Arung Sejarah Bahari 2011 di Baubau

Sejarah-harian – Seratus mahasiswa terbaik dari pelbagai universitas di Indonesia akan berkumpul di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Menurut jadwal, mereka akan mengikuti Arung Sejarah Bahari.

Ke-100 mahasiswa tersebut memilik IP (indeks prestasi) tinggi dan berasal dari pelbagaidisiplin ilmu di universitas masing-masing. Walikota Baubau, Mz Amirul Tamin, menjelaskan, dalam Arung Sejarah Bahari, ke-100 mahasiswa itu akan membahas arung sejarah maritim dan keterkaitan budaya bahari Kesultanan Buton dengan daerah lain.

Pelaksanaan Arung Sejarah Bahari menurut rencana akan dilakukan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Sulawesi Tenggara, yaitu 27 April 2011. Sebelum ditetapkan menjadi program, Pemerintah Kota Baubau telah melakukan revitalisasi dan inventarisasi terhadap sejumlah situs budaya di Baubau.

Direktur Geografi dan Sejarah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Endjat Djaenuderadjat, beberapa waktu lalu menyatakan, Buton memiliki potensi luar biasa mulai dari posisi geografis yang strategis, aksesabilitas, potensi pariwisata dan sumber daya alam melimpah.

Salah satu alasan Baubau menjadi tuan ruah Arung Sejarah Bahari adalah karena kota ini memiliki potensi maritim yang menonjol. (AI/Ber10/12-2010)

Sumber: Republika
Sumber ilustrasi: en.wikipedia.org

8:24 PM | Posted in , , | Read More »

Foto Klasik Keluarga Pejabat Cina

Keluarga Cina yang memiliki kedudukan tinggi dan penting dalam masyarakat biasanya memiliki foto keluarga. Foto di atas adalah foto salah satu keluarga pejabat penting di kota Anching, sekitar 1878.

Sumber: CNN

6:16 AM | Posted in | Read More »

Universitas Yale Segera kembalikan Artefak Machu Picchu

Botol yang ditemukan di Macchu Picchu ini menjadi salah satu artefak yang akan dikembalikan kepada Yale kepada Peru. Selanjutnya, botol ini akan disimpan di sebuah universitas di Cuzco, Peru.
Sejarah-harian – Selama hampir satu abad, sebagian besar dari artefak yang ditemukan di Macchu Picchu tersimpan di Museum Peabody milik Yale University. Namun, dalam dua tahun ke depan, universitas ternama di Amerika Serikat tersebut akan segera mengembalikan artefak-artefak tersebut kepada Peru.

Sejak 2002, publik dan pemerintah Peru gigih meminta kembali artefak-artefak tersebut dari pihak Yale. Pada 2008, Peru menuntut Yale melalui Mahkamah Agung AS. Yale menanggapi dengan menyatakan bahwa Peru telah kehilangan hak atas artefak-artefak tersebut karena dalam waktu yang sangat lama tidak pernah meminta kembali artefak-artefak tersebut.

Pada November 2010, Presiden Peru Alan Garcia memimpin kampanye besar-besaran untuk mengembalikan artefak-artefak Macchu Picchu. Pemerintah Peru melobi Presiden Obama dan Vatikan. Karena tekanan begitu kuat, akhirnya Presiden Yale, Richard Levin mengirimkan delegasi untuk berunding dengan pemerintah Peru.

Perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk mengembalikan artefak-artefak Macchu Picchu dalam waktu dua tahun ke depan. Pihak Yale berasalan,Macchu Picchu telah menjadi bagian dari identitas Peru karena situs tersebut merupakan daerah tujuan wisata yang dikunjungi lebih dari satu juta orang setiap tahun.

Pihak Yale juga menyatakan, pengetahuan kesejarahan yang dikandung artefak-artefak yang selama ini dipersengketakan akan lebih efektif jika disimpan dan dipamerkan kepada publik di kota Cuzco, Peru, yang lebih dekat dengan situs Macchu Picchu.

Artefak-artefak Macchu Picchu yang tersimpan di Peabody Museum dibawa ke Amerika Serikat oleh petualang dari Yale, Hiram Bingham III. Bingham melakukan beberapa kali ekspedisi ke Macchu Picchu sejak 1911 dan mengeksvakasi banyak sekali artefak. Dia mempopulerkan situs tersebut melalui sebuah artikel di National Geographic.
Hiram juga memperoleh izin dari pemerintah Peru saat itu untuk membawa artefak-artefak temuannya ke Amerika Serikat demi keperluan ilmiah dan berjanji akan mengembalikan kepada Peru dalam waktu dua tahun. Walaupun demikian, ternyata hingga hampir satu abad lamanya artefak-artefak tersebut tidak pernah dikembalikan.

Situs Macchu Picchu terletak di salah satu puncak Pegunungan Andes yang membentang di Amerika Selatan. (AI/BER9/12-2010)



Sumber: npr.org
Sumber ilustrasi: npr.org

5:19 PM | Posted in , | Read More »

Dokumentasi Fotografis Cina


Orang Barat juga mendokumentasikan Cina melalui foto. Foto di atas adalah aerial view Peking (sekarang Beijing), dipotret oleh fotografer Inggris William Saunders pada 1880.

Sumber: CNN

4:58 PM | Posted in | Read More »

Foto Klasik Kasim Cina


Liang Shitai adalah seorang fotografer komersial yang sering memotret anggota keluarga kerajaan. Foto ini, yang diambil oleh Shitai antara 1860-1879, adalah foto salah seorang kasim di Istana Peking. Kasim adalah pria yang dikebiri dan menjadi bekerja sebagai pelayan di istana atau pegawai kerajaan. Salah satu kasim yang paling termasyhur di dunia adalah Laksamana Ceng Ho, admiral muslim Cina.

Sumber: CNN

3:24 PM | Posted in | Read More »

Museum Jamu Nyonya Meneer, Semarang

Museum jamu Nyonya Meneer adalah museum jamu pertama di Indonesia. Didirikan di Semarang pada tanggal 18 Januari 1984.
Tujuan jangka panjang didirikannya museum ini adalah sebagai cagar budaya untuk melestarikan warisan leluhur sehingga dapat menjadi sarana edukasi rekreasi pra generasi muda.
Museum jamu Nyonya Meneer dibagi dalam 2 (dua) bagian :
A.    Bagian yang menyajikan barang koleksi pribadi Nyonya 
Meneer.
B.    Bagian yang menyajikan produktivitas jamu, menyangkut
produktivitas secara tradisional.
Harapan jangka panjang dapat berkembang sesuai dengan kegunaannya, sehingga berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara sebagai cermin kebesaran, kekayaan dan kesuburan bumi pertiwi ini.
KETENTUAN UMUM MENGUNJUNGI MUSEUM
TATA TERTIB
·         Dimohon untuk tidak merokok
·         Membuang smpah ditempat yang tersedia
·         Tidak menyentuh / memegang koleksi / benda bersejarah museum
·         Dimohon untuk tidak memotret

2:45 PM | Posted in | Read More »

Museum Nasional Indonesia


Museum Nasional Republik Indonesia atau Museum Gajah, adalah sebuah museum yang terletak di Jakarta Pusat dan persisnya di Jalan Merdeka Barat.

Museum Nasional Republik Indonesia adalah salah satu wujud pengaruh Eropa, terutama semangat Abad Pencerahan, yang muncul pada sekitar abad 18. Gedung ini dibangun pada tahun 1862 oleh Pemerintah Belanda di bawah Gubernur-Jendral JCM Radermacher sebagai respons adanya perhimpunan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang bertujuan menelaah riset-riset ilmiah di Hindia Belanda. Museum ini diresmikan pada tahun 1868, tapi secara institusi cikal bakal Museum ini lahir tahun 1778, saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen oleh pemerintah Belanda.

Museum Nasional dikenal sebagai Museum Gajah sejak dihadiahkannya patung gajah oleh Raja Chulalongkorn dari Thailand pada 1871. Tetapi pada 28 Mei 1979, namanya resmi menjadi Museum Nasional Republik Indonesia. Kemudian pada 17 Februari 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia yang mengelolanya, menyerahkan Museum kepada pemerintah Republik Indonesia. Sejak itu pengelolaan museum resmi oleh Direktorat Jendral Sejarah dan Arkeologi, di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi mulai tahun 2005, Museum Nasional berada di bawah pengelolaan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.

Catatan di website Museum Nasional Republik Indonesia pada tahun 2001 menunjukkan bahwa koleksinya telah mencapai 109.342 buah. Jumlah koleksi itulah yang membuat museum ini dikenal sebagai yang terlengkap di Indonesia. Pada tahun 2006 jumlah koleksinya sudah melebihi 140.000 buah, tapi baru sepertiganya saja yang dapat diperlihatkan kepada khalayak.

Museum ini terletak di Jalan Merdeka Barat.

Museum Gajah banyak mengkoleksi benda-benda kuno dari seluruh Nusantara. Antara lain yang termasuk koleksi adalah arca-arca kuna, prasasti, benda-benda kuna lainnya dan barang-barang kerajinan. Koleksi-koleksi tersebut dikategorisasikan ke dalam etnografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relik sejarah, dan benda berharga.

Sebelum gedung Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Salemba 27, Jakarta Pusat didirikan, koleksi Museum Gajah termasuk naskah-naskah manuskrip kuna. Naskah-naskah tersebut dan koleksi perpustakaan Museum Gajah kini disimpan di Perpustakaan Nasional.

Sumber koleksi banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.

Koleksi yang menarik adalah Patung Bhairawa patung yang tertinggi di Museum Nasional dengan tinggi 414 cm ini merupakan manifestasi dari Dewa Lokeswara atau Awalokiteswara, yang merupakan perwujudan Boddhisatwa (pancaran Buddha) di bumi. Patung ini berupa laki-laki berdiri diatas mayat dan deretan tengkorak serta memegang cangkir dari tengkorak di tangan kiri dan keris pendek dengan gaya Arab di tangan kanannya, ditemukan di Padang Roco, Sumatra Barat. Diperkirakan patung ini berasal dari abad ke 13 - 14.

