Arsitektur dan bangunan batu candi ini sungguh tiada bandingannya. Candi dibangun tanpa menggunakan semen. Strukturnya seperti sebuah kesatuan deretan lego yang saling mengukuhkan dan dibuat bersamaan tanpa lem sedikitpun.

Sir Thomas Stanford Raffles menemukan Borobudur pada 1814 dalam kondisi rusak dan memerintahkan supaya situs tersebut dibersihkan dan dipelajari secara menyeluruh. Proyek restorasi Borobudur secara besar-besaran kemudian dimulai dari 1905-1910.

Dengan bantuan dari UNESCO, restorasi kedua untuk menyelamatkan Borobudur dilaksanakan pada Agustus 1913-1983. Candi ini tetap kuat meski selama sepuluh abad tak terpelihara dan ditemukan kembali terkubur di bawah abu vulkanik. Tahun 1970-an, Pemerintah Indonesia dan UNESCO bekerja sama untuk mengembalikan keagungan Borobudur. Perbaikan yang dilakukan memakan waktu delapan tahun sampai dengan selesai dan saat ini Borobudur adalah salah satu keajaiban dan harta Indonesia dan dunia yang berharga.

Berbagai disiplin ilmu pengetahuan terlibat dalam usaha rekonstruksi Candi Borobudur yang dilakukan oleh Teodhorus van Erp padaa 1911, Prof Dr C Coremans pada 1956, dan Prof Ir Roosseno pada 1971.

Kita patut menghargai usaha mereka memimpin pemugaran candi mengingat berbagai kendala dan kesulitan yang dihadapi tidaklah mudah. Tahun 1991, akhirnya Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO.

Candi Borobudur dihiasi dengan ukiran-ukiran batu indah pada reliefnya yang mewakili gambaran kehidupan Buddha. Para arkeolog menyatakan bahwa candi Borobudur memiliki 1.460 rangkaian relief di sepanjang tembok dan anjungan. Relief ini terlengkap dan terbesar di dunia sehingga nilai seninya tak tertandingi. Pembacaan cerita-cerita relief senantiasa dimulai dan berakhir di pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya. Mulailah pengamatan Anda dari sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbangnya.

Monumen ini adalah tempat suci bagi Sang Budha dan untuk ziarah kaum Budha. Tingkat sepuluh candi melambangkan tiga divisi sistem kosmik agama Budha. Ketika Anda memulai perjalanan mereka melewati dasar candi untuk menuju ke atas, mereka akan melewati tiga tingkatan dari kosmologi Budhis dan hakekatnya merupakan “tiruan” dari alam semesta yang menurut ajaran Budha terdiri atas tiga bagian besar, yaitu (1) Kamadhatu atau dunia keinginan, (2) Rupadhatu atau dunia berbentuk, dan (3) Arupadhatu atau dunia tak berbentuk.

Seluruh monumen itu sendiri menyerupai stupa raksasa, namun dilihat dari atas membentuk sebuah mandala. Stupa besar di puncak candi yang berada 40 meter di atas tanah. Kubah utama ini dikelilingi oleh 72 patung Budha yang berada di dalam stupa yang berlubang.***


Sumber: Okezone, Rabu, 13 April 2011

9:34 AM | Posted in , | Read More »

Boediono: Berita, Rosihan Saksi Sejarah Indonesia

Sejarah Harian Indonesia kembali mencatat duka. Rosihan Anwar meninggal pada usia 89 tahun. Rosihan dikenal sebagai wartawan, penulis, sejarawan dan aktor.

Wakil Presiden Boediono menilai, almarhum Rosihan Anwar, wartawan senior sekaligus penulis, sebagai sosok yang produktif. Boediono mengaku terkesan dengan wartawan lima zaman tersebut. Rosihan, menurutnya, tetap produktif berkarya hingga akhir hayat.

"Beliau adalah saksi sejarah Indonesia dan penuh dengan karya yang mendokumentasikan perjalanan bangsa ini. Karya ini sangat berguna bagi generasi yang akan datang," kata Boediono kepada para wartawan seusai melayat di rumah almarhum Rosihan, Jalan Surabaya Nomor 13, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (14/4/2011).

Boediono mengatakan, masyarakat patut mencontoh nilai-nilai baik dari sosok Rosihan. "Saya kira kita semua menginginkan hidup yang penuh dengan karya dan produktif sampai akhir hayat. Luar biasa," kata Boediono.

Rosihan AnwarIn memoriam: Mengenang yang wafat mengembuskan napas terakhir di usia 89 tahun. Menurut keterangan pihak keluarga, ia mengalami sesak napas pada pagi hari. Pihak RS MMC Jakarta menyebutkan, Rosihan sudah mengembuskan napas terakhir sebelum tiba di rumah sakit. Cucu Rosihan, Almatania, menuturkan, kakeknya dibawa ke MMC pagi tadi dari kediamannya di Jalan Surabaya. Rosihan tampak sesak napas saat bangun tidur. Rosihan, menurut Almatania, baru satu hari menginap di rumahnya setelah menjalani operasi jantung dan dirawat di RS Harapan Kita.***

Sumber: Kompas, 14 April 2011

8:18 AM | Posted in , | Read More »

Sejarah Valentine's Day

Oleh Sejarahku

Setiap 14 Februari, hampir semua orang di dunia merayakan Hari Valentin - atau Hari Kasih Sayang atau valentine's Day. Pada hari ini, biasanya sepasang kekasih akan saling bertukar permen, bunga atau hadiah apa saja. Hadiah-hadiah tersebut di Indonesia seringkali hanya dipahami sebagai tanda rasa cinta atau sayang. Padahal, di balik perayaan itu, terdapat sejarah panjang yang merentang hingga sebelum tarikh Masehi.

Walaupun kita tahu bahwa Februari telah lama menjadi bulan yang romantis, namun nama perayaan itu sendiri masih terselubung misteri. Kita hanya tahu bahwa sejarah Hari Valentin tidak dapat dipisahkan dari sejarah Santo Valentine, santo pelindung yang tercatat dalam daftar santo atau orang-orang suci Gereja Katolik Roma. Walaupun terkait erat dengan Vatikan, namun Hari Valentin sebenarnya mengandung sisa-sisa tradisi Romawi Kuno. Lantas, siapakah sebenarnya Santo valentine itu dan bagaimana ia bisa bersangkut-paut dengan tradisi purba tersebut?

Gereja Katolik Roma hingga kini mencatat ada tiga orang santo yang memiliki nama Valentine atau Valentinus. Ketiga-tiganya adalah martir, yaitu orang yang mengorbankan diri demi menegakkan agama Nasrani.

Sebuah legenda menyebutkan bahwa Valentine adalah seorang pendeta yang berkarya selama abad ke-3 Masehi di Roma. Ketika Kaisar Claudius II memutuskan bahwa para bujang - laki-laki yang tak menikah - ternyata dapat menjadi prajurit yang lebih baik daripada laki-laki yang beristri dan berkeluarga, ia melarang para pemuda menikah. Valentine, yang menyadari bahwa dekrit tersebut tidak adil, menentang Claudius dan terus menyelenggarakan pernikahan secara rahasia. Ketika tindakan itu terungkap, Claudius menitahkan agar Valentine dihukum mati.

Cerita lain menyebutkan, Valentine boleh jadi gugur ketika mencoba membantu umat Kristiani untuk lolos dari berbagai penjara di Roma di mana mereka sering dipukuli dan disiksa. Menurut sebuah legenda yang lain, Valentine sebenarnya adalah orang yang pertama kali mengirimkan salam "valentine". Ketika berada di dalam penjara, ia jatuh cinta kepada seorang gadis - mungkin putri salah satu sipir - yang mengunjunginya selama masa penahanan. Sebelum meninggal, diyakini bahwa ia menulis sepucuk surat, di mana ia membubuhkan tulisan "Dari Vanelntine-mu" - sebuah ungkapan yang masih digunakan hingga sekarang.

Walaupun kebenaran di balik berbagai legenda Valentine masih belum terungkap dengan jelas, cerita-cerita tersebut jelas menekankan citranya sebagai orang yang simpatik, heroik, dan, yang paling penting, romantis. Tidak mengejutkan bahwa pada Abad Pertengahan di Eropa Valentine menjadi salah satu santo paling populer di Inggris dan Perancis.

Walaupun sebagian orang percaya bahwa Hari Valentine dirayakan pada pertengahan Februari untuk memperingati kematian atau pemakaman Valentine - yang mungkin terjadi pada sekitar 270 Masehi - ada juga yang mengklaim bahwa Gereja Katolik Roma boleh jadi telah memutuskan merayakan Hari Valentine pada pertengahan Februari dalam rangka "mengkristenkan" perayaan pada Festival Lupercalia. Pada masa Romawi Kuno, Februari adalah permulaan resmi musim semi dan dianggap sebagai saat untuk melakukan penyucian. Diselenggarakan ritual di mana rumah-rumah dibersihkan dengan cara disapu dan seluruh ruangan kemudian ditaburi garam dan sejenis gandum.

Lupercalia, yang dimulai pada pertengahan Februari, tepatnya pada tanggal 15, adalah sebuah festival kesuburan yang dipersembahkan untuk Faunus, dewa Romawi untuk pertanian. Festival ini juga dipersembahkan bagi Romulus dan Remus, pendiri Roma. Untuk memulai festival, anggota-anggota ordo Luperci akan berkumpul di gua keramat di mana bayi Romulus dan Remus dipercaya dirawat oleh seekor serigala betina bernama Lupa. Para pendeta tersebut kemudian akan menyisikan seekor kambing untuk kesuburan dan seekor anjing untuk penyucian.

Para pemuda mengiris kulit jangat (belulang) kambing tersebut menjadi beberapairisan, mencelupkannya ke dalam darah persembahan lalu berjalan di jalanan umum seraya mengibaskan irisan daging kambing tersebut kepada para wanita dan juga lahan perkebunan. Para wanita Roma tidak merasa jijik atau takut. Mereka percaya, irisan dagingkambing itu akan membuat mereka bertambah subur di tahun yang akan datang.

Pada sore harinya, para gadis di kota itu akan memasukkan nama mereka pada sebuah guci besar. Para pemuda kota yang belum menikah akan memilih salah satu nama di dalam guci tersebut. Dengan cara begitulah seorang pemuda mendapatkan kekasihnya. Perjodohan dengan cara ini sering diakhiri dengan pernikahan. Namun, pada 498 Masehi, Paus Gelasius menyatakan bahwa Hari Valentine di mana terjadi "pengundian lotre" semacam itu sangat tidak Kristen dan menganggapnya sebagai kejahatan. Kemudian, selama Abad Pertengahan, orang Inggris dan Perancis percaya bahwa 14 Februari adalah permulaan masa perkawinan burung-burung. Hal ini menguatkan gagasan bahwa pertengahan Februari - Hari Valentine - seharusnya menjadi hari yang romantis.

Artefak Valentine tertua yang masih lestari hingga saat ini adalah sebuah puisi yang ditulis oleh Charles, Duke of Orleans, untuk istrinya selama sang Duke ditahan di Menara London setelah tertangkap dalam Battle of Agincourt. Ucapan tersebut, yang ditulis pada 1415, kini menjadi bagian dari koleksi manuskrip British Library di London, Inggris. Beberapa tahun kemudian, dipercaya bahwa Raja Henry V menyewa seorang penulis bernama John Lydgate untuk mengarang sebuah kartu ucapan Valentine bagi Catherine of Valois.

Di Inggris Raya, Hari Valentine mulai dirayakan secara populer sekitar abad ke-17. Pada pertengahan abad ke-18, sudah lazim bagi para sahabat dan kekasih di semua kelas sosial untuk saling bertukar barang-barang sebagai tanda rasa sayang atau catatan-catatan tertulis. Pada akhir abad ke-18, kartu cetakan menggantikan surat tulisan tangan berkat kemajuan teknologi percetakan. Kartu-kartu ucapan yangsiap digunakan menjadi cara yang mudah bagi orang-orang untuk mengungkapkan emosi mereka pada masa ketika ungkapan langsung akan perasaan pribadi dianggap tabu. rata-rata ongkos kirim melalui pos yang murah juga berperan serta untuk meningkatkan popularitas pengiriman kartu ucapan Hari Valentine.

Pada 1840-an, Esther A. Howland mulai menjual kartu ucapan Valentine yang diproduksi secara massal di Amerika Serikat. Menurut Greeting Card Association AS, diperkirakan satu juta kartu ucapan valentina telah dikirimkan setiap tahunnya. Hal ini menjadikan kartu ucapan Valentine sebagai kartu ucapan terbanyak ke-2 yang dikirimkan pada suatu hari libur atau perayaan (yang terbanyak adalah kartu Natal, sekitar 2,6 juta). Sekitar 85 persen dari semua kartu Valentine tersebut dibeli oleh kaum perempuan.