Koleksi arca Buddha tertua di Museum ini berupa arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari perunggu, disimpan dalam ruang perunggu dalam kotak kaca tersendiri, berbeda nasibnya dengan arca Buddha, arca Hindu tertua di Nusantara, yaitu Wisnu Cibuaya (sekitar 4M) terletak di ruang arca batu tanpa teks label dan terhalang oleh arca Ganesha dari candi Banon.

Pada 1960an, pernah terjadi pencurian koleksi emas yang dilakukan oleh kelompok pimpinan Kusni Kasdut. Pada 1979 terjadi pula pencurian koleksi uang logam. Pada 1987 beberapa koleksi keramik senilai Rp. 1,5 milyar. Dan pada 1996 pencurian lukisan yang bisa ditemukan kembali di Singapura.

Hal ini menyadarkan pengelola bahwa keamanan adalah faktor penting untuk menjaga koleksi. Karena itu museum dilengkapi dengan alarm, kamera pengaman, dan 17 petugas keamanan.

Kondisi koleksi dijaga dengan ketat dengan usaha konservasi. Terutama adalah koleksi dari kertas yang butuh penanganan hati-hati. Seringkali bagian koleksi yag rusak diganti dengan bahan tiruan. Meskipun hal ini mengurangi otentisitas, tetapi tetap mempertimbangkan sisi estetika dan bentuk asli karya yang dikonservasi. Sering pula ditemui usaha rekonstruksi untuk mengganti koleksi yang rusak parah.

Secara umum, hal ini memperlihatkan sikap umum museum di kebanyakan wilayah Asia yang lebih mengutamakan restorasi daripada menjaga ontentisitas.(CONTOH3)

2:43 PM | Posted in | Read More »

Monumen Jogja Kembali


Museum Monumen Yogya Kembali, adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang ada di kota Yogyakarta dan dikelola oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Museum yang berada di bagian utara kota ini banyak dikunjungi oleh para pelajar dalam acara darmawisata.

Museum Monumen dengan bentuk kerucut ini terdiri dari 3 lantai dan dilengkapi dengan ruang perpustakaan serta ruang serbaguna. Pada rana pintu masuk dituliskan sejumlah 422 nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III (RIS) antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949. Dalam 4 ruang museum di lantai 1 terdapat benda-benda koleksi: realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk evokatif dapur umum dalam suasana perang kemerdekaan 1945-1949. Tandu dan dokar (kereta kuda) yang pernah dipergunakan oleh Panglima Besar Jendral Soedirman juga disimpan di sini (di ruang museum nomor 2).


Monumen Yogya Kembali dibangun pada tanggal 29 Juni 1985 dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Gagasan untuk mendirikan monumen ini dilontarkan oleh kolonel Soegiarto, selaku walikotamadya Yogyakarta pada tahun 1983. Nama Yogya Kembali dipilih dengan maksud sebagai tetenger (peringatan) dari peristiwa sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari ibukota RI Yogyakarta pada waktu itu, tanggal 29 Juni 1949. Hal ini merupakan tanda awal bebasnya bangsa Indonesia dari kekuasaan pemerintahan Belanda. (CONTOH2)

2:39 PM | Posted in | Read More »

Museum Fatahillah, Jakarta

Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.

Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota (bahasa Belanda: Stadhuis) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

Arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17 bergaya Barok klasik[rujukan?] dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin.

Museum ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua.

Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.

Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.

Pada tahun 1937, Yayasan Oud Batavia mengajukan rencana untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah Batavia, yayasan tersebut kemudian membeli gudang perusahaan Geo Wehry & Co yang terletak di sebelah timur Kali Besar tepatnya di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 (kini museum Wayang) dan membangunnya kembali sebagai Museum Oud Batavia. Museum Batavia Lama ini dibuka untuk umum pada tahun 1939.
Pada masa kemerdekaan museum ini berubah menjadi Museum Djakarta Lama di bawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan selanjutnya pada tahun 1968 ‘’Museum Djakarta Lama'’ diserahkan kepada PEMDA DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin, kemudian meresmikan gedung ini menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.

Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, Museum Sejarah Jakarta sejak tahun 1999 bertekad menjadikan museum ini bukan sekedar tempat untuk merawat, memamerkan benda yang berasal dari periode Batavia, tetapi juga harus bisa menjadi tempat bagi semua orang baik bangsa Indonesia maupun asing, anak-anak, orang dewasa bahkan bagi penyandang cacat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi.

Untuk itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih rekreatif. Selain itu, melalui tata pamernya Museum Sejarah Jakarta berusaha menggambarkan “Jakarta Sebagai Pusat Pertemuan Budaya” dari berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun dari luar Indonesia dan sejarah kota Jakarta seutuhnya. Museum Sejarah Jakarta juga selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif sehingga dapat merangasang pengunjung untuk tertarik kepada Jakarta dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya.

Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh ‘'’Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen”’ sebagai gedung balaikota ke dua pada tahun 1626 (balaikota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dibangun kemudian hari. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah.

Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi lantai dinaikkan sekitar 2 kaki, yaitu 56 cm. Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan Timur. Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-penjaranya terus dilakukan hingga bentuk yang kita lihat sekarang ini.

Gedung ini selain digunakan sebagai stadhuis juga digunakan sebagai ‘’Raad van Justitie'’ (dewan pengadilan) yang kemudian pada tahun 1925-1942 gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 markas Komando Militer Kota (KMK) I, yang kemudian menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakartapada tanggal 30 Maret 1974.

Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ‘’stadhuisplein'’. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC ‘'’Johannes Rach”’ yang berasal dari ‘'’Denmark”’, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungkan dengan pipa menuju stadhuiplein.

Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu ‘'’Taman Fatahillah”’ untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.*** (CONTOH1)

2:36 PM | Posted in | Read More »

Sukarno cs di Pegangsaan Timur 56, Jakarta


Rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, adalah kediaman Ir. Soekarno. Di rumah ini pula proklamasi Indonesia dibacakan pada 17 Agustus 1945.

2:32 PM | Posted in | Read More »

Dr. H.J. van Mook, Ketua NICA


NICA membonceng kedatangan tentara Sekutu, yang didominasi oleh tentara Gurkha-India di bawah komando Inggris - sebagai usaha Belanda untuk menguasai kembali Indonesia. NICA, atau Nederland Indies Civil Administration/Pemerintah Sipil Hindia Belanda, diketuai oleh Dr. Hubertus J van Mook. Dr. van Mook menegaskan bahwa ia tidak akan memulai pembicaraan dengan Sukarno yang dituduhnya telah bekerja sama dengan Jepang.Dr. van Mook lahir di Semarang, 30 Mei 1894 dan meninggal di L'Illa de Sòrga, Perancis, 10 Mei 1965, pada umur 70 tahun.

2:31 PM | Posted in | Read More »

Sepak Bola Tahun 1927

Pada zaman Hindia belanda, terdapat dua organisasi sepak bola, yaitu NIVU dan PSSI. Keduanya saling bersaing dalam merebut prestise dan prestasi dalam bidang sepak bola. NIVU adalah singkatan dari Nederlandsh Indische Voetbal Unie, sedangkan PSSI - yang sampai sekarang masih lestari - adalah singkatan dari Persyarikatan Sepakbola Seluruh Indonesia. Prestasi terbesar insan sepak bola Hindia Belanda adalah ikut serta dalam pergelaran Piala Dunia 1930 di Perancis, di mana kesebelasan Hindia Belanda difilas Hongaria 6 gol tanpa balas.

2:26 PM | Posted in | Read More »

Kongres Taman Siswa, 13 Agustus 1930


Taman Siswa adalah organisasi pendidikan yang didirikan pada masa Hindi Belanda, tepatnya pada 3 Juli 1922. Organisasi ini mengadakan kongresnya yang pertama pada 13 Agustus 1930 di Yogyakarta. Salah satu hasil kongres tersebut adalah "Keterangan Penerimaan" untuk penyerahan "Piagam Persatuan Perjanjian Pendirian". Keterangan tersebut ditandatangani pada saat penutupan kongres oleh Ki Sarmidi Mangunsarkoro, Ki Sadikin, Ki S. Djojoprajitno, Ki Poeger, Ki Kadiroen dan Ki Safioedin Soerjopoetro atas nama Persatuan Tamansiswa seluruh Indonesia. Penyerahan dilakukan oleh Ki Hadjar Dewantara, Ki Tjokrodirjo dan Ki Pronowidigdo.***

2:07 PM | Posted in | Read More »

FARID HARDJA, Gerak Lentur Sang Penghibur

Mulanya ia muncul dengan ciri khas kepala botak berambut tebal di sisi atas, kanan, dan kirinya. Kacamata yang dikenakannya pun dibikin semirip mungkin dengan Elton John yang sedang jaya-jayanya di dekade 1960-an itu. Beberapa tahun kemudian, penampilannya berubah, rambutnya menggumpal alias kribo. Metamoforsa itu terus berlanjut hingga akhirnya ia lekat sebagai penyanyi bertubuh tambun dan berjubah besar dengan motif warna-warni. Tampilan barunya ini sepertinya menggambarkan beragam jenis musik yang pernah dan akan dijajalnya, dari rock & roll, jazz, balada, pop, disko, reggae, hingga dangdut.


Musisi bertubuh besar ini memang luarbiasa. Kreativitas dan inovasinya tak pernah mati, produktivitasnya tak perlu diragukan lagi. Ia selalu bisa berkelit dari ketertinggalan zaman, senantiasa bergerak dinamis mengikuti selera penikmat musik tanah air. Si orang besar nan gesit ini nyaris selalu menghasilkan karya saban tahun, sejak album pertamanya rilis pada 1977 hingga pungkasan hidupnya. Sejalan badannya yang tambun, otaknya pun rimbun dijejali banyak ide kreatif untuk tetap bisa bertahan, bahkan meraja. Hebatnya lagi, setiap album yang ia keluarkan selalu menjadi hits dan populer di ranah permusikan Indonesia. Sekali lagi, ia adalah pemusik yang senantiasa berubah, tak canggung untuk selalu bermetamorfosa agar tetap layak jual dan layak dengar. Dialah Farid Hardja yang pernah menjadi raksasa di dalam industri musik Indonesia.