Walaupun telah jelas bahwa Hari Valentine berasal dari budaya Barat, namun tidak berarti bahwa kita di Indonesia dapat memandang dengan curiga kepada perayaan tersebut. Walaupun kitabelum tahu sejak kapan perayaan tersebut menjadipopuler di Indonesia, satu segi positif dari perayaan ini adalah aspek kasih sayang. Dengan Hari Valentine, kita semestinya semakin sadar untuk berbagi kasih sayang lebih banyak lagi, bukan hanya dengan kekasih atau istri dan keluarga, melainkan juga dengan siapa saja, bahkan dengan setiap makhluk yang ada di kolong langit ini.

Selamat Hari Valentine.***

Sumber: History.com
Sumber ilustrasi: Fotounik.net

7:52 PM | Posted in | Read More »

Sejarah Singkat Ponorogo

Ponorogo adalah sebuah kabupaten di wilayah provinsi Jawa Timur yang lekat dengan kesenian reog. Kesenian ini beberapa waktu lalu sempat menjadi buah bibir masyarakat karena dianggap telah dicuri oleh Malaysia. Jika ditilik dari usianya, Ponorogo memang telah lama menjadi pusat permukiman dan perkembangan kebudayaan sehingga jelas reog patut menjadi ikon bagi daerah tersebut. Tulisan berikut ini diunduh dari dmazter94.wordpress.com. Kami telah melakukan penyuntingan tanpa merubah isi.

Versi Babad Ponorogo
Menurut Babad Ponorogo (Purwowidjoyo;1997), setelah Raden Katong sampai di wilayah Wengker, beliau  memilih tempat yang memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai tempat permukiman (yaitu di dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan sekarang).

Melalui situasi dan kondisi yang penuh dengan hambatan dan tantangan yang datang silih berganti, Raden Katong, Selo Aji, dan Ki Ageng Mirah dan para pengikut mereka terus berupaya mengembangkan permukiman tersebut. Sekitar 1482 M, konsolidasi wilayah mulai dilakukan. Tahun 1482-1486 M, sedikit demi sedikit kesulitan tersebut dapat teratasi. Pendekatan kekeluargaan dengan Ki Ageng Kutu dan seluruh pendukungnya ketika itu mulai membuahkan hasil. Dengan dukungan banyak pihak, akhirnya Bathoro Katong (Raden Katong) dapat mendirikan Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV, di mana Raden Katong sendiri yang menjadi adipatinya yang pertama.

Versi Modern
Kadipaten Ponorogo berdiri pada tanggal 11 Agustus 1496 Masehi. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Ponorogo. Penetapan tanggal ini merupakan hasil dari kajian mendalam atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala di daerah Ponorogo dan sekitarnya, juga mengacu pada buku Hand Book of Oriental History, sehingga dapat ditentukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo.Bathoro, yang diyakini sebagai Kadipaten Ponorogo yang selanjutnya berkembang menjadi Kabupaten Ponorogo.

Asal-usul Nama Ponorogo
Babad Ponorogo karya Poerwowidjojo (1997) menceritakan bahwa asal-usul nama Ponorogo bermula dari kesepakatan dalam musyawarah bersama Raden Bathoro Katong, Kyai Mirah, Selo Aji dan Joyodipo pada hari Jum’at saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah Katongan sekarang). Di dalam musyawarah tersebut, disepakati bahwa kota yang akan didirikan tersebut akan dinamakan “Pramana Raga” yang akhirnya lama-kelamaan berubah menjadi Ponorogo.

Pramana Raga terdiri dari dua kata: Pramana yang berarti daya kekuatan, rahasia hidup, permono, dan wadi sedangkan Raga berarti badan, jasmani. Kedua kata tersebut dapat ditafsirkan bahwa di balik badan wadak manusia tersimpan suatu rahasia hidup (wadi) berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-sifat amarah, aluwamah, shufiah dan muthmainah. Manusia yang memiliki kemampuan olah batin yang mantap dan mapan akan mnempatkan diri di manapun dan kapan pun berada.***


Sumber ilustrasi: ravaelz.cahbag.us

11:57 AM | Posted in | Read More »

E-Book Gratis tentang Kepulauan Melayu di Sejarah Melayu Library

Sejarah-harian -- Layanan terbaru dari Sejarah Melayu Library kemungkinan besar akan memperoleh apresiasi positif dari para pecinta sejarah.

Sofiya Melnykova yang menulis di Blog Kindle memberitahukan, Sejarah Melayu Library kini memberikan layanan e-book, artikel dan makalah ilmiah gratis yang dapat diakses melalui Kindle.

Sejarah Melayu Library berfokus pada Kepulauan Melayu (Malay Archipelago, tetapi Sofiya menyamaratakannya dengan Indonesian Archipelago) dan daerah-daerah di sekitarnya. Seluruh e-book, artikel dan makalah ilmiah tersebut tersedia dalam format .PDF.

Secara umum, Sejarah Melayu Library memiliki tujuh seksi, yaitu General Section, Histories and Other References, Travelogue, Language, Fiction, Papers and Articles, dan News and Dispatches.

Tata letak dan navigasi Sejarah Melayu Library tidak berbelit-belit. Pengunjung tidak diwajibkan mendaftar untuk bisa memanfaatkan layanan-layanan gratis ini.*** (AI/14/2/2011)


Sumber ilustrasi: Blogkindle

6:29 PM | Posted in , , | Read More »

Sejarah Hari Pers Harus Dikaji Ulang

Republika.co.id, Palu -- Wartawan senior Sulawesi Tengah, Tasrief Siara, mengatakan bahw sejarah perjuangan pers nasional sebaiknya dikaji kembali. Sebab, masih ada perbedaan persepsi terhadap Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada 9 Februari.

"Dari sana baru bisa kita menentukan titik lahir HPN. Ini agar kita punya paradigma bersama tentang HPN," kata Tasrief di Palu itu, Rabu (9/2).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Hari Pers Nasional 2011 di Kupang, NTT, Rabu (9/2)
Ia mengatakan bahwa selama ini HPN lebih pada memperingati hari jadi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), bukan hari pers Indonesia. Karena, terbukti yang terlibat dan dilibatkan setiap HPN hanya orang-orang PWI saja.