Tahun 1966, kondisi perpolitikan dalam negeri sedang mencium aroma keguncangan. Masa pancaroba kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto lagi hangat-hangatnya berproses. Di sisi lain, terjangan musik Barat kian merangsek ke dalam rusuk ibu pertiwi. The Beatles salahsatu penyebabnya. Nyaris semua anak band di tanah air tergila-gila pada kepopuleran band asal Liverpool ini. Kedigdayaan Soekarno –yang sangat anti imperialisme, termasuk Inggris dengan The Beatles-nya– mulai meluruh pasca tragedi Gerakan 30 September 1965 dan itu membuka pintu lebar-lebar bagi para musisi pribumi untuk memamah habis arus musik global yang kian menyodok naluri kreasi.

Dalam kondisi seperti itu, Farid Hardja keluar dari sarangnya, memulai karirnya sebagai pelaku musik dengan lebih profesional pada kisaran 1966 itu. Di Bandung, Farid bergabung dengan grup De Zieger yang mengusung aliran rock n roll dengan acuan The Rolling Stones. Lama memersiapkan diri untuk berkembang di kota kembang, musisi subur yang kala itu masih berambut kribo tersebut mantap hijrah ke Jakarta. Di ibukota, Farid menjajal kemampuan musikalnya bersama beberapa band rock, sebut saja Cockpit dan Brotherhood pada 1974 serta Brown Bear pada 1975.

Hanya sebentar mengadu nasib di Jakarta, pada 1976 Farid memutuskan pulang kampung ke Sukabumi, tempat di mana ia dilahirkan pada 1950. Namun ia hanya tak diam. Farid bersiasat membentuk kelompok yang dominan memainkan musik rock and roll, R & B, dan country. Nama grup ini bercorak lokal, sederhana dan mudah diingat serta jauh tren band-band lokal kala itu yang getol memakai nama asing. Bani Adam, begitulah Farid memberi nama kelompok barunya itu. “Karena kita semua adalah umat Nabi Adam. Sebagai manusia, kita harus paham asal usul kita,” demikian alasan Farid.

Bersama Bani Adam, karir Farid sebagai pelakon hiburan mulai menggelembung. Tahun 1977, perusahaan rekaman terkemuka Jackson Records & Tapes berkenan mencoba kebolehan Bani Adam dalam bermusik. Meluncurlah album perdana Bani Adam dengan lagu andalan “Karmila”. Lagu ini segera menjadi primadona dan melesatkan populeritas Farid. Enggan berlama-lama, di tahun yang sama Bani Adam menggelontorkan album kedua dengan judul Special Edition dengan hitsnya “Ikan Laut pun Menari di Bawah Lenganmu”. Setelah itu laju Farid tak terbendung lagi. Tercatat, dari tahun 1977 hingga 1998, Farid selalu mengeluarkan album –kecuali pada 1989– bahkan ada yang lebih dari satu album di setiap tahunnya. Lagu-lagu Farid banyak yang menjadi hits.

Namun ada ganjalan. Di masa-masa awal peluncuran albumnya, setidaknya sampai album kedua, Farid sangat kentara mencomot karya milik musisi luar negeri. Intro lagu “Karmila”, misalnya, ternyata begitu mirip dengan intro lagu “Peace of Mind” milik grup band Boston. Sedangkan lagu “Ikan Laut” di album kedua, Farid dituding menyalin-ulang lagu “Lyin ’Eyes” milik The Eagles. Yang tak berubah adalah corak suara Farid yang serak-serak berat dan menggelegar. Jenis vokal Farid termasuk langka, jarang dimiliki penyanyi lokal. Menyadari kondisi yang mengancam geraknya, Farid buru-buru menklarifikasi kekeliruannya. “Saya mengakui kesalahan konyol itu, menjiplak lagu milik orang. Tapi saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” janjinya.Ternyata publik memaafkan Farid dan karirnya terus menggelinding nir tanding.

Seiring penampilan panggungnya yang senantiasa berubah, dalam hal mencipta-karya pun Farid juga tak mau monoton. Ia selalu menggaet musisi berbeda di tiap-tiap albumnya, dari Eddy Manalief, Dodo Zakaria, hingga Lucky Resha. Farid teramat peka dalam membaca selera pasar sehingga musisi yang diajaknya berkolaborasi disesuaikan dengan tren musik pada tiap-tiap tahunnya. Maka tak heran jika lagu-lagu ciptaannya selalu laku di saban waktu. Lagu-lagu seperti Karmila (1977), Bercinta di Udara (1983), Ini Rindu (1992), sampai Partai Sembako (1999), adalah karya abadi Farid yang mewakili selera musik pada masing-masing era.

Selain itu, dilihat dari judulnya, kepekaan Farid terhadap gejala dan fenomena yang sedang dekat dengan masyarakat, pun teruji. Lagu “Bercinta di Udara” meluncur ketika orang sedang getol berkomunikasi lewat jaringan radio di era 1980-an, atau lagu “Partai Sembako” yang seakan-akan menjadi pernyataan sikap Farid atas kondisi perpolitikan yang carut-marut di masa transisi pasca tumbangnya Soeharto dengan menjamurnya munculnya partai-partai politik dan mahalnya harga barang-barang kebutuhan pokok. Masih banyak lagu Farid yang sesuai dengan apa yang sedang terjadi di masa itu, baik lingkup nasional maupun kejadian besar berskala global dunia.

Bermusik bareng maupun solo bukan masalah bagi Farid. Namun yang paling mengagumkan adalah ketika ia membangun duet –dengan penyanyi dari genre apapun– yang dapat dipastikan terlihat perpaduan harmonis antara Farid dan tandemnya. Berpasangan dengan rocker handal seperti Ahmad Albar atau Gito Rollies, atau ketika berduet dengan biduan pop romantis semisal Euis Darliah atau Endang S Taurina, Farid mampu menempatkan dirinya dengan baik. Bahkan saat didampingi pedangdut macam Anis Marsella atau Mery Andani, juga mencoba ranah baru di aliran pop disko dengan sedikit sentuhan reggae dan rap bersama penyanyi pendatang baru Lucky Resha, lagu-lagu Farid masih tetap digemari. Di sinilah letak kelihaian Farid Hardja sebagai sang penghibur sejati.

Tak hanya seni suara, di bidang seni peran pun Farid ternyata cukup ulung. Beberapa film layar lebar sempat dicicipinya, sebut saja film Tante Sundari (1977), Bandit Pungli (1977), Sayang Sayangku Sayang (1978), dan Ini Rindu (1991). Dua judul yang disebut terakhir bisa dikatakan film biografi Farid Hardja di mana lagu-lagu ciptaannya juga menjadi salahsatu penghias utama sinema tersebut. Selain sebagai pemeran utama, Farid juga merangkap selaku penata musiknya.

Farid Hardja menghembuskan nafas penghabisan pada 27 Desember 1998 dalam usia 48 tahun. Hingga di ujung maut pun ternyata sang bintang enerjik ini masih menyisakan tiga album yang belum sempat dirilis namun sudah siap edar. Ketiga album yang memang direncanakan akan diluncurkan pada 1999 tersebut adalah Live Disko (Partai Sembako), Farid & Barbie (Cut Cut Cut), dan Disko Dangdut (Obat Cinta). Seakan tiada kehabisan luapan gagasan, almarhum sebenarnya juga masih memiliki beberapa rencana lainnya, antaralain memproduksi sebuah acara televisi, sejumlah rekaman, dan keinginannya menampilkan karya-karya di atas panggung dalam pagelaran khusus. Memang, pesohor yang satu ini sangat layak diacungi jempol untuk kualitas, produktivitas, dan terutama kreativitasnya di ranah hiburan. (Iswara N Raditya/TOK1/12-2010)

Sumber Foto:
Diolah dari Sampul Album “Ini Rindu”, Farid Hardja dan Lucky Resha (Metrotama 1991)

8:28 PM | Posted in , | Read More »

Diplomasi Agus Salim, Dari Minang Merangkul Dunia

Apa sebab Agus Salim sangat piawai berbicara dan berdiplomasi? Oleh sejarawan Mestika Zed, pertanyaan tersebut terjawab, bahwa kemahiran Agus Salim dalam mengolah kalimat tidak lepas dari asal tanah kelahirannya, yakni Minangkabau. Agus Salim, anak Melayu kelahiran Koto Gadang, Sumatra Barat, sangat menyadari bakat lahirnya sebagai putra daerah dari negeri kata-kata –julukan yang disematkan untuk Minangkabau.

Faktor geografis ranah Minang, lanjut Zed, menyuburkan pencarian gagasan dan cita-cita Agus Salim. Tradisi merantau melahirkan jiwa yang bebas, dinamis, dan kosmopolitis. Bahkan tradisi itu dapat ditemukan pada setiap tokoh asal Minangkabau, meskipun Agus Salim dianugerahi kelebihan khusus hal-ihwal wacana kata-kata (Kompas, 06 September 2004).

Agnes Aristiarini turut mengamini pendapat Mestika Zeid dengan berujar bahwa Agus Salim sebagai pewaris negeri kata-kata telah memanfaatkan mulut dan lidahnya untuk memperjuangkan nasib rakyat, nasib bangsa, nasib negara. “Ia adalah bapak bangsa dari negeri kata-kata,” tambah Agnes yang berprofesi sebagai jurnalis ini.

Budaya Minang yang melahirkan tradisi petatah-petitih umumnya tidak hanya bernilai seni retorika, tetapi juga latihan berpikir dan pengakumulasian pengetahuan lokal yang unik. Maka di Minang, mulut dan lidah menjadi amat berharga, tidak hanya berfungsi sekadar indra pengecap selera masakan -yang membuat berkembangnya aneka makanan khas Minang- melainkan lebih luas lagi, yaitu sebagai sebuah lembaga pemikiran (M. Nasruddin Anshoriy Ch & Djunaidi Tjakrawerdaya, 2008).