"Saya tidak pernah melihat teman-teman dari AJI ataupun Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) yang dilibatkan di sini. Padahal, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) lebih dominan melakukan proteksi dan advokasi terhadap setiap tindak kekerasan wartawan maupun pelatihan-pelatihan jurnalistik untuk meningkatkan kapasitas jurnalistik," kata Tasrief. "HPN itu masih paradigma lama. Siapakah pelaksananya hari pers itu, coba lihat, semua ketua PWI diundang ke acara itu, kenapa AJI atau IJTI tidak diundang."

Mantan Ketua AJI Palu periode 2003-2005, Jafar G Bua, mengatakan bahwa HPN yang ditetapkan setiap tanggal 9 Februari itu tidak bisa dijadikan rujukan menjadi hari pers nasional. Karena, tanggal tersebut merupakan hari jadi PWI. "HPN perlu dikaji kembali karena tidak sesuai dengan semangat sejarah pertama kali munculnya pers di Indonesia," kata Jafar.

Jafar mengutip penelusuran budayawan Taufik Rahzen yang kemudian membukukan hasil penelusuran tersebut dalam buku '100 Tahun Pers Nasional'. "Di sana Taufik menyimpulkan mestinya hari kelahiran pers nasional itu ditandai tonggaknya dari terbitnya surat kabar Medan Prijaji pada 1 Januari 1907," katanya. Menurut Jafar, alasan Taufik Rahzen lebih condong peringatan HPN setiap 1 Januari sesuai dengan terbitnya surat kabar berbahasa melayu, Medan Prijaji, di Bandung pada 1 Januari 1907. Koran tersebut dibidani Raden Mas Tirto Adhi Soerjo.***


Sumber: Republika.co.id
Sumber ilustrasi: Republika.co.id

6:11 PM | Posted in , | Read More »

Sejarah Lambang Garuda Terlupakan

Galamedia - Banyak masyarakat Indonesia, termasuk pelajar, yang belum mengetahui makna dari lambang negara Indonesia, burung Garuda. Hal itu diungkapkan Kepala Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA), Isman Pasha kepada wartawan di auditorium MKAA, Jln. Asia Afrika Bandung, Rabu (9/2).

Padahal, kata Isman, usia lambang burung Garuda pada tahun ini sudah 61 tahun. "Tepatnya, 11 Februari nanti, lambang negara berusia 61 tahun," ungkap Isman.

Menurut Isman, sejarah lambang negara ini sejak tahun 1980-an tidak pernah diajarkan lagi kepada kalangan siswa. Pemerintah pada saat itu, lanjutnya, lebih menitikberatkan pada 36 butir pasal yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

"Tidak diajarkannya sejarah lambang negara (burung Garuda), ketika kurikulumnya diubah, dan pemerintah lebih mengedepankan nilai-nilai dan makna dari 36 pasal UUD 45," paparnya.

Karena tidak mengetahui sejarah lambang negara burung Garuda, ungkapnya, banyak masyarakat Indonesia tidak bisa menerangkan sejarah lambang burung Garuda. "Mereka tidak percaya diri ketika ditanya orang asing," tambahnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, MKKA bekerja sama dengan Museum Kapuas akan menggelar seminar nasional 61 tahun Garuda Pancasila di aula utama Gedung Merdeka Bandung, Jumat (11/2). Dikatakan Isman, seminar ini mendapat sambutan dari masyarakat. (B.81)**


Sumber: Galamedia
Sumber ilustrasi: partnershipsixteen.bridge.wikispaces.net

6:07 PM | Posted in , , | Read More »

Antara Maluka dan Maluku (Ambon)

Maluku adalah salah satu daerah yang pernah memainkan peran penting dalam sejarah kolonialisme Indonesia. Daerah inilah yang menjadi tujuan bagi pelbagai petualangan bangsa-bangsa Eropa yang hendak mencari "emas hitam" pada masa itu: rempah-rempah. Walaupun demikian, daerah mana saja yang dicakup dalam pengertian "maluku" tersebut seringkali simpang siur. Esai panjang berikut ini memberikan bukti bahwa "Maluku" pada masa kolonialisme Belanda dan Inggris bukan hanya mencakup daerah yang kita kenal sekarang, melainkan juga mencakup sebuah daerah di Kalimantan. Kami telah mengubah beberapa redaksi tanpa mengubah isi. Sumber: Lintas Sejarah Boerneo.

Oleh Mansyur Mappaarung, Staf Pengajar di Prog. Studi Sejarah FKIP Univ. lambung Mangkurat, Mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah Univ. Diponegoro Semarang (Angk.2010)

A. Latar Belakang 
Nama Maluka sering disebut dalam dalam sumber-sumber Kolonial[1], biasanya ditulis dengan sebutan Maloeka atau Molukko, dan dapat ditemukan misalnya di dalam Tractaat 13 Agustus 1787 dan Alteratie en Ampliatie Op Het Contract Met Den Sulthan Van Bandjarmasin Van 1 Januarij 1817 yang menyebut daerah Maluka dengan Molucco. Begitu pun dengan istilah yang terdapat di dalam Contract Met Den Sultan Van Bandjermasin 4 Mei 1826, Maluka disebut dengan Molukko.

Sementara itu, di dalam Ampliate En Verklaring Op Het Contract Met Den Sultan Van Bandjarmasin 18 Maret 1845 Maluku disebut atau ditulis dengan Maloekoe, sama dengan yang digunakan J.P. Moquette dalam artikelnya, Iets Over De Munten Van Bandjarmasin En Maloeka, yang terdapat dalam Tijdschrif Voor Indische Taal, Land En Volkenkunde (1906). J.P. Moquette (1906) dalam artikelnya itu menuliskan:

“Uit dit besluit zien we eerstens dat Alexander Hare de landstreek, door hem geoccupeerd onder den naam Maloeka (elder moloeka of Molukko genoemd), werkeljk in vollen eigendom verkreeg, en wel in October 1812, doch ten tweede, dat de aanbieding hem reeds 4 jaren te voren dus ±1808 gedaan werd………”
(Yang pertama tampak oleh kami dalam keputusan itu adalah daerah Alexander Hare melalui kesibukannya di bawah nama Maloeka [sebelumnya disebut Moloeka dari nama Malukko] sungguh lalu lintas hak pengelolahan hak milik kami yang telah berjalan baik pada Oktober 1812, tetapi di tahun kedua ia sudah memberikan kemajuan selama 4 tahun, jadi mulai dilakukan kurang lebih tahun 1808……..)