Agus Salim merupakan salah satu dari sederet tokoh bertaraf nasional kelahiran Minangkabau yang sukses menjejakkan nama dan jasa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, khususnya pada era pergerakan nasional dan kemerdekaan. Bahkan, di antara tokoh-tokoh pergerakan nasional asal Sumatra Barat –termasuk Siti Roehana Koedoes yang juga lahir di Kotogadang, Tan Malaka (kelahiran Limapuluh Kota), Mohammad Jamin (Sawah Lunto), Mohammad Natsir (Alahan Panjang), Djamaluddin Adinegoro (Talawi), serta Mohammad Hatta dan Abdoel Moeis (keduanya dilahirkan di Bukittinggi), hingga Buya Hamka (kelahiran Maninjau)– Agus Salim layak ditabalkan sebagai guru bangsa bagi tokoh-tokoh tersebut , juga sebagai bapak bangsa bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sang begawan yang kerap diberi julukan the old fox karena kepiawaiannya bersilat lidah di dalam forum ini aktif bergerak merintis cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia sejak perjalanan dekade kedua abad ke-20. Pada medio itu, Agus Salim berjuang mengiringi sepak-terjang tokoh pergerakan terbesar rakyat Jawa, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, sebagai dwi tunggal Sarekat Islam yang kala itu menjadi sebuah organisasi pergerakan rakyat Indonesia yang terbesar.

Menjelang kemerdekaan Indonesia, Agus Salim turut berperan aktif untuk mempersiapkan berdirinya sebuah negara baru yang berdaulat dan terpilih sebagai anggota Panitia 9 Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bertugas menyusun rancangan Undang-Undang Dasar 1945.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dinyatakan Soekarno-Hatta di Jakarta pada 17 Agustus 1945, bukan berarti perjuangan telah berakhir, justru pada masa inilah perjuangan rakyat Indonesia memasuki masa-masa yang berat. Sebagai negara yang baru merdeka, Indonesia membutuhkan pengakuan dari negara-negara lain di dunia. Ketika para pejuang lainnya bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya Belanda, Agus Salim justru beringsut keluar mencari terang, mengambil jalan perjuangan yang tidak semua orang bisa melakukannya. Dengan tekad membara, kendati dengan kondisi finansial yang pas-pasan, bahwa kemerdekaan Indonesia harus dipertahankan dan diketahui dunia, Agus Salim dan rombongannya giat berkampanye ke dunia luar demi mendapat pengakuan atas kemerdekaan bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain dengan perjuangan lewat jalur diplomasi.

Bapak Diplomasi Indonesia
Tanggal 10 Juni 1947, Agus Salim menorehkan kegemilangan bagi diri dan bangsanya, ia sukses menggaet Mesir untuk menjalin kekerabatan intim dengan Indonesia. Mesir memantapkan dukungannya terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia sebagai negara yang bukan lagi bagian dari kekuasaan kolonial. Di bawah guratan tanda tangan Agus Salim selaku wakil dari Indonesia dan Perdana Menteri Mesir Nokrasi Pasya, disepakatilah sebuah perjanjian persahabatan antara kedua negara yang termaktub hitam di atas putih.
Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada akhir Maret dan awal April 1947, Agus Salim sudah berada di New Delhi, India, sebagai penasehat delegasi kontingen Indonesia dalam Inter-Asian Relations Conference (Konferensi Hubungan Antar-Asia). Selama di Delhi, orang tua bertubuh kecil dan berjanggut putih ini mampu memikat hati rakyat India karena keaktifan dan kelincahannya.

Di India, Agus Salim yang kala itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, menjalin hubungan dan berdialog dengan para pemimpin India, baik yang tergabung dalam Indian National Congress seperti Jawaharlal Nehru, maupun tokoh-tokoh politik Indonesia semisal Muhammad Ali Jinnah dari All-India Moslem League. Di hadapan mereka, Agus Salim berbicara dan berorasi dengan sangat baik, sehingga membuat para tokoh India itu terkagum-kagum. Inilah upaya Agus Salim untuk menarik simpati dunia demi satu tujuan: dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia (M. Safrinal [ed.], 2006).

Setelah Mesir dan India jatuh ke pelukan, Agus Salim melanjutkan perjuangannya ke wilayah Asia yang lain, kali ini Timur Tengah yang dibidik. Dalam waktu yang relatif tidak begitu lama, bersepakatlah Liga Arab yang dimotori Saudi Arabia, Lebanon, Suriah, Yordania, serta Yaman, untuk mendukung berdirinya negara Republik Indonesia berkat uluran persahabatan dari Agus Salim.

Sejak lahirnya negara Republik Indonesia, Agus Salim memang telah mantap menempati posisinya dalam bidang hubungan luar negeri. Pada Kabinet Sjahrir II (1946) dan Kabinet III (1947), Agus Salim ditunjuk sebagai Menteri Muda Luar Negeri. Tidak lama kemudian, yakni pada era Kabinet Amir Sjarifuddin (1947), Agus Salim memegang peranan sebagai Menteri Luar Negeri. Pada kurun 1948-1949, Agus Salim kembali menjadi dipercaya untuk menjabat Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta. Pada masa ini, Agus Salim berperan aktif dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang kemudian secara de jure mengakhiri perseteruan dengan Belanda. Tindak lanjut dari kesepakatan KMB ini pada akhirnya membuat Belanda harus menyerahkan dan mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949.

Setelah Indonesia benar-benar menjadi negara yang berdaulat, kepercayaan terhadap Agus Salim semakin kuat. Orang tua berjuluk the grand old man ini didaulat lagi untuk menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada Kabinet Presidentil. Selanjutnya, tahun 1950, Agus Salim didapuk untuk mengampu jabatan sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri. Agus Salim menunaikan tugas ini hingga akhir hayatnya. Tokoh bangsa bernama asli Masyudul Haq ini menghembuskan nafas penghabisan pada 4 November 1954 di Jakarta.

Ahli Diplomasi Sejak Usia Dini
Sesungguhnya Agus Salim adalah pengusung tradisi diplomatik angkatan pertama dalam sejarah Indonesia. Karir diplomatiknya diawali dengan diangkatnya Agus Salim sebagai konsulat di Jeddah, Arab Saudi, pada kurun 1906-1911. Pengangkatan ini terwujud berkat rekomendasi ilmuwan dan ahli politik Hindia Belanda, Prof. Snouck Hurgronje. Agus Salim pernah mengungkapkan hal ini dalam suatu kesempatan, yakni pada 1953 ketika Agus Salim menyampaikan pidato di Cornell University, Amerika Serikat, sebagai dosen tamu. Berikut ini nukilan pengakuan Agus Salim dalam pidatonya tersebut:

“Ia (Snouck Hurgronje) nasihatkan aku agar tidak usah studi dokter ke Belanda. Sebaliknya, ia menawarkan gagasan yang menurut pendapatnya lebih baik. Maka pada suatu hari aku menerima surat dari kementerian luar negeri Belanda, yang juga ditanda-tangani oleh sekretaris Gubernur Jenderal, menawarkan kepada saya untuk masuk dinas luar Belanda, untuk menempati posisi di Jeddah, Saudi Arabia.

Ketika itu telah tahun 1905, padahal sejak saya lulus HBS tahun 1903, secara prinsip, saya menolak untuk menjadi pegawai pemerintah kolonial di negara saya sendiri! Ayah saya menjelaskan bahwa kini yang menawarkan pekerjaan bukan pemerintah Hindia Belanda, melainkan pemerintah Belanda langsung.” (Panitia Buku Peringatan, 1996).

Snouck Hurgronje, yang berperan vital sebagai peletak dasar politik Islam pemerintah kolonial Hindia Belanda, rupanya sudah sejak lama mengamati Agus Salim dan dengan terus terang menilainya sebagai intelektual muda yang cerdas, mempunyai pikiran yang tajam, dan keberanian yang luar biasa untuk ukuran orang Melayu (Republika, 27 Oktober 2001). Kecemerlangan Agus Salim memang sudah terlihat sejak dini, dia menjadi lulusan terbaik Hogeere Burger School (HBS), sekolah menengah untuk kalangan Eropa dan Bumiputera yang dipersamakan, se-Hindia Belanda. Prestasi yang dicapai Agus Salim sempat membuat R.A. Kartini kagum dan kemudian menganjurkan kepada pemerintah Hindia Belanda agar beasiswa yang disediakan baginya diberikan saja kepada Agus Salim, karena Kartini sendiri tidak dapat mempergunakannya karena di waktu yang sama, ia harus segera menikah (Deliar Noer, www.republika.co.id)

Meskipun demikian, harapan Agus Salim muda untuk mendapatkan beasiswa sekolah kedokteran di Belanda kandas karena dia seorang pribumi. Pemerintah kolonial Hindia Belanda merespon permohonan Agus Salim dengan jawaban: tiada beasiswa untuk inlander. Pada waktu itulah datang tawaran dari Snouck Hurgronje untuk menempati posisi sebagai konsulat di Jeddah, dan momen inilah yang sebenarnya merupakan awal kiprah Agus Salim dalam bidang diplomasi.

Selain tentu saja pengalamannya menjadi konsulat di Jeddah, sebagai sang pemula tradisi diplomasi pribumi, kecakapan dan ketangguhan Salim dalam urusan debat dan negoisasi ternyata sudah teruji di masa-masa sebelumnya. Pada tahun 1927, Agus Salim sudah hadir pada Muktamar Alam Islami di Mekkah dan sempat berdialog panjang dengan penguasa Saudi Arabia yang terkesan atas cita-cita Agus Salim dalam upaya menyadarkan rakyat Indonesia agar terbebas dari cengkeraman bangsa asing.

Hasil dari interaksi ini Agus Salim memperoleh dana untuk menerbitkan surat kabar Fadjar Asia, terbit tahun 1927 hingga 1930. Fadjar Asia adalah koran yang diterbitkan Agus Salim bersama Tjokroaminoto sebagai media pembela kepentingan rakyat yang tertindas akibat kebijakan pemerintah kolonial (Muhidin M. Dahlan [ed.], 2007). Di sinilah duet dwi tunggal Sarekat Islam, Tjokroaminoto-Agus Salim, berharmonisasi saling melengkapi: Tjokroaminoto menjadi “raja” di Jawa, sedangkan Agus Salim melebarkan sayap untuk go internasional dengan menghadiri berbagai acara di mancanegara.