Hal ini perlu dikemukakan karena seringkali generasi baru yang meneliti sumber-sumber kolonial sering dikacaukan dengan kata Maluku atau bahkan Malaka yang ditulis persis atau bahkan sama. Sebagai perbandingan dapat dilihat dari penyebutan daerah Maluku yang dapat diikuti dari beberapa penjelasan berikut ini. 

Ditinjau dari kerangka kronologis tentang asal kata nama Maluku [3], maka pertama, penamaan Maloko yang terdapat dalam Sejarah Ternate, Kronik Kerajaan Bacan, dan Hikayat Tanah Hitu. Kedua, dari sumber asing seperti karya Valentijn, Oud en Nieuw Oost Indian jilid II, yang menyebutkan bahwa kata Maluku berasal dari kata Kolano Moloko[4]. 

Selain itu, sumber Cina mengatakan adanya daerah Mi-li-ku, dan berita Portugis (Gabriel Robel) mengatakan imformacao das cousas sobre as Molucas [5]. Di lain pihak, maluku pada masa VOC disebut dengan daerah Molukken, misalnya dalam kata Gouvernement de Molukken[6] yang pada abad ke-19 tertulis dalam surat-surat Belanda.

Ada tiga sebab utama bagi pemberian nama Molukken ini. Menurut Luhulima (1971), ketiga sebab tersebut adalah pertama, kecenderungan orang-orang Eropa sejak awal hubungan mereka dengan daerah rempah-rempah untuk menyamakan daerah itu dengan kerajaan Ternate; kedua, adanya gelar kolano moloko yang dipakai oleh raja Ternate yang menandakan betapa luasnya kerajaan Ternate (wilayahnya), misalnya daerah Banda yang dimasukkan dalam pengertian Maluku karena daerah Banda adalah penghasil rempah-rempah; sebab yang ketiga adalah adanya perspektif monopoli VOC bahwa semua daerah yang menghasilkan pala, lada atau cengkeh merupakan satu kesatuan dengan daerah lainnya yang menghasilkan rempah-rempah pula, yang masuk dalam Gouverneur der Molukken[7]. Jadi, nama Maluku sesuai dengan sumber sejarahnya disebut dengan Molucas atau Miliku dan Moloko, pada abad Ke-10.[8]

Sampai sekarang belum pernah ada tulisan khusus yang membahas tentang adanya kemiripan toponim atau kemiripan nama tersebut. Oleh karena itu penulis berusaha menginterpretasikan masalah tersebut berdasarkan bahan atau data sejarah yang disandarkan pada fakta sejarah yang ada. 

Penulis mengajukan dua hipotesis. Pertama, daerah yang dimasukkan dalam pengertian Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah (semua daerah yang menghasilkan rempah-rempah, di antaranya lada). Kedua, adanya perspektif monopoli VOC bahwa semua daerah yang menghasilkan pala, lada atau cengkeh merupakan satu kesatuan dengan daerah lainnya yang menghasilkan rempah-rempah pula.

Nama Maluka yang timbul belakangan, yaitu pada tahun 1787 pada masa kekuasaan VOC, adalah merupakan penyebutan dari bangsa Eropa, yang diperkirakan berasal dari kata Maluku. Daerah Maluka sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Raffles bahwa pada awalnya daerah tersebut memang adalah daerah penghasil lada atau rempah-rempah.[9]

B. Letak, Luas dan Kondisi Wilayah
Sifat-sifat sungai di Kalimantan mempunyai perbedaan yang tinggi pada sifat permukaan air di sepanjang alirannya, yakni membangun gosong-gosong pasir dan banjir serta membentuk rawa-rawa sepanjang tebing menuju ke muara (Idwar Saleh, 1960). Pantainya penuh rimba kayu bakau dan pohon nipah yang kemudian disambung dengan hutan-hutan yang lebat hingga ke pedalaman yang amat sukar dimasuki. Oleh karena letaknya pada daerah tropis dan pada garis equator, iklimnya lembab dan hujan yang turun banyak sekali[10]. Adanya keadaan alam ini pula yang menjadikan daerah Kalimantan Tenggara dan khususnya daerah Maluka, sebelum dibuka oleh Inggris dan dijadikan daerah konsesi, seakan-akan tidak pernah tersentuh.

Saleh (1960)[11] menegaskan bahwa akibat keadaan alam dan lebatnya hutan rimba, perhubungan sungailah yang menjadi faktor terpenting dalam lalu lintas perdagangan[12], penanaman kekuasaan, pemasukan kebudayaan dari luar oleh golongan imigran yang merupakan penduduk dari daerah di sekitarnya atau dari pedagang asing.

Luas wilayah Konsesi Maluka dari dahulu apabila dibandingkan dengan sekarang dalam tinjauan temporal memperlihatkan adanya perbedaan dan perubahan dilihat dari beberapa dasawarsa maupun kurun waktu (spasial). Daerah Konsesi Maluka dulunya sangat luas apabila dibandingkan dengan daerah Maluka yang ada sekarang.

Keberadaan daerah Maluka yang luas dan strategis tersebut adalah merupakan ciri khas tersendiri dari daerah Maluka. Sehingga tidak salah apabila J.P.Moquette (1906) mengemukakan adanya kesan optimisme dari Alexander Hare tentang daerah tersebut[13].

Alexander Hare diangkat menjadi residen di Banjarmasin pada tahun 1812. Pada awalnya, yaitu tahun 1808, Hare yang berkedudukan sebagai pengusaha partikulir sudah mencari daerah subur dan strategis dan kemudian menemukan daerah Maluka. Hare lalu meminta daerah tersebut kepada sultan Banjar dan diberikan serta merta dan statusnya diubah menjadi daerah konsesi. Hare kemudian menetap di Banjarmasin sampai tahun 1812, pada saat dia diangkat menjadi Residen, dan mulai menjalankan pemerintahannya pada tahun tersebut. Perlu dipahami bahwa pada saat itu Hare mulai memikirkan keinginannya sendiri.

Pada dasarnya Hare merasa senang mengerjakan kontrak dengan pemerintah Inggris (EIC) maupun Sultan Banjar. Kepuasan yang besar dirasakan Hare atas adanya pengakuan dari Raffles maupun adanya kepercayaan terhadapnya. Pada tahun 1812, setelah adanya perjanjian dengan Sultan Sulaiman, maka Sultan memberikan tanah konsesi itu secara formal kepada Hare serta melakukan pemerintahan atas daerah yang diberikan kepada Inggris yang terdapat dalam perjanjian atau Treaty 1812.

Dalam artikel Moquette (1906), daerah Konsesi Maluka digambarkan sebagai daerah yang membujur atau membentang di utara tepatnya pertengahan Sungai Martapura sampai sumber atau asal sungai tersebut[14] lurus ke Selatan sampai ke laut. Selanjutnya dari perbatasan laut sampai ke seberang benteng Tatas dan Sungai Martapura, lurus ke utara sampai ½ sungai bagian sungai Bantal, termasuk daerah Bati-Bati dan pantainya serta tanah Oedjong Bati dan wilayah taman Margarita[15]. Dari paparan tersebut dapat diketahui bahwa daerah konsesi Maluka sebenarnya memang sangat luas.

Daerah Alexander Hare tersebut yang semua wilayahnya dinamakan Maloeka[16] adalah merupakan tanah dalam hak pengelolahan atau hak milik sendiri (eigendom atau konsesi), akan tetapi mengatasnamakan EIC. Semua usaha perekonomian Hare yang dikembangkan di daerah tersebut telah berjalan dengan baik sampai bulan Oktober 1812. Daerah yang dibuka atau dikelola mulai tahun 1808 tersebut sudah memberikan kemajuan dan hasil yang bagus setelah berlangsung selama 4 tahun.

Bambang Subiyakto (2003) selanjutnya menambahkan bahwa wilayah Konsesi Maluka merupakan bagian dari daerah perairan di Kalimantan Selatan yang cukup ramai bagi pelayaran aktivitas sungai, sekaligus juga pelayaran laut. Perairan pantai terdapat pada daerah Tanah Laut sampai Pulau Laut. Panjang perairan garis pantai itu dimulai dari daerah Maluka sampai ke daerah Pasir. Beberapa sungai penting yang bermuara di sepanjang pantai itu adalah Maluka, Kurau, Tambangan, Tobanio[17], berada di daerah (distrik) Tanah Laut, serta Batulicin, Pagatan, dan Pasir berada di daerah (distrik) Kotabaru[18].

Dalam hal ini dapat diterapkan teori dari Bernett Bronson yang berpendapat bahwa pola permukiman dan aktivitas perdagangan dapat terbentuk oleh aliran sungai. Teori Bronson tersebut dikenal sebagai Teori Dendritik yang dibuat dengan model jangkauan wilayah Asia Tenggara. Daerah konsesi Maluka sebagai daerah di pinggir sungai dan bagian dari daerah aliran sungai Maluka sangat tepat untuk menjadi daerah perdagangan, pertanian dan perkebunan dan ini diperhitungkan dengan matang oleh Inggris untuk menempatkan Maluka sebagai daerah pengembangan usahanya.[19]

Model serupa juga telah diajukan oleh Miksic yang berasumsi bahwa faktor kondisi setempat seperti jalur komunikasi darat maupun sungai, kegiatan lalu lintas yang terbentuk dapat diperhitungkan sebagai sumber daya yang menentukan pola pemukiman dan pola pertanian dan perdagangan. Dari sini dapat kita lihat bahwa dukungan faktor geografis di daerah Maluka yang strategis dapat berpengaruh pada terbentuknya kegiatan perdagangan.[20]

Sebagai contoh tentang pentingnya keberadaan sungai Maluka yang dipakai untuk kegiatan pelayaran, misalnya mengenai perjalanan A.L. Weddik pada bulan Juli-Agustus 1846 dari Banjarmasin ke Tanjung Sambar. Weddik melakukan perjalanan berikutnya pada bulan november 1846 ke daerah Maluka, menggunakan kapal uap Playdes dengan nakhoda Clijver, perjalanan itu menempuh sungai Martapura, sungai Barito, perairan pantai Tanjung Selatan dan Sungai Maluka.[21]

Dalam tinjauan secara umum, sebenarnya pada awalnya ketertarikan Raffles pada Borneo diawali dengan hasil penelitiannya tentang Borneo yang menghasilkan kesimpulan bahwa Borneo memiliki kondisi yang subur. Selanjutnya Raffles memberikan laporan tentang adanya cabe rawit dan rotan yang sangat bagus yang terdapat di Banjarmasin dan juga memaparkan tentang besarnya jumlah wax (bahan baku lilin), sarang burung, tanduk rusa dan dagingnya, kulit dan kayu. Raffles sangat antusias menyampaikannya kepada Gubernur Jenderal Bengal, yaitu Lord Minto. Hal ini dapat dipahami karena keberadaan Banjarmasin (di antaranya daerah Maluka) adalah merupakan salah satu daerah yang paling subur di dunia dan juga keberadaannya sebagai penghasil emas dan intan yang produktif[22].

Kondisi penduduk di wilayah Konsesi Maluka pada masa Inggris dalam kurun waktu 1811-1816 tentu saja sangat berbeda dengan kondisi penduduk di daerah Maluka yang ada sekarang. Di daerah pantai seperti tanah laut, penduduknya melakukan hubungan dengan kota Banjarmasin melalui sungai Batutungku, Tabanio, dan Maluka. Mereka yang berasal dari daerah yang agak ke dalam menggunakan sungai-sungai itu sebagai muara kemudian menyusuri pantai untuk mencapai Banjarmasin[23]. Kondisi wilayah Maluka yang berada di dataran rendah dengan sungai Maluka sebagai sarana transportasi lewat sungai menjadikan daerah Konsesi Maluka sebagai daerah yang ramai.

Mengenai keadaan topografis atau kependudukan, menurut Bambang subiyakto (1999), penduduk Tanah Laut pada awal abad ke-19 hanya sedikit jumlahnya. Kemudian mereka sebagian besar terserang epidemi yang disebut dengan penyakit kuning. Sebagian besar penduduknya tewas dan hanya tersisa sedikit yang masih hidup. Beberapa waktu kemudian penduduk daerah ini bertambah dengan adanya migrasi penduduk Martapura, disusul kemudian dengan penduduk yang berasal dari Hulu sungai. Penduduk Tanah Laut, di antaranya daerah Maluka, semakin bertambah dengan adanya pendatang baru yang menetap, terutama dari Martapura dan Amuntai (Hulu Sungai)[24].