Tak hanya itu, pada 1929-1930, Himpunan Serikat Buruh Belanda yang bermarkas di Amsterdam, mengangkat Agus Salim sebagai penasehat penuh mereka untuk menghadiri event Konferensi Buruh Sedunia (ILO) di Jenewa, Swiss. Di sinilah Agus Salim berbicara lantang kepada semesta raya tentang kekejian pemerintah kolonial Belanda terhadap bangsa Indonesia. Mata dunia terbelalak mendengar kecaman Agus Salim yang diserukan fasih dengan bahasa Belanda, Inggris, Jerman, serta Prancis itu. Akibat dari gugatan Agus Salim di forum internasional tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda terpaksa harus mengubah politik kolonialismenya karena semenjak itu, Amerika Serikat dan sebagian negara-negara Eropa tidak mau lagi membeli hasil perkebunan Hindia Belanda yang dianggap sebagai hasil kekejaman Belanda terhadap rakyat Indonesia.

Dari pengalaman-pengalaman berbicara di tingkat internasional itulah wawasan serta talenta bertutur Agus Salim terus mengalami kemajuan. Pengetahuannya tentang tata cara diplomasi sama rincinya dengan pemahamannya tentang Islam, Al-Qur’an, dan Hadits. Agus Salim mulai membangun citranya sebagai penggagas tradisi diplomasi yang kelak sangat berguna bagi negara Indonesia untuk mempertegas jatidiri sebagai bangsa yang merdeka. Dengan modal pengalaman dan jam terbang yang panjang dalam riwayat pergerakan nasional, jejak-langkah Agus Salim semakin terlihat jelas yang kemudian menabalkan perannya sebagai Bapak Bangsa yang ikut menyangga rusuk tegaknya Republik Indonesia (Safrinal [ed.], 2006).

Bapak Bangsa Bagi Para Tokoh Bangsa
Agus Salim memang ulung dalam urusan mengolah kata. Ia dikenal sebagai singa podium di dalam kancah perpolitikan di era pergerakan nasional. Agus Salim adalah penguasa arena debat, raja adu mulut, dengan perkataannya yang lugas, berisi, dan tidak jarang bernada sensasional. Sindiran berbalut humor yang dilontarkan Agus Salim sangat tajam dan mengena sehingga membuat sasarannya tidak bisa berkutik.
Tokoh terkemuka asal Belanda, Prof. Schermerhorn, mengakui kecemerlangan intelektual Agus Salim.

Seperti yang dikutip sejarawan Asvi Warman Adam dalam artikelnya, Schermerhorn pernah berujar, “Orang tua yang sangat pandai ini seorang jenius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat.” (Asvi Warman Adam, Kompas, 21 Agustus 2004).

Agus Salim adalah seorang agamis yang berpikiran luas lagi moderat. Sejarawan kelahiran Sumatra Barat, Taufik Abdullah, menyebut gerakan politik Agus Salim dengan nama “politik jalan melingkar”. Gaya politik seperti ini, sebut Taufik Abdullah, identik dengan manuver yang elastis namun efektif. Metode awal gerakan Agus Salim cenderung kooperatif, akan tetapi kemudian menjadi agak radikal, sebelum kemudian kembali melunak lagi. Ciri aksi “politik jalan melingkar” ini dilakukan Agus Salim karena pergaulannya yang sangat luas.

Agus Salim dekat dengan segala kalangan, bahkan dengan kelompok orang Belanda sekalipun. Lama menggauli kebiasaan Belanda membuat Agus Salim tidak pernah minder berinteraksi dengan bangsa yang mengklaim dirinya ras paling unggul itu, juga pada bangsa asing lainnya. Dengan menguasai banyak bahasa, Agus Salim mewujud menjadi seorang diplomat ulung. Tutur katanya yang khas itu senantiasa membawa keberhasilan dalam setiap misi diplomasi yang diemban Agus Salim (Panitia Buku Peringatan, 1996).

Peran Agus Salim sebagai bapak bangsa Indonesia tidak terbantahkan lagi. Tidak terhitung orang-orang besar yang menyanjung empunya orang besar ini. “The Grand Old Man Haji Agus Salim adalah seorang ulama dan intelek. Saya pernah meneguk air yang diberikan oleh Haji Agus Salim, sambil duduk ngelesot di bawah kakinya,” demikian Sukarno mengakui kebesaran gurunya itu.

Puja-puji senada juga disematkan para tokoh bangsa lainnya kepada Agus Salim. “Sikapnya yang tangkas itu memberikan garam dalam ucapannya. Biasanya terdapat dalam perdebatan atau tulisan yang menangkis serangan lawan atau dalam pertukaran pikiran yang berisikan lelucon. Di situlah terdapat apa yang dikatakan orang dalam bahasa Belanda: Salim op zijn best,” sanjung Mohammad Hatta terhadap seniornya itu (Panitia Buku Peringatan, 1996).

Buya Hamka mengalungkan segenap rasa takjub terhadap Agus Salim. Sastrawan, ulama, sekaligus aktivis politik, ini mengatakan, “Bila kita membicarakan manusia Agus Salim, kita teringat seorang pujangga, seorang filosof, seorang wartawan, seorang orator, seorang politikus, seorang pemimpin rakyat, seorang ulama. Jarang-jarang Tuhan memberikan manusia semacam itu ke dalam alam ini, apalagi kepada suatu bangsa.”
Paus sastra Indonesia, H.B. Jassin, tidak mau ketinggalan dan angkat topi terhadap pemikiran Agus Salim, “Dia ternyata tidak hanya membaca buku-buku politik dan agama saja, melainkan juga buku-buku sastra dan filsafat. Adalah aneh, seorang tokoh agama seperti dia menyenangi buku-buku Nietzsche, filsuf Jerman yang dianggap atheis itu.”

Tokoh-tokoh nasional era sekarang pun menyematkan kekaguman senada terhadap keistimewaan Agus Salim yang melegenda itu, termasuk Ahmad Syafii Ma’arif, yang juga putra daerah Sumatra Barat. “Agus Salim adalah pembela yang gigih terhadap sistem sosialisme plus Tuhan. Tetapi Salim menyadari betapa terbelakangnya pemikiran para ulama dalam menghadapi masalah-masalah besar sebagai realitas zaman yang berubah dengan cepat,” tutur mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.

Emil Salim, yang masih terhitung kerabat Agus Salim, merangkaikan kata-kata sebagai berikut, “Haji Agus Salim menempatkan perjuangan kemerdekaaan dan pembetukan negara dalam kerangka pengabdian dan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Pengusaha media nasional, Jakob Oetama, turut melafalkan puji, “Agus Salim dan para bapak bangsa lainnya unggul dalam pemikiran dan kecendekiawanan.”

Dari kalangan cendekiawan muda, Moeslim Abdurrahman bersuara, “Agus Salim adalah sumur intelektualitas dan kearifan yang pernah kita miliki, tetapi sayangnya sering kita lupakan. Intelektualitas Agus Salim telah dibuktikan lahir bukan dari spekulasi akademis, tetapi dari bagian lahirnya bangsa ini.”(Agus Salim, 2008). Terakhir, politikus sekaligus budayawan, Ridwan Saidi, menyimpulkan, “Ia (Agus Salim) adalah tokoh nasional yang memiliki secara sempurna kemampuan berpikir, memimpin, menulis, sekaligus berbicara.” (Republika, 21 Oktober 2001).

Dengan demikian jelaslah sudah, Agus Salim merupakan gurunya kaum guru, pemimpinnya para pemimpin, serta bapak negaranya kalangan negarawan. Agus Salim adalah putra kebanggaan Melayu yang dengan sadar merintis dan mengajarkan tradisi diplomasi demi tegaknya nama Indonesia di lingkungan peradaban dunia. Dari ranah Minang, Agus Salim merangkul alam raya. (Iswara N. Raditya/TOK3/12-2010)

Referensi:
Agus Salim. 2008. Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme. Jakarta: Gramedia.
Asvi Warman Adam. “Agus Salim Manusia Merdeka”, dalam Kompas, 21 Agustus 2004.
Darwin Bahar. “Koto Gadang, Tiap Rumah Ada Sarjana”, dalam Republika, 27 Oktober 2001.
Deliar Noer. “Haji Agus Salim dan Kekuatan Politik Islam”, dalam Republika, 27 Oktober 2001.
M. Nasruddin Anshoriy Ch & Djunaidi Tjakrawerdaya. 2008. Rekam Jejak Dokter Pejuang dan Pelopor Kebangkitan Nasional. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.
M. Safrinal. 2006. Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi. Yogyakarta: Ekspresibuku.
M. Zein Hassan. 1980. Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri; Perjoangan Pemuda/Mahasiswa Indonesia di Timur Tengah. Jakarta: Bulan Bintang.
Muhidin M. Dahlan (ed.). 2007. Seabad Pers Kebangsaan. Jakarta: Iboekoe.
Panitia Buku Peringatan. 1996. 100 tahun Haji Agus Salim. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Sumber Foto:
http://wiwapia.com/id/AR_Baswedan

8:26 PM | Posted in | Read More »

HARMOKO, “Menurut Petunjuk Bapak Presiden…”

Suara Harmoko kecil melantun keras, membacakan berita dari suratkabar yang dibawa para Tentara Pelajar di pengungsian. Ia memang diminta melakukan hal tersebut. “Coba baca ini, apa isinya?” pinta seorang tentara republik. Kala itu adalah masa revolusi fisik. Tentara dan rakyat bahu-membahu menangkal serangan Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia. Koran yang dibacakannya tersebut, seingat Harmoko yang waktu itu masih duduk di kelas dua Sekolah Rakyat, adalah suratkabar terbitan Surabaya yang diterbitkan Dr Soetomo.

Sedari belia, Harmoko bercita-cita membuat koran, bukannya menjadi tentara seperti kebanyakan anak-anak lain. “Mungkin karena melihat orang-orang mendengar berita yang saya baca semuanya manthuk-manthuk (mengangguk-angguk). Saya lantas berpikir, wah barang ini fungsinya besar sekali. Hebat benar, dari selembar kertas saja orang jadi tahu,” kenang Harmoko.

Di sebuah desa kecil di daerah Kertosono Jawa Timur, Harmoko dilahirkan pada 7 Februari 1939. Ia menempuh studi dari Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Semasa muda, pernah terlibat aktif dalam Himpunan Budaya Surakarta dan mengikuti pendidikan jurnalistik serta sempat menjajal Kursus Reguler Angkatan VII pada Lembaga Ketahanan Nasional.

Impian jurnalistik Harmoko mulai diretas ketika bekerja di harian Merdeka pada 1960 sebagai jurnalis dan kartunis. Sempat menjadi wartawan Badan Pendukung Soekarno (BPS), dibentuk pada 1 September 1964 sebagai wadah perlawanan terhadap pers komunis, Harmoko dikeluarkan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pasca BPS bubar. Tak lama, Harmoko justru bergabung ke suratkabar Angkatan Bersendjata dan harian API pada 1965. Setahun kemudian, Harmoko kembali ke Merdeka sebagai penanggungjawab redaksi sekaligus memimpin redaksi Merdiko, harian berbahasa jawa, sekurun 1966-1968. Selanjutnya, pada 1968, Harmoko menjabat pemimpin dan penanggungjawab harian Mimbar Kita.

Pada 15 Februari 1970, bersama Yachya Suryawinata dan kawan-kawan, Harmoko mendirikan Yayasan Antarkota yang bertujuan untuk mengembangkan usaha penerbitan yang dapat diterima rakyat. Hasilnya, lahirlah suratkabar Pos Kota pada 16 April 1970, Harmoko sebagai pemimpin redaksi. Segmen pembaca Pos Kota adalah kalangan menengah ke bawah dan tampil dengan gaya bahasa yang merakyat.  Pada 1973, Harmoko menerbitkan Pos Sore serta Pos Film dan Pos Mudi. Pada perkembangannya, Pos Sore kemudian berganti nama menjadi Terbit, sedangkan Pos Mudi berubah menjadi Warnasari pada 1979. Harmoko juga dipercaya sebagai pembantu ahli di majalah Ketahanan Rakyat sejak 1976.

Sebagai pemimpin redaksi, Harmoko adalah ujung tombak pengembangan sumber daya manusia di Pos Kota. Ia pernah mengikuti sebuah konferensi di Filipina bertajuk “One Asia Assembly”. Dalam laporannya yang berjudul Oleh-oleh dari Manila, Harmoko membandingkan peran pers di Filipina dengan di Indonesia. Ia memberi penekanan pada posisi pers dengan pemerintah, apakah akan menjadi “beo” ataukah mampu berperan atas dasar kebebasan pers.

Di Pos Kota, Harmoko mengampu rubrik kolom “Kopi Pagi” tentang analisisnya seputar peristiwa aktual di Indonesia. Di bawah Harmoko, Pos Kota, yang kemudian memosisikan berita-berita kriminalitas sebagai senjata utamanya, mewujud menjadi koran beroplah besar. Tiras Pos Kota pada 1983 bahkan mencapai angka 200.000 eksemplar. Pada kurun itu, Pos Kota adalah koran yang sangat populer di kalangan menengah ke bawah.

Harmoko merintis karir di PWI sebagai sekretaris PWI Jakarta Raya, Ketua PWI Jakarta Raya, dan kemudian didaulat sebagai Ketua Pelaksana PWI Pusat. Selain itu, ia juga memiliki saham di beberapa media lain. Menurut Mohammad Chudori, mantan Pemimpin Umum The Jakarta Post, Harmoko pernah memunyai saham di suratkabar The Jakarta Post dan Bisnis Indonesia.

Prestasi gemilang yang berhasil dicapai Harmoko membuat Presiden Soeharto kepincut dan merekrutnya sebagai Menteri Penerangan sejak 1982. Jabatan ini terus-menerus diembannya hingga 1997. Setelah rezim Orde Baru bubar, Departemen Penerangan dihapus. Lazimnya tradisi pemerintahan Orde Baru, Harmoko juga duduk di kursi anggota dewan, bahkan kemudian menjadi Ketua DPR/MPR RI, juga sebagai Ketua Umum Golkar.

Awal Januari 1984, Harmoko memimpin perhelatan besar, Indonesia menjadi tuan rumah Konperensi Menteri Penerangan Nonblok, atau Cominac, yang berlangsung di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Menurut Menpen RI, arus informasi dan komunikasi sudah sepenuhnya dikuasai negara-negara maju. Bahkan, pers Barat seringkali mengusik negara-negara Dunia Ketiga dengan pemberitaan yang cenderung negatif sehingga membentuk citra buruk terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia beserta sistem persnya. Maka, diselenggarakanlah konperensi yang diikuti 101 negara berkembang itu. Tujuan utamanya adalah, “Untuk mengurangi ketergantungan negara-negara nonblok kepada negara maju akan informasi dan komunikasi,” kata Harmoko.

Sepanjang perjalanan karirnya di pers nasional, Harmoko terlibat dalam beberapa organisasi jurnalistik, di antaranya sebagai pengurus Serikat Grafika Pers (SGP), berdiri pada 13 April 1974, yang sejak 1978 dikukuhkan sebagai satu-satunya organisasi percetakan pers di Indonesia. Harmoko tercatat pula dalam kepengurusan Badan Sensor Film, Konsultan Proyek Pembinaan dan Pengembangan Pers Departemen Penerangan, pengurus Dewan Pers, Wakil Presiden Konfederasi Wartawan ASEAN, serta terpilih sebagai Ketua Inter Goverment Council (IGC) periode 1984-1987. Ia juga menggagas gerakan Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa alias Kelompencapir sebagai media untuk menyampaikan informasi dari pemerintah.

Sebagai abdi pemerintah, Harmoko sangat taat aturan. “Profesi pers Indonesia merupakan pencerminan jatidiri dalam tatanan sistem pers nasional, yaitu Sistem Pers Pancasila yang sekaligus mengemban fungsi sebagai pers pembangunan,” ucap Harmoko selaku Menteri Penerangan. Pers nasional, lanjut Pak Menteri, adalah Pers Pancasila dalam arti pers yang berorientasi, bersikap, dan bertingkah laku berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Terjadilah kebijakan pembredelan suratkabar pada masa Menteri Penerangan Harmoko, salahsatunya pada 1994 ketika surat ijin terbit beberapa media, termasuk DeTIK, Tempo, dan Editor, dicabut. Menanggapi opini publik atas peristiwa itu, Harmoko berkilah atas nama undang-undang, “Darah daging saya wartawan, tapi jabatan saya tidak bisa saya lepaskan karena melaksanakan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.” Menurutnya, wartawan harus tahu kode etik jurnalistik agar tak terjerat oleh sanksi dan peraturan. Kepatuhan Harmoko menjadikannya sebagai anak kesayangan Soeharto. Bukan hal yang aneh jika nyaris dalam setiap pernyataannya Harmoko selalu mengawali dengan kalimat: “Menurut petunjuk bapak Presiden….”

Hanya sempat terlihat sekejap sebagai Ketua MPR pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie yang menggantikan Soeharto, Harmoko seterusnya menghilang tanpa jejak. Namun, perannya di belantika pers nasional patut dihargai. Kiprah Harmoko selama itu bukan hanya sekadar hari-hari omong kosong. Sepak-terjangnya sebagai jurnalis, terutama melalui Pos Kota dan Menteri Penerangan di era Orde Baru, cukup berpengaruh dalam perjalanan sejarah pers Indonesia. (Iswara N. Raditya/TOK2/12-2010)

8:24 PM | Posted in , | Read More »

Rumah Ibu Inggit Menjadi Rumah Bersejarah

Sejarah-harian - Rumah yang pernah ditempati Ibu Inggit Garnasi di Jalan Inggit Garnasih (dulu Jalan Ciateul) No. 8, Bandung, diresmikan menjadi Rumah Bersejarah pada Kamis, 23/12/2010. Peresmian tersebut dilakukan oleh istri Gubernur Jawa Barat, Ny. Ny. Netty Prasetyani Heryawan.

“Upaya pemerintah provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat menjadikan rumah tinggal Ibu Inggit Garnasih merupakan suatu hal yang sangat positif. Bukan hanya dipandang dari sisi menghargai jasa-jasa para pahlawan, tetapi juga diharapkan apa yang dilakukan Ibu Inggit menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi wanita Jawa Barat,” ujar Ny. Netty dalam sambutannya. (pikiran-rakyat.com)

Acara tersebut dihadiri oleh Ny. Sendy Dede Yusuf, Kadisparbud Jabar Ir. Herdiwan Iing Suranta, H. Syafik Umar (Dirut PT Pikiran Rakyat Bandung), Ny. Ratna Djuami beserta putra-putrinya, dan jajaran Disparbud Jabar serta masyarakat sekitar.

Sebelum diresmikan sebagai Rumah Bersejarah, rumah tersebut dalam kondisi memprihatinkan. Sebelumnya telah muncul wacana untuk menjadikan rumah tersebut sebagai museum terbuka.

Terkait dengan usulan untuk menjadikan rumah Ibu Inggit sebagai museum terbuka, Kadisparbud Ir. Herdiwan menyatakan,"Dijadikannya rumah bersejarah sebagai cikal bakal untuk menjadikannya museum. Tapi, sepertinya terlalu jauh untuk menjadikannya rumah Ibu Inggit sebagai museum, karena banyak persyaratan yang harus dilengkapi. Seperti koleksi yang digunakan si pelaku sejarah harus banyak dan komplet. Saat ini kita baru memiliki empat item, di antaranya meja dan batu pipihan." (klik-galamedia.com)

Lebih lanjut, Ir. Herdiwan menjelaskan, rumah Inggit sudah dibeli Pemprov Jabar sejak 1993. Namun, selama itu rumah tersebut tidak pernah dijadikan tempat apa pun, hanya dibiarkan begitu saja sehingga telihat kumuh. Baru setelah dirinya menjabat Kepala Disparbud Jabar, ada inisiatif untuk menjadikannya rumah bersejarah.