Pengkajian atas keadaan sosial budaya di daerah Maluka dalam kurun waktu 1811-1816 tersebut harus ditinjau secara analitis. Hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan keadaan yang benar-benar terjadi pada masa tersebut, utamanya pada masa pemerintahan Residen Alexander Hare.

Daerah Konsesi Maluka pada awalnya merupakan daerah yang tak berpenghuni. Menurut M. Fajar A.L. (2004), sebelum etnis lain berdatangan, telah terlebih dahulu terdapat komunitas orang Cina yang berada di kampung parit[25], atau tepatnya bermukim di kelurahan Angsau wilayah kecamatan Pelaihari, Tanah Laut. Orang orang Cina tersebut banyak berasal dari suku Hakka, Theo Chiu, dan Hokkian. Upaya untuk mendatangkan orang Cina tersebut adalah sehubungan dengan alasan mereka sendiri untuk mencari kehidupan yang lebih baik sehingga mereka memilih tinggal di tempat itu.

Secara makro dapat dilihat dari tinjauan politis, yaitu hubungan persahabatan antara Kerajaan Banjar dan Kerajaan Tiongkok. Kerajaan Banjar mengirimkan surat kepada Raja Tiongkok agar dikirimkan orang-orang yang ahli untuk pembangunan di Kerajaan Banjar. Raja Tiongkok menyetujui dan mengirimkan 11 orang laki-laki yang mempunyai kepandaian khusus, yaitu ahli perkebunan, perdagangan, peternakan, pertanian, pertukangan, tumbuh-tumbuhan, perdagangan, perikanan, kerajinan dan obat-obatan. Atas perintah Raja Banjar pada saat itu yang berada di Martapura, kesebelas orang Cina tersebut dibawa ke desa Parit dengan dikawal oleh sebelas orang punggawa Keraton.[26]

Di desa Parit, mereka bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sebagian dari mereka menggali parit dan menemukan emas, sehingga tempat penemuan tersebut dikenal dengan Parit Mas. Lama kelamaan akhirnya etnis Cina tersebut menetap dan kawin dengan penduduk setempat. Perkawinan etnis Cina Parit yang terbesar yaitu dengan orang-orang Bukit Meratus dan Kapuas Hulu.[27]

Penduduk Cina Parit hidup dengan cara bertani, beternak, berkebun dan mengerjakan kerajinan industri seperti tempayan, inangan, belanga, piring melawen, serta peludahan yang terbuat dari emas dan perak. Barang-barang tersebut dijual ke Jawa dan Singapura. Barang-barang kerajinan lainnya terbuat dari keramik dan batu-batuan seperti batu Giok dan Zamrud. Agama yang dianut oleh penduduk Cina Parit adalah campuran antara Konghucu dan Taoisme yang merupakan agama nenek moyang orang Tionghoa.[28]

Sementara itu, di daerah Konsesi Maluka dan Tabanio, telah terbentuk permukiman Cina yang pertama di daerah Tanah Laut, yaitu mulai terjadi tahun 1790-an. Alasan yang sama juga melatarbelakangi pembentukan pemukiman Cina di daerah konsesi Maluka ini, yaitu atas permintaan Sultan Panembahan Batu, orang-orang Cina itu pada mulanya didatangkan sebanyak 13 orang kemudian ditambah lagi dengan 70 orang langsung dari Cina. Kemudian atas bantuan Hare didatangkan pula sekitar 70 orang ke daerah itu pada dasawarsa kedua abad ke-19. Pada saat itu, jumlah mereka lebih dari 150 orang sehingga kemudian diangkatlah seorang kapten Cina di sana berdasarkan keputusan Residen.[29]

Pada perkembangan selanjutnya, di samping mendatangkan orang Cina, didatangkan pula oleh Hare sekitar 4000 orang pekerja dari Jawa. Mereka terutama ditempatkan di daerah Konsesi Maluka dan Pulau Sari[30], Tanah Laut, untuk mengerjakan usahanya di bidang perkebunan dan yang bersedia bekerja sebagai kuli.

Adanya permintaan Hare pada Sultan Sulaiman untuk menyediakan pekerja di perkebunannya memang dipenuhi, akan tetapi Sultan hanya mampu menyediakan sangat sedikit pekerja dari Jawa. Selain sedikitnya jumlah penduduk, pada umumnya penduduk dari Banjarmasin dan Martapura enggan menerima pekerjaan sebagai kuli dan pada umumnya pula penduduk telah mempunyai  pekerjaan masing-masing.[31]

Dari data sejarah di atas dapat kita rekonstruksi kembali keadaan sosial budaya masyarakat di daerah Konsesi Maluka yang dicirikan oleh budaya Cina walaupun tidak dapat dikesampingkan adanya peranan budaya lokal. Demikian pula datangnya orang Jawa mengindikasikan adanya pluralisme di daerah Konsesi Maluka, atau dapat dikatakan adanya beberapa etnis yang beragam mencirikan keadaan yang dinamis di daerah Konsesi Maluka. Sudah barang tentu budaya yang berkembang semakin beragam dan ada perpaduan dengan budaya lokal.

Hal ini dapat ditinjau dari aspek budaya. Dengan adanya ragam etnis yang ada di daerah Konsesi Maluka yang didatangkan oleh Alexander Hare, maka diperlukan  adanya komunikasi antar budaya[32] agar kehidupan sosial masyarakat yang ada dapat terlaksana dan berlangsung secara berkelanjutan. Keberadaan atau analisis sosial tentang daerah Konsesi Maluka belum ada atau tidak terdapat dalam beberapa arsip yang penulis gunakan sehingga dalam pembahasan mengenai sosial budaya  di daerah Konsesi Maluka pada masa tersebut sangat terbatas untuk dipaparkan dalam tulisan ini.

Pada Perjanjian 1812 antara pemerintah Inggris dengan Sultan Banjar, pasal 5 isinya adalah bahwa Sultan Sulaiman Alamah Tahmidullah menyerahkan sepenuhnya kedaulatan yurisdiksi atas beberapa daerah di antaranya adalah daerah ibukota, benteng pertahanan, wilayah Kuin, pulau Tatas yang merupakan bagian dari Provinsi Dayak, Mandawai, Sampit, Kuala Pembuang termasuk Sintang dan sekitarnya, Lawie dan Jalai, Bakumpai dan Doosan, Baran Katia, Kabupaten Pasir, Pagatan dan Pulau Laut. Hal tersebut mengindikasikan betapa luas daerah yang diberikan oleh Sultan Sulaiman yang berkuasa pada saat itu kepada Inggris.