Pemprov Jabar membeli rumah Ibu Inggit pada 1993 seharga Rp 350 juta dari ahli warisnya. Pada 1994, Disparbud merenovasi rumah tersebut. Peresmian rumah tersebut menjadi Rumah Bersejarah sendiri memakan anggaran sekitar Rp 40 juta. (AI/BER9/12-2010)

Sumber: pikiran-rakyat.com, klik-gramedia.com
Sumber ilustrasi: pikiran-rakyat.com

5:03 PM | Posted in , , | Read More »

Amal, bukan Politis

Kita mengakui, ibu adalah sosok yang memang sangat layak untuk dihormati. Hal ini telah begitu jelas sehingga tidak perlu diuraikan lagi. Apatah lagi dipersoalkan. Sehingga setiap kali Hari Ibu tiba, kita selalu bersedia memberikan penghormatan kepada ibu dengan pelbagai cara. Salah satu cara yang populer dipraktikkan sepanjang sejarah oleh masyarakat adalah mempersilakan ibu untuk “beristirahat” selama satu hari penuh dari pekerjaan rutinnya di ranah domestik.

Hari Ibu memiliki sejarah yang sangat tua. Tradisi ini dimulai sejak zaman Yunani Kuno. Kala itu, orang Yunani menggelar festival untuk menghormati Rhea, ibunda para dewa. Tradisi ini selanjutnya diadopsi oleh orang Romawi yang menggelar festival untuk Cybele, ibunda para dewa yang mereka puja. Ketika agama Kristen menyebar luas di Inggris, gereja mengadopsi festival ini untuk menghormati Bunda Maria, ibunda Yesus Kristus.

Sejak sekitar abad ke-16, gereja menetapkan bahwa perayaan ini dilaksanakan pada hari Minggu keempat Lent (Pra-Paskah). Pada hari tersebut, para pelayan wanita yang bekerja di pelbagai puri dan kastil di Inggris sengaja diliburkan agar mereka dapat berkumpul dengan ibu masing-masing sehingga hari tersebut dinamakan Mothering Sunday. Tradisi inilah yang kemudian menyebar luas ke seluruh dunia sehingga kini hampir semua negara mengakui adanya Hari Ibu walaupun dengan tanggal yang berbeda-beda. Oleh karena itu Hari Ibu pada awalnya dapat dikatakan memiliki dimensi religius Kristiani.

Namun, berbeda dari Hari Ibu yang dirayakan di sebagian besar negara di dunia, Hari Ibu di Indonesia pada awalnya lebih banyak mengandung dimensi politis. Hal ini terlihat jelas dari tanggal yang dipilih sebagai Hari Ibu. Tanggal 22 Desember merupakan hari pertama dilaksanakannya Kongres Perempuan Indonesia pertama yang berlangsung 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Sepuluh tahun kemudian, kongres yang sama jugalah yang meresmikan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Penetapan tanggal tersebut selanjutnya dikukuhkan setelah Indonesia merdeka, yaitu dengan Keppres tertanggal 16 Desember 1959.

Walaupun memiliki asal-usul yang berdimensi politis, namun kurang tepat jika Hari Ibu pada saat ini tetap diperingati secara politis juga. Jika terlalu berlebihan, dimensi politis tersebut akan mencederai semangat penghormatan terhadap sosok ibu. Misalnya, kurang tepat bila sekarang kita membahas tentang kuota perempuan di parlemen karena topik seperti ini akan membawa kita pada polemik dan konflik. Cara memperingati Hari Ibu yang paling tepat adalah refleksi, resolusi, dan aktivasi.

Pada taraf refleksi, kita perlu mengingat kembali jasa-jasa sosok seorang ibu. Kita akan menemukan bahwa ibu pada pada dasarnya memang seperti yang dinyanyikan dalam lagu “Kasih Ibu”: tak terhingga sepanjang masa. Memang ada beberapa kasus di mana sosok ibu justru tidak mau menerima makhluk yang dilahirkannya sendiri, yaitu para ibu yang melakukan aborsi karena tidak ingin melahirkan anak, masih terlalu muda, masih bersekolah dan lain-lain. Namun, persentase kasus semacam ini sangat kecil dan cenderung dapat dikategorikan sebagai patologi sosial – fakta sosial yang bukan merupakan esensi sosok ibu. Oleh karena itu sosok ibu yang kasihnya tak terhingga sepanjang masa adalah sosok yang universal.

Setelah mengingat dan merenungkan kembali kasih sayang, jerih payah dan jasa-jasa sosok ibu bagi anak, kita akan memperoleh pemahaman tentang hakikat sosok ibu bagi masing-masing anak. Selanjutnya, akan muncul sebuah resolusi atau pernyataan – entah diucapkan secara verbal atau tidak – untuk menentukan sikap dan perilaku kepada sosok ibu. Tentu saja diharapkan sikap dan perilaku itu adalah sikap dan perilaku yang patut – walaupun pada dasarnya setiap anak tidak akan pernah dapat membalas jasa-jasa seorang ibu.

Refleksi dan resolusi hanya bisa diukur secara kualitatif atau diinterpretasi. Oleh karena itu taraf ketiga menyempurnakan wujud apresiasi kepada sosok ibu. Pada taraf aktivasi, pelbagai refleksi dan resolusi itu diamalkan dalam sikap dan perilaku. Sikap dan perilaku yang baik adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan penghormatan, penghargaan dan kasih sayang kepada sosok ibu. Pada taraf inilah kita bisa mengukur secara kuantitatif kadar apresiasi kita kepada ibu, misalnya berapa kali kita bersikap ramah dan bersedia membantu ibu dalam urusan-urusan domestiknya.

Walaupun demikian, kita percaya bahwa sosok ibu memiliki naluri khas yang mampu melihat upaya apresiasi – atau diaspresiasi – yang dicoba dimunculkan oleh anaknya. Hanya ibulah, sebagai sosok ibu sekaligus penerima apresiasi, yang dapat melihat apakah apresiasi sang anak memang tulus atau tercemari dengan kepentingan-kepentingan yang justru akan mencederai penghormatan dan penghargaan terhadap sosok ibu.

Bukan sekadar slogan politis dan sosial, melainkan tindakan nyata di lapangan. Itulah yang selalu harus kita lakukan, bukan hanya pada saat Hari Ibu, melainkan sepanjang waktu. Selamat Hari Ibu, salam sejahtera untuk para ibu.***


Ismanto, pengamat masalah-masalah sosial

Sumber ilustrasi: belajarngobrol.blogspot.com

7:12 AM | Posted in | Read More »

Perjanjian Linggarjati di Rumah Sutan Sjahrir


Delegasi Belanda berangkat dari Jakarta dengan menumpang kapal terbang “Catalina” yang mendarat dan berlabuh di luar Cirebon. Dari “Catalina”, mereka pindah ke kapal perang “Banckert” yang kemudian menjadi hotel terapung selama perjanjian berlangsung. Delegasi Indonesia yang dipimpin Sjahrir menginap di desa Linggasama, sebuah desa dekat Linggarjati. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta sendiri menginap di kediaman Bupati Kuningan.

Setelah kedua delegasi mengadakan perundingan pada tanggal 11-12 November 1946 yang ditengahi oleh Lord Kilearn, maka dihasilkan beberapa asas dan pokok persetujuan, di antaranya :

  1. Pemerintah Belanda mengakui Pemerintah Republik Indonesia secara “de facto” menjalankan kekuasaan atas Jawa, Madura dan Sumatera.
  2. Pemerintah Belanda dan Pemerintah Republik Indonesia bekerja sama supaya terbentuk Negara Indonesia Serikat (NIS) yang berdaulat dan merdeka atas dasar asas demokratis dan federal.
  3. Wilayah Negara Indonesia Serikat (NIS) meliputi seluruh wilayah Hindia Belanda.
  4. Bagian Negara Indonesia Serikat (NIS) adalah : Daerah Republik, Kalimantan dan Negara Indonesia Timur.
  5. UUD Negara Indonesia Serikat akan ditetapkan oleh suatu sidang konstituante yang akan dibentuk dan terdiri dari utusan-utusan republik dan daerah-daerah NIS lain yang ditunjuk secara demokratis.
  6. Pemerintah Belanda dan Pemerintah Republik akan bekerja sama untuk kepentingan bersama Negeri Belanda dan Indonesia supaya terbentuk suatu Uni Indonesia-Belanda.
  7. Uni Indonesia-Belanda dikepalai oleh Raja/Ratu Belanda. Keputusan-keputusan untuk membela kepentingan bersama akan diambil oleh badan-badan uni atas nama Raja.

Persetujuan Linggarjati kemudian diparaf oleh Schermerhorn dan Sjahrir di rumah kediaman Sjahrir di Jakarta pada tanggal 15 November 1946. KNIP sendiri kemudian meratifikasi perjanjian tersebut pada bulan Februari 1947, setelah memperbanyak jumlah anggotanya dari 200 menjadi 514 orang, karena sebagian besar anggota KNIP yang lama menolak isi persetujuan tersebut, ditambah atas campur tangan Soekarno-Hatta yang akan meletakan jabatan jika persetujuan Linggarjati tidak disetujui.

Persetujuan Linggarjati ditandatangani dengan khidmat di Istana Rijswijk (kini Istana Negara) pada 25 Maret 1947.

Sumber narasi: umum.kompasiana.com

5:57 PM | Posted in | Read More »

Solo, 1929: Kongres Muhammadiyah


Semenjak kepemimpinan KH. Ibrahim, kemajuan Muhammadiyah begitu pesat. Muhammadiyah berkembang di seluruh Indonesia, dan meresap di seluruh Jawa dan Madura. Kongres-kongres mulai diselenggarakan di luar kota Yogyakarta, seperti Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya, Kongres Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan, Kongres Muhammadiyah ke-17 di Solo, Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi, Kongres Muhammadiyah ke-21 di Makasar, dan Kongres Muhammadiyah ke-22 di Semarang. Dengan berpindah-pindahnya tempat kongres tersebut, maka Muhammadiyah dapat meluas ke seluruh wilayah Indonesia.