Dari beberapa daerah yang disebutkan tersebut tidak terdapat daerah Maluka. Menurut Amir Hasan Kiai Bondan (1953), daerah Maluka memang tidak dimasukkan karena daerah Maluka merupakan tanah eigendom atau konsesi dan merupakan bagian dari daerah atau distrik Pulau Laut.[33] Hare secara sepihak mengklaim daerah tersebut sebagai milik pribadinya walaupun dalam hal ini pengelolannya masih di bawah kendali pemerintah Inggris atau EIC, misalnya saja dalam pengelolaan pertanian dan perdagangan cabai rawit maupun hak untuk penebangan kayu dan serta penambangan emas dan intan. Usaha lain yang dikembangkan adalah adanya usaha perkebunan dan pertanian lokal,  industri perahu dan pembuatan atau penempaan mata uang.***

Referensi :
- Arsip tentang perjanjian tersebut terdapat dalam Surat-Surat Perjanjian antara Kesultanan Banjarmasin dengan Pemerintahan VOC, Bataafse Republik, Inggris dan Hindia Belanda 1635-1860, diterbitkan oleh Arsip Nasional Republik indonesia (ANRI) Kompartimen Perhubungan dengan Rakyat, Djakarta, 1965.
 C.P.F. Luhulima (ed). Bunga Rampai Sejarah Maluku. Lembaga Research Kebudayaan Nasional, LIPI terbitan tak berkala, Serie no. 1/9, Jakarta, 1971, hal 1-8.Bandingkan dengan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia III, Depdikbud & Balai Pustaka, 1990, hal. 113, maupun Sejarah Daerah Maluku, Depdikbud, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Jakarta, 1976/1977, hal. 23.
 J. Keuning. Sejarah Ambon Sampai Akhir Abad ke-17, Kerjasama LIPI dengan Koninklijk Instituut voor Taal , Land en Volkenkunde (KITLV) dan Bhatara, Jakarta, 1973. hal. 77.
- Paramita.R. dan Abdoerachman. Peninggalan-Peninggalan yang Bertjiri Portugis di Amboina. Lembaga Research Kebudayaan Nasional, LIPI terbitan tak berkala, Serie no. 1/9,Jakarta, 1971, hal 1-8.
-  R.Z. Leirissa. Politik Perdagangan VOC di Maluku. Lembaga Research Kebudayaan Nasional, LIPI terbitan tak berkala, Serie no. 1/9, Jakarta, 1971, hal 145..
- keadaan alam di kalimantan tenggara tersebut dijelaskan dalam Encyclopedie van Nederlanch Indie jilid I, dalam M. Idwar Saleh. Bandjarmasin, Selayang Pandang Bangkitnya Keradjaan Bandjarmasin, Posisi, Funksi Dan Artinya Dalam Sedjarah Indonesia dalam Abad Ke 17. KPPK Balai Pendidikan Guru, Bandung. 1960, hal. 25-26, bandingkan dengan pembahasan mengenai keadaan geografis Kalimantan Selatan dalam M. Idwar Saleh. Banjarmasih, Museum Negeri Lambung Mangkurat, Banjarbaru, 1981/1982, hal. 7-8.
- Bambang Subiyakto. Pelayaran Sungai Di Kalimantan Tenggara, Tinjauan Historis Tentang Transportasi Air Abad Ke-19. Tesis pada program Pascasrjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 1999. hal. 10.
- J. P. Moquette. Iets Over De Munten Van Bandjarmasin En Maloeka. Albrecht & Co and M. Nijhoff, Batavia, 1906, Hal 491. Artikel ini di kumpulkan oleh Van Ronkel dalam buku Tijdschrif Voor Indische Taal, Land En Volkenkunde pada tahun 1906.
- Sampai sekarang yang dinamakan dengan Sungai Bantal belum dapat diidentifikasi tepatnya ada di daerah mana. Daerah Bati-Bati masih ada sampai sekarang yaitu daerah kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut., sedangkan Oedjong Bati dan taman Margarita sampai saat ini juga belum dapat diidentifikasi. Sedangkan Tabanio dalam arsip Belanda biasanya ditulis dengan Tobaniouw.
- Bambang Subiyakto. Perompakan : Sebuah Realitas Historis Abad Ke-19 di Kal-Sel, dalam buku Kenangan Purna Tugas Prof. M.P. Lambut, Kerjasama LPKPK, Forum 24, Pemko dan DPRD kota Banjarmasin, Banjarmasin, 2003, hal. 93
- Bernet Bronson. Lost Kingdom Mislaid, dalam Bulletin Field Museum Of Natural History. Volume 46/4, tahun 1975, hal. 9.
- Teori Miksic dalam Karel W Butzer. Environment and Archeology : An Introduction to plestocene Geography. Chicago : Aldine Publishing Company, 1954, hal. 12.
- Graham Irwin. Ninetenth–Century Borneo, A Study in Diplomatic Rivalry,.Malaya, S.Gravenhage-Martinus nijhoff, 1955, hal.16, bandingkan dengan pemaparan Syafii dalam tulisannya Indonesia Pada Masa Pemerintahan Raffles, Mutiara, Jakarta, 1982, hal. 16-20. Keberadaan kalimantan sebagai penghasil intan juga dijelaskan oleh Tjilik Riwut dalam Kalimantan Memanggil, Endang, djakarta, 1958, hal 302-303.
- Fungsi-fungsi dan hubungan-hubungan antara komponen-komponen komunikasi juga berkenaan dengan komunikasi antar budaya. Namun apa yang terutama yang menandai komunikasi antar budaya adalah bahwa sumber dan penerimanya berasal dari budaya yang berbeda. Ciri ini saja menandai untuk mengidentifikasi suatu bentuk interaksi komunikatif yang unik dan harus memperhitungkan peranan dan fungsi budaya dalam proses komunikasi. Komunikasi antar budaya dapat dilihat dalam persfektif model. Hal ini dikemukakan oleh Larry A. Samovar & Richard E. Porter. Interculturac Communication : A Reader, Dalam Deddy Mulyana & Jalaluddin Rahmat (ed). Komunikasi Antar Budaya, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1990, hal. 21.
- Amir Hasan Kiai Bondan. Suluh Sedjarah Kalimantan, M.A.T. Pertjetakan Fadjar, 1953, hal. 32.

12:14 AM | Posted in | Read More »