Sumber foto: J. Th. Petrus Blumberger, De Nationalistiche Beweging in Nederlandsch-Indie dalam Parakitri T. Simbolon, 2006. Menjadi Indonesia. Jakarta: Penerbit Kompas. Hal.: 783.
Sumber narasi: muhammadiyah.or.id

5:38 PM | Posted in | Read More »

Game Palagan Ambarawa Diluncurkan

Sejarah-harian – Palagan Ambarawa memang tidak setenar pertempuran 10 November 1945 yang diperingati sebagai Hari Pahlawan. Namun, Palagan Ambarawa tetap merupakan salah satu  peristiwa bersejarah yang penting dalam periode perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Sekelompok mahasiswa dari jurusan Sistem Informasi dan Teknik Informatika ITS (Institut Teknik Surabaya), dibantu tim pembimbing dari Teknik Informatika institut tersebut, meluncurkan game komputer PAHLAWA (singkatan dari Palagan Ambarawa) pada hari Senin, 20 Desember 2010, di ruang aula Jurusan Teknik Informatika ITS Surabaya.

“Game ini dibuat untuk memperingati tanggal 15 Desember. Tanggal 15 Desembr adalah peringatan Hari Juang kartika. Sebelumnya, tanggal ini diberi nama Hari Infanteri. Walaupun mungkin tak setenar tanggal 10 Novmber, tanggal 15 Desember adalah hari yang perlu dikenang oleh bangsa ini,” kata salah satu dosen pmbimbing mahasiswa, Imam Kuswardayan, kepada detiksurabaya.com.

Game yang dikerjakan selama sekitar dua bulan ini merupakan karya ke-4 gameedukasi.com dan bergenre first person shooter (FPS). Pemain akan memerankan salah satu pejuang Palagan Ambarawa. Misi-misi yang harus diselesaikan dissuaikan dengan rangkaian peristiwa dalam pertempuran tersebut, yaitu pertempuran di Magelang, insiden di Desa Jambu, serangan Benteng Ambarawa, dan pertempuran Ambarawa.

Game ini bersifat edukatif karena disisipi dengan narasi teks dan video yang berkaitan dengan kornologi terjadinya pertempuran bersejarah tersbut. Salah satu contoh narasi teks adalah: “Sejak gugurnya Letnan Kolonel Isdiman, Panglima Besar Jendral Soedirman merasa kehilangan perwira terbaik dan ia langsung turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran. Hingga terjadilah Palagan (Pertempuran) Ambarawa melawan sekutu dengan pasukan dan senjata yang jauh lebih kuat”.

Menurut rencana, game ini akan diunggah di situs web gameedukasi.com dan dibagikan kepada publik melalui rapidshare. System requirement atau spsifikasi komputer yang diperlukan untuk untuk game ini adalah OS Windows 2000, XP, Vista, 7 dengan update DirectX terbaru, CPU minimalPentium III 1 Ghz, 512 MB RAM, hard disk 400 Mb, serta Graphics card DirectX x9.0c compatible with 64 Mb memori. (AI/BER7/12-2010)

Sumber: republika.co.id, detik.com, detiksurabaya, gameedukasi.com
Sumbr ilustrasi: gameedukasi.com

12:21 PM | Posted in , , | Read More »

Terlantar: Makam Raja Johor di Aceh

Sejarah-harian – Sebuah makam bersejarah ditemukan dalam kondisi terlantar di Aceh. Analisa (20/12/2010) melaporkan, situs makam terlantar tersebut adalah makam raja Johor yang terletak di Desa Mesjid Bluk, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara.

Makam tersebut telah lama tidak dibersihkan secara teratur maupun dipugar. Situs makam ini kini hanya berupa onggokan batu nisan dengan aksara Arab.

Tokoh warga desa setempat, Musliadi dan M. Adam, menyatakan bahwa onggokan batu tersebut bari diketahui sebagai makam raja Johor setelah dilakukan penelitian oleh ahli sejarah Aceh pada 2008. Makam tersebut telah ada sejak 1637 H.

Sebelum ditemukan oleh peneliti, sebagian besar dari situs tersebut tertimbun tanah. Hanya sedikit saja bagian makam yang muncul ke permukaan. Kini, makam tersebut telah dibenahi oleh peneliti sehingga dapat terlihat.

Sebenarnya di samping makam itu ada satu makam lagi, namun sudah hilang karena lahan tempatnya berada diubah menjadi saluran irigasi.

Peneliti yang melakukan penggalian dan penelitian atas makam tersebut dua kali turun ke lokasi. Pertama, saat melakukan penggalian dan kedua, saat melakukan peninjauan kembali terhadap hasil penemuan.

Musliadi menyatakan, warga setempat sangat mengharapkan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh segera mendirikan sebuah bangunan makam yang indah agar tingkat kunjungan dari keluarga maupun masyarakat umum ke makam tersebut meningkat. (AI/BER7/12-2010)


Catatan editor: ilustrasi bukan gambar makam sebenarnya.

Sumber: Analisa
Sumber ilustrasi: donribwan.blogspot.com

7:51 PM | Posted in , , | Read More »

Situs Indonesia Prasasti

Situs Indonesia Prasasti

9:11 AM | Posted in | Read More »

Situs Amerika

Situs Amerika

8:16 AM | Posted in , | Read More »

Situs Eropa

Situs Eropa

8:16 AM | Posted in , | Read More »

Situs Afrika

Situs Afrika

8:16 AM | Posted in , | Read More »

Situs Asia

Situs Asia

8:15 AM | Posted in , | Read More »

Situs Indonesia Monumen

Situs Indonesia Monumen

8:12 AM | Posted in , , | Read More »

Situs Indonesia Makam

Situs Indonesia Makam

8:12 AM | Posted in , , | Read More »

Situs Indonesia Candi

Situs Indonesia Candi

8:12 AM | Posted in , , | Read More »

Situs Indonesia Kerajaan

Situs Indonesia Kerajaan

8:11 AM | Posted in , , | Read More »

Perpustakaan Keliling YKBK Bali Beroperasi

Sejarah-harian – YKBK (Yayasan Kepustakaan Bung Karno) Bali mulai mengoperasikan sebuah mobil perpustakaan keliling. Bali Post (17/12/2010) melaporkan, mobil tersebut diterima langsung Ketua YKBK Gus Marhaen dan diresmikan penggunaannya oleh Danrem 163/Wisaratya Jacob Djoko Sarosa, Senin (13/12) di Universitas Mahendradatta, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, Bali.

Mobil perpustakaan keliling ini merupakan sumbangan dari Perpusnas RI sebagai bentuk apresiasi terhadap YKBK yang cermat dalam mengoleksi pelbagai literatur tentang sejarah bangsa Indonesia dan peradaban bangsa di dunia. YKBK tidak hanya mengoleksi buku-buku sejarah tetapi juga dokumen-dokumen dan foto yang bercerita tentang perjalanan bangsa Indonesia.

Kolonel Jacob Djoko Sarosa mengungkapkan, mobil perpustakaan keliling ini hendaknya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas, terutama mereka yang tinggal di perdesaan. Danrem juga menyatakan rasa bangganya terhadap YKBK, terutama Gus Marhaen, yang menaruh kepedulian tinggi kepada literatur sejarah bangasa Indonesia.

Gus Marhaen sebagai Ketua YKBK mengharapkan, mobil perpustakaan keliling yang baru saja diterima lembaganya dapat merangasang minat baca masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap sejarah bangsa Indonesia.

Dalam acara serah terima mobil tersebut, Gus Marhaen juga memberikan tiga buah buku kepada tiga tokoh masyarakat Bali. Buku pertama, Amanat Negara pada Pembukaan Sidang DPR GR, diserahkan kepada Ketua DPRD Bali Cok Rat. Buku kedua, Djaga Djangan Sampai Revolusi Indonesia Bisa Ditjegat Orang, diserahkan kepada Kajari Denpasar Heru Siswanto. Sedangkan buku ketiga, Membendung Aliran Separatisme Menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia, diserahkan kepada Danrem 163/Wirasatya Kol. Inf. Jacob Djoko Sarosa. (AI/BER6/12-2010)
Sumber: Bali Post, 17 Desember 2010
Sumber ilustrasi: cendela-ilmu.blogspot.com

7:55 AM | Posted in , , | Read More »

Situs Maya Rusak

Sejarah-harian – Sebuah reruntuhan kompleks permukiman Maya purba, yang berusia sekitar 2300 tahun dan terletak di tenggara negara bagian Yucatan, Mexico, rusak.

Latinofoxnews melaporkan, kerusakan tersebut disebabkan oleh alat-alat berat yang digunakan untuk membersihkan lahan yang akan dijadikan sebagai padang penggembalaan milik sebuah peternakan swasta.

Menurut para ahli di National Anthropology and History Institute, atau INAH, situs Maya di dekat kota Chicxulub berasal dari tahun 300 SM Periode Praklasik dan terdaftar sebagai No. 15 dalam katalog arkeologis Yucatan.

INAH telah mengetahui keberadaan situs tersebut dan mengambil langkah cepat. Langkah pertama adalah mengirikan tim koordinasi nasional untuk masalah hukum dan arkeologis ke Yucatan. Tim tersebut menyiapkan penilaian teknis atas kerusakan yang terjadi.

Pada pemeriksaan sebelumnya, yang dilakukan oleh arkeolog Angel Gongora dan Victor Castillo, ditemukan bahwa permukiman Maya purba tersebut mencakup lahan seluas 1 km2 (250 acre). Situs tersebut menderita kerusakan “yang tak dapat diperbaiki” karena inti permukiman terpengaruh secara langsung.

Di antara lahan yang telah dibersihkan dengan alat berat, kedua pakar tersebut menemukan sisa-sisa dinding, atap dan tangga, serta bongkahan batu dari pilar bulat yang dipercaya sebagai portico salah satu bangunan.

Artefak lain yang juga rusak adalah tujuh bangunan dan dua altar yang terletak di tengah lapangan utama. Bangunan terbesar memiliki tinggi lebih dari 3 meter.

Ricardo Ascencio Maldonado, pemilik lahan, mula-mula menyatakan tidak tahu-menahu tentang situs tersebut. Namun, dia kemudian mengakui bahwa pembersihan lahan dilakukan untuk meratakan tanah yang akan dijadikan sebagai padang penggembalaan.

Maldonado menyatakan, dia membeli lahan tersebut tiga bulan sebelumnya dan tidak tahu bahwa di situ terdapat sebuah situs arkeologi. (AI/BER5/12-2010)

Sumber: Latinofoxnews
Sumber ilustrasi: anthonychami.blogspot.com

6:29 AM | Posted in , | Read More